Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Terasa aneh


__ADS_3

"Nggak papa mbak, saya nggak perlu ke dokter. Biar nanti ibu saya aja yang kompres lukanya." sahut Ariel sambil meringkuk kesakitan.


Terbesit kasihan dibenak Citra saat itu tengah melihat orang kesakitan akibat ulahnya. Dia dengan segera menarik tangan Ariel untuk masuk kedalam mobil dan mengantarnya pulang.


"Rumah kamu dimana," tanya Citra ketus.


"Loh mbak tadi katanya buru-buru pulang, sekarang mau anterin saya pulang." sahut Ariel yang duduk disampingnya.


"Jangan banyak omong, dimana rumah kamu." ucap Citra segera.


"Jalan mandalika no 26 mbak, sebelumnya terimakasih ya sudah mau antar saya pulang." ujar Ariel.


"Sama-sama," ucap Citra yang masih terlihat cuek.


Dengan mengerang kesakitan, Ariel yang terus memegangi perut bagian bawah yang terbentur oleh mobil Citra tadi. Citra semakin tak tahan dengan suara kesakitan Ariel.


"Cepet minum dulu, saya nggak mau kamu kenapa-napa." pinta Citra pada Ariel.


"Iya mbak, terimakasih." sahut Ariel.


Setibanya dirumah Ariel, dirinya segera membukakan pintu dan membantu Ariel untuk berjalan memasuki rumahnya. Ketika Citra ingin mengetuk pintu rumahnya, tiba-tiba Ariel menolak dan meminta Citra segera pergi.


"Mbak, biar saya saja. Pulang saja dulu, saya nggak mau melihat ibu saya khawatir dengan keadaan saya ini." pinta Ariel.


"Hah, ok. Saya pulang dulu, kalau kamu kenapa-kenapa segera hubungi saya." jelas Citra.


Citra segera meninggalkan rumah Ariel saat itu, dirinya hanya ingin segera pulang dan tidur dengan tenang hari ini. Sementara Juna yang sudah tiba dirumah lebih dulu dari pada Citra, hanya memilih berlalu dari hadapan mama dan ke dua kakaknya yang tengah menunggu mereka disana.


Dirinya sangat memahami perasaan mamanya saat ini, tetapi ia lebih memilih untuk menyendiri terlebih dulu. Tidak selang begitu lama, Citra juga sampai dan tengah memarkir mobilnya. Tak berbeda dengan Juna, dirinya juga lebih memilih diam dan berlalu untuk naik ke atas. Dengan kesal dirinya mendapati suaminya itu sudah terbujur diatas tempat tidur, pikiran untuk tidur dengan tenang rusak seketika.


Mereka berdua terlihat tidak saling menegur, keduanya tidur dengan saling membelakangi saat itu. Dengan segera Citra mematikan lampu kamar dan beranjak tidur. Sementara dibawah, Surya dengan Novi yang menemani mama sedari tadi disuruh mama Sinta untuk segera pulang.


"Kalian pulang dulu, yang penting mereka sudah pulang. Ada baiknya kita berikan waktu untuk mereka berdua terlebih dahulu." ujar mama.


"Apa perlu Surya dan Novi bermalam disini untuk hari ini ma?," jelas Surya yang khawatir dengan kondisi mama dengan keadaan seperti ini.

__ADS_1


"Nggak perlu, kenapa kamu selalu menganggap mama seperti anak kecil si. Mama bisa, dan mama nggak papa. Jadi kalian tidak perlu khawatirkan mama disini." ucap mama.


"Baiklah ma, kalau itu sudah menjadi keputusan mama. Pasti akan segera Surya kabulkan," goda Surya pada mama sambil memegang tangannya.


Mereka berdua lalu berpamitan pada mama Sinta untuk segera pulang.


"Ma Novi pamit pulang dulu ya. Besuk Novi kesini lagi." pamit Novi sambil menci*m ke dua pipi mama Sinta.


"Iya, kalian hati-hati dijalan. Terimakasih sudah mau temani mama disini." ujar mama.


Surya dan Novi segera memasuki mobil dan berlalu dari rumah mama saat itu. Sementara mama Sinta terlihat sedih saat melihat Surya dan Novi meninggalkan dirinya. Hanya mereka berdua yang mampu mengerti perasaan mama, dan memperlakukan mama begitu baik.


Sambil berjalan dengan lemas, mama segera menutup pintu utama rumah dan segera naik ke atas. Dengan langkah kaki yang ragu, mama Sinta menaiki anak tangga satu persatu.


Sementara Surya dan Novi yang tengah sampai dikediamannya, bergegas masuk dan segera membersihkan diri. Saat itu, Novi yang terlihat mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk dihampiri oleh Surya.


Ia selalu takjub dengan pesona diri Novi, seakan dibuat tergila-gila ketika menjumpai istrinya dengan rambut basah.


"Hari ini boleh?," pinta Surya.


Dengan lembut ia menarik jari Novi untuk mengikuti dirinya naik ke atas tempat tidur, Surya yang sudah bersiap terlihat berada diatas Novi saat itu. Dirinya yang mulai menci*mi bibir Novi, dengan segera perlahan membuka baju milik istrinya dengan pasti.


Terlihat kewalahan Novi mengimbangi Surya saat itu, deru nafas Surya yang begitu cepat membuat dirinya tak sanggup lagi menahan hasratnya. Desiran angin yang mencoba masuk kedalam cela jendela kamar milik mereka membuat suasana saat itu semakin terasa lebih bergairah.


Satu demi satu, kancing piyama milik Novi sudah terbuka lebar. Dan dengan perlahan ia mulai menarik celana milik Novi. Surya yang sudah bersiap, terlihat membetulkan posisi Novi agar semakin nyaman.


"Emmmb mass ..." bibir Novi mulai meracau ketika mendapati benda tumpul yang hangat telah menelisik ke dalam lub*ng miliknya.


"Iya sayang, janji nggak bakalan sakit." ujar Surya menenangkan Novi yang terlihat sudah semakin menikmati permainan Surya saat itu.


Semakin cepat Surya memacu torpedo miliknya. Dan semakin tak karuan juga nafas Novi yang mulai tak terkontrol saat itu. Keduanya sangat menikmati malam itu.


"Aaarrggghhh," seru Surya saat mendapati torpedo miliknya telah menyembur di lub*ng milik Novi.


Tubuh Novi dan dirinya yang terkulai lemas diatas tempat tidur, membuat mereka berdua untuk menghentikan permainan itu. Ke duanya saling menatap langit kamar dan berpegangan tangan.

__ADS_1


"Kali ini, aku yakin pasti berhasil." ujar Surya yang meyakini benih yang disemai akan membuahkan hasil.


"Aamiin," ucap Novi segera.


"Terimakasih ya, sudah mendampingi aku dengan begitu baik selama ini. Aku nggak akan pernah tau apa jadinya, jika wanita lain yang akan bersanding denganku." ujar Surya yang begitu bangga kepada istrinya.


"Kamu juga lelaki yang hebat mas," puji Novi.


Dengan penuh perasaan bahagia, mereka melalui malam itu penuh kebahagiaan. Rasanya sudah tidak sabar lagi, ingin segera mendengar tangisan bayi dirumah itu.


🖤


Sementara dirumah Ariel saat itu, ibunya yang terlihat sangat panik mendapati putranya mengerang kesakitan. Ibunya dengan segera membopong tubuh Ariel memasuki rumah dan menyiapkan air hangat untuk mengompres semua luka memar Ariel.


"Kenapa bisa seperti ini Ril." tanya ibunya dengan cemas.


"Nggak papa kok bu, salah Ariel juga yang nggak hati-hati saat menyeberang." jelas Ariel menutupi kesalahan Citra yang sudah menabrak dirinya.


"Makanya lain kali hati-hati le, ibu kan sudah sering ingetin kamu. Terus orangnya nggak anter kamu pulang tadi?, tega betul si." umapat ibu Ariel sambil mengompres luka.


"Aaakkhhh, pelan-pelan bu. Tadi Ariel sudah di antar pulang kok, cuma orangnya keburu pergi karena buru-buru. Jelas Ariel dengan mengerang kesakitan.


"Diem dulu, tahan sedikit. Paling juga kamu yang suruh biar cepet pergi. Karena kamu tau, ibu pasti ngomel kalau ketemu orangnya kan?". Jelas ibu dengan kesal.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2