
"Usir dia dari sini, iya usir saja!. Cepat keluarkan dia dari sini ..."
Hari itu masih terlihat sangat pagi, tetapi suara riuh didepan rumah Pricilia menggema ke seluruh komplek. Mereka semua adalah ibu-ibu komplek yang telah serentak berkumpul untuk menentang keberadaan Pricilia di lingkungan sekitar.
"Ada apa ini, bu ibu ..." tanya Pricilia yang tengah membuka pintu rumahnya.
"Ayo pergi saja kamu dari sini !!"
"Pergi kau!"
"Kami tak ingin disini ada pelakor!"
"Jangan berani injakan kakimu disini lagi,"
Suara riuh itu bersautan satu demi persatu disana, Pricil yang benar-benar kebingungan mencoba memberi pengertian kepada mereka yang sudah tak bisa dikendalikan lagi.
Karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan Pricilia yang hanya seorang diri, ibu-ibu itupun merangsak masuk kedalam rumah Pricilia. Semua barang miliknya, terlihat dikemas oleh sekelompok ibu-ibu tersebut.
Pakaian dan beberapa barang Pricilia pun dilempar keluar rumah dengan cepat.
"Saya mohon jangan lakukan ini pada saya!, saya bukan pelakor!!" jerit Pricil, tapi tetap tak ada yang menghiraukan dirinya disana.
Saat mereka sudah mengosongkan isi rumah Pricilia, kini giliran tubuh Pricil yang didorong oleh mereka untuk segera pergi dari sana.
"Akkkh!," teriak Pricilia yang sudah jatuh di tanah, dengan isak tangis yang tersedu-sedu.
"Tenang ibu-ibu tenang saya mohon!" seorang lelaki setengah baya mengenakan peci hitam datang bersama dengan Santi untuk meredakan masa.
"Nggak pak RT, dia harus pergi dari sini. Kami nggak sudi jika dikomplek ini harus kotor akibat perbuatannya!" seru ibu-ibu.
"Baiklah, tapi kita akan selesaikan baik-baik. Mbak Pricilia ini kan sudah lama juga, menjadi warga kita. Dia tidak pernah terlibat masalah apapun kan, dia selalu berperilaku baik kepada kita semua disini. Saya mohon jangan main hakim seperti ini !" pinta pak RT setempat yang biasa dipanggil pak Burhan.
Akhirnya, pak Burhan menolong Pricil untuk segera bangun dari tanah. Tumit beserta lengannya harus terluka akibat dorongan yang cukup kuat dari gerombolan ibu-ibu yang sama sekali tak punya hati itu.
Dengan kaki yang terpincang-pincang, Pricilia dipapah oleh pak Burhan untuk segera duduk didepan teras rumahnya untuk melakukan musyawarah bersama ibu komplek setempat.
"Baiklah, kali ini saya akan mencoba memimpin jalanya musyawarah disini" ujar pak RT.
"Kita dengarkan dulu penjelasan mbak Pricilia kali ini, dan saya mohon dengan sangat untuk ibu-ibu sekalian tidak mencela perkataannya kali ini. Setuju!"
"Ya"
__ADS_1
"Ya, setuju!!"
"Baik, silahkan mbak Pricilia"
"Sebelumnya pertama-tama saya minta maaf kepada ibu-ibu semua yang ada disini, kalau memang kehadiran saya dikomplek ini sangat meresahkan. Bu, saya hanya seorang anak rantau yang tinggal jauh dan terpisah dengan orang tua saya. Dan saya disini tengah beradu nasib untuk mereka semua disana, jika memang mungkin disini saya hanya sebagai seorang pelakor mungkin sudah lama saya pergi jauh dari sini karena rasa malu. Tapi saya tetap disini, karena sedikitpun saya tidak merasa menjadi pelakor bagi wanita manapun bu!" mata Pricilia berbinar-binar memendam kepedihan karena harus mengutarakan perasaannya.
"Tidak!, kami tidak percaya!"
"Kami menemukan ini dikamar wanita itu pak RT !"
Sebuah foto hasil usg milik Pricilia pun dilempar ke wajahnya.
"Coba jelaskan pada kami!, kamu belum menikah tapi sudah hamil. Apa dia anak haram!"
"Dia anak lelaki hidung belang mana!"
"Bawa pergi anak sial itu dari sini secepatnya!"
"Kasih mati aja itu bayi pembawa sial!"
"Cukupppp hentikaaaannn!!!" teriak Pricilia ditengah suara riuh yang menghujam hatinya karena anak yang sedang dikandung oleh dirinya dihujat mati-matian, dia pun menutup kedua matanya sambil menutup rapat kedua telinganya saat itu.
"Anak ini tidak berdosa ibu-ibu!, dia ada didunia ini karena saya yang membawanya. Jika anak ini bisa memilih, dia juga tidak akan pernah mau memiliki jalan hidup seperti ini. Sedih ataupun senangnya nanti, akan saya tanggung selama hidup saya. Sedikitpun saya tidak pernah merasa malu jika harus mengandungnya selama 9 bulan 10 hari nanti. Saya lebih memilih untuk melahirkan dia dan hidup didunia ini, dari pada harus melenyapkan nyawanya!"
Tatapan murka Pricilia kali ini, ditujukan satu persatu kepada sekumpulan ibu-ibu disana.
Semua terdiam, dan membisu ketika mendengarkan penjelasan dari Pricilia tadi. Mereka seperti kehabisan topik untuk merendahkan gadis malang itu.
5 menit kemudia, Juna yang baru saja tiba disana mengendarai mobil mewah membuat mata ibu-ibu sekitar sana terbelalak karena terkejut.
Juna pun turun dengan cepat dari mobilnya, dengan pandangan cemas.
"Permisi"
"Permisi," ucap Juna sambil menyibak beberapa ibu-ibu yang sudah berdiri dan berjejer seperti tembok yang susah diruntuhkan.
"Pricil?, ada apa ini. Hey kenapa dengan kamu, tangan kamu terluka seperti ini?!" telisik Juna mengamati semua luka itu.
"Oh, jadi lelaki ini yang sudah menghamilimu. Pantas saja, kaya. Dia bisa semaunya meniduri gadis manapun bukan!. Lihat saja jari manisnya, sudah melingkar sebuah cincin tapi masih saja berkeliaran mencari mangsa!." celetuk seorang ibu-ibu.
"Sssttt diam" ujar Santi pemilik rumah yang tengah disewa Pricilia.
__ADS_1
"Yah, dia adalah calon istri saya!. Apa ada yang mau melarang saya disini?. Apa urusan kalian semua, hingga berani mencampuri masalah pribadi orang lain hah?!" umpat Juna sambil menunjuk satu persatu muka mereka.
"Istri mana yang akan mau dimadu hah?!, kan berarti wanita ini saja yang ganjen dan gatel dekatin anda pak!" sahut seorang warga.
"Saya sudah cerai dengan istri saya!, apa saya tidak pantas mendapatkan kebahagiaan lagi. Coba kali ini jawab pertanyaan saya!. Jika kalian masih terus membuli calon istri saya ini, saya pastikan polisi akan menyeret anda ke dalam bui." gertak Juna pada kerumunan warga disana.
Akibat gertakan tersebut, beberapa masa dari mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Dan kali ini hanya tinggal sebagian dari mereka saja yang masih tetap berdiri.
"Ayo ikut dengan saya saja. Bapak, siapa?" jelas Juna.
"Saya pak Burhan selaku ketua RT disini mas!" sambut pak Burhan penuh kehangatan.
"Dia yang sudah menolong saya tadi pak" jelas Pricilia sambil memegangi lukanya.
"Baiklah, terimakasih karena sudah menyelamatkan dia dari amukan masa kali ini ya pak. Dan saya mau ijin membawa Pricilia untuk pergi dari tempat ini." tuturnya.
Tanpa segan, ia pun lalu menggendong tubuh kecil Pricil kedalam mobil miliknya. Dan meletakkan semua barang-barang bawaan Pricilia disana.
Mereka berdua pun berlalu dari tempat tersebut.
"Terimakasih ya pak, karena hari ini sudah menyelamatkan nyawa saya" ucap Pricilia.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
*
...💐Abis baca komen dong💐...
__ADS_1