Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Apa salahku?


__ADS_3

Hari ini langit terlihat begitu cerah dengan pancar sinar mentari yang begitu terang menyinari dedaunan. Hangatnya mentari saat itu juga menyelinap masuk menyinari isi rumah.


"Surya, Novi cepat turun" perintah mama Sinta kepada kedua anaknya pagi itu.


Didalam kamar yang masih terlihat begitu remang tanpa ada cahaya sedikitpun, Novi pun terbangun dari tidurnya karena mendengar dengan jelas panggilan mama Sinta yang begitu keras. Sementara Surya masih tertidur pulas sambil memeluk guling miliknya.


Dengan membasuh wajahnya, Novi yang saat itu masih belum siap membersihkan dirinya dengan cepat mengambil sebuah jilbab hitam untuk ia kenakan. Dirinya turun dengan mengenakan setelan piyama bewarna maroon dan jilbab sport hitam.


"Iya ma ada apa, maaf Novi baru aja bangun. Mas Surya masih tertidur pulas ma." jelas Novi dengan mengusap sebelah matanya.


"Kamu kan lagi hamil, ada baiknya orang hamil itu berjalan santai dipagi hari Nov. Bukanya malah asyik tidur dan bermalas-malasan, yang ada bayi kamu nanti malah nggak tumbuh dengan baik." cecar mama yang tiba-tiba berubah sedikit cerewet saat mengetahui Novi sudah berbadan dua.


"Iya ma," patuh Novi tanpa membalas ucapan mama Sinta.


"Baguslah, kebetulan Malika juga masih tidur dikamar. Setidaknya kamu masih punya waktu untuk berolahraga kecil ditaman sana." perintah mama sambil menunjuk taman rumah.


Novi kemudia berjalan menuju taman rumah saat itu juga, dengan perasaan yang sedikit ragu ia melangkahkan kakinya ke luar rumah.


Semenjak mama tau aku hamil, kenapa rasanya mama lebih posesif dari biasanya ya. Apa semua ini cuman perasaanku saja, atau memang mama sedikit berubah. ujar Novi dalam hati sambil merenggangkan ke dua tanganya.


Sementara didalam kamar, Surya yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tangannya terlihat tengah mencari-cari keberadaan Novi saat itu, ia sibuk memutar balikan tangannya diatas tempat tidur. Tapi tidak sedikitpun jarinya menyentuh tubuh Novi saat itu, dengan cepat ia pun terbangun dan duduk dengan keadaan setengah sadar dari tidurnya. Wajahnya lalu berpaling ke arah tempat tidur milik Novi.


Kemana dia sepagi ini?. tanya Surya dalam hati.


Dirinya lalu melempar selimut bewarna putih itu ke atas ranjang dengan segera. Tanpa perdulikan penampilan dirinya yang masih terlihat sembab dan bermuka bantal, ia berlari menuruni tangga untuk mencari Novi di sekitar rumah.


"Et et ..., kamu ini kenapa?. Bisa jalan dengan baik kan, kalau jatuh bagaiman jangan seperti anak kecil." cegat mama diujung tangga yang melihat tingkah Surya seperti anak kecil kehilangan mainannya.

__ADS_1


"Ma, mana Novi. Mama lihat dia dimana, dikamar nggak ada ma. Kemana dia ya." cecar Surya memberondong pertanyaan kepada mama Sinta.


Mama hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan putranya itu.


"Istri kamu lagi mama suruh olahraga didepan, lagian ini kan pertama kali ia hamil. Harus dijaga betul kondisi badanya, kalau lagi harus bangun untuk sekedar berjalan santai. Kalau perlu nggak pakai alas kaki, itu jauh lebih bagus. Waktu mama dulu hamil kalian berdua, mertua mama itu pagi siang sore malam selalu mengawasi mama penuh 24 jam. Mama harus turuti semua perintahnya dengan baik, alhasil kalian tumbuh sehat seperti sekarang." jelas mama Sinta panjang lebar kepada Surya.


"Aku tau ni, sekarang mama mau melampiaskan semua itu kepada para menantu mama ya. Hahah," goda Surya kepada mamanya yang sudah bersusah payah bercerita.


Alhasil Surya pun mendapat cubitan kecil dari mama Sinta karena ulahnya. Ia sangat bahagia melihat keadaan mamanya yang sekarang, mama seperti memiliki jiwa baru dalam hidupnya. Lebih sedikit berwarna semenjak kehadiran Malika dan calon cucu barunya.


Karena hari ini adalah tanggal merah, Surya lebih memilih untuk menemani Novi dirumah bersama Malika. Ia akan menghabiskan waktu sehari penuh bersama dua wanita kesayanganya itu.


"Sudah bangun mas," ucap Novi dengan mengusap peluh diwajahnya.


Tanpa berkata banyak, ia lalu menarik tubuh istrinya dan melayangkan sebuah ciu*an kepada Novi. Mereka yang tak menyadari kehadiran Malika saat itu, ia berdiri di atas tangga denga menyaksikan kejadian tersebut sambil menutup ke dua matanya.


Tersadar dengan suara Malika, Surya pun melepaskan pelukan beserta ciu*an yang ia tujukan kepada Novi. Dengan melambaikan tanganya, ia pun meminta putri kecilnya itu untuk turun dan bergabung bersama mereka. Novi hanya tersenyum kecil mendapati Surya tengah salah tingkah dengan ulahnya sendiri dihadapan Malika.


Malika pun segera turun dan menyambut raihan tangan Surya dengan segera. Surya lalu menggendong putri kecilnya itu penuh kasih sayang.


"Baiklah, karena gadis kecil mama sudah disini. Bolehkah mama titipkan papa sama kamu?. Mama Novi mau naik ke atas dulu untuk mandi dan bersihkan tempat tidur." ujar Novi dengan memberikan ciu*an pada Malika.


"Siap ma, laksanakan. Tugas akan Malika lalukan dengan baik. Mama nggak perlu khawatirkan papa disini yah." jelas Malika polos.


"Sudah sepintar ini anak papa, siapa yang ajarin Malika sehebat ini. Coba beritahu papa?." sahut Surya.


"Mama Novi, mama selalu mengajarkan banyak hal untuk Malika pa. Dan Malika sangat suka itu, mama Novi sangat pintar sekali." tuturnya polos dihadapan Surya.

__ADS_1


"Jadi semua kepintaran Malika ini dapat dari mama Novi ya. Baiklah kalau begitu, karena Malika sudah jadi gadis kecil papa yang pintar hari ini papa akan seharian penuh bermain dengan Malika dan mama Novi dirumah. Bagaimana?" tegas Surya kepada Malika.


"Horeee, seharian sama papa dan mama dirumah. Kita ajakin omah dan om Juna juga ya pa." pinta Malika.


"Boleh, tapi nanti setelah kita udah mandi dan sarapan pagi ya." titah Surya.


Novi pun meninggalkan mereka berdua dan menaiki tangga lalu masuk kedalam kamar. Kehamilan Novi kali ini tidak membuat dirinya merasa kewalahan seperti ibu hamil lainnya. Ia tidak merasakan, mual ataupun muntah pada trimester pertama. Dirinya hanya sering merasa cepat lelah dalam beraktivitas, selebihnya masih bisa dibilang aman.


Saat semua orang terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Citra saat itu yang baru saja keluar dari dalam kamarnya terlihat mengenakan jelana jeans dan sebuah kaos bewarna putih beserta tas selempang kecil. Ia terlihat terburu-buru saat menuruni anak tangga, dirinya terlihat cuek saat berpapasan dengan Surya dan Malika dibawah tangga.


Citra lebih memilih bungkam dan tengah asyik mencari sebuah benda yang ada didalam tasnya, ia pun masuk ke dalam mobil untuk bergegas pergi pagi hari itu juga.


Flashback Citra pada penjual obat.


Besuk pagi akan saya temui kamu disebuah pertokoan yang tak jauh dari tempat kamu. Kamu tunggu disana, saya akan mengambil obatnya segera. ujar Citra disebuah pesan singkat kepada salah satu penjual obat yang ia temukan disebuah toko online.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2