
Sando hanya menatap langit rumahnya dengan terus terdiam. Hatinya masih belum siap, jika harus membawa Novi ke hadapan papanya. Di juga bukan tipikal pria pemaksa perasaan wanita begitu saja.
*
*
*
Ketika dia tengah terdiam cukup lama, sebuah panggilan masuk menghiasi layar ponselnya. Melihat nama Novi, Sando buru-buru membawa ponsel itu masuk kedalam kamar karena malu terhadap Roy papanya.
"Anak muda jaman sekarang memang sulit ditebak!"
"Ck!, lihat dia ma ... sama seperti dirimu bukan?" gerutu Roy yang tengah memandangi foto keluarga terutama sang istri.
"Ceklek !" suara pintu kamar terkunci.
"Hallo?" suara Sando setengah berbisik.
"Pak"
"Hallo, hallo?" suara Novi.
Dirinya tak menangkap dengan bagus suara Sando dari ujung ponselnya karena setengah berbisik.
"Pak, apa saya mengganggu. Suara bapak tidak jelas disini" suara Novi lebih naik satu tingkat mendengar suara Sando hampir tenggelam nyaris tak terdengar.
Sando lalu berjalan menuju ke arah jendela kamarnya, disana ia lebih berani melantangkan volume suaranya.
"Hallo!" suara Sando yang sudah terdengar keras.
"Iya pak, maaf jika saya mengganggu malam-malam." suara Novi.
"Tidak apa, santai saja!"
"Pak, tolong maafkan sikap kasar saya terhadap bapak tadi. Saya tidak ingin kalian berkelahi lagi disini" suara Novi menuturkan maksud dirinya.
"Tidak apa, seharusnya saya yang harus meminta maaf padamu. Karena sudah lancang memukulinya" tegas Sando .
"Saya sudah tidak memiliki ikatan apapun terhadap mas Surya, jadi disini saya ingin menengahi kalian berdua saja pak. Sekali lagi saya minta maaf!"
Berulang kali mendengar kata maaf dari bibir Novi, Sando begitu merasa tidak enak dan kebingungan harus berucap apa supaya dia berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Baiklah, ini sudah yang kesekian kalinya kamu meminta maaf pada saya. Cukup ya, lebih baik istirahatkan saja tubuh dan pikiranmu saat ini. sudah cukup malam juga" pungkas Sando dengan terbata-bata.
"Terimakasih pak" Novi mematikan ponselnya.
Di rumah mama Sinta, Surya justru tak dapat mengendalikan emosinya disana dengan baik. malam itu, siapapun yang ada dihadapannya di marahi habis-habisan. Termasuk juga mama Sinta yang tengah bersantai dan menyapanya.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu"
"Apa tidak bisa, pulang tepat waktu dan duduk dirumah diam-diam!" omel mama Sinta.
"Aku bukan anak kecil lagi ma!"
"Jadi cukup mengatur ataupun mengekang ku!" protes Surya ke arah mamanya.
Melihat putranya begitu emosi, mama Sinta hanya diam dan lebih memilih untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Tak ada yang bisa membuatmu segila itu, jika bukan karena wanita itu!" gumam mama Sinta dengan sinis.
Ia masih saja menyalahkan Novi sejauh ini, dan perempuan malang itu harus menjadi korban tuduhan mantan ibu mertuanya hingga detik ini.
Sementara dijalanan malam, Citra yang telah berputar-putar semenjak tadi menyusuri jalanan ibu kota tengah menepi ke pinggir jalan. Citra tengah kehabisan bensin disana, dan dirinya tengah jauh dari tempat pengisian bahan bakar .
"Brengsek!"
"Pakai mogok segala ini mobil !"
"Arrrgh!!" teriaknya memaki mobilnya ditepi jalan.
Karena begitu kesalahannya, ia berulang kali menendang ban mobil miliknya. Hingga sampai pada akhirnya, sebuah mobil sport hitam menepi dan terparkir tepat di belakang mobilnya.
Sorot lampu mobil itu membuat dirinya semakin kesal, dan mencoba melihat ke sela cahaya lampu yang tengah menyoroti wajahnya.
Ketika seorang lelaki turun menghampiri dirinya dengan santai, dan rupawan. Citra pun menarik seluruh ucapannya tadi sesegera mungkin.
"Malam, ada yang bisa saya bantu?!"
Lelaki tersebut adalah dokter Frans Aliandro, wajahnya yang tampan rupanya mampu menghipnotis kedua mata Citra yang tak dapat berkedip sedikitpun.
"Yah, malam" suara Citra melembut saat itu.
"Ehm, iya ni kebetulan saya kehabisan bahan bakar. Dan jalanan masih jauh menuju pengisian bahan bakar disana" tunjuk Citra ke arah jalanan.
Tanpa berlama-lama dan diminta, Frans menuju mobilnya untuk mengambilkan stock darurat bensin yang ia miliki.
"Buka itu!" pinta Frans pada Citra .
Bukan hanya memberikannya dengan cuma-cuma, ia pun terlihat menolong Citra untuk menuangkan bensin itu sampai habis ke dalam mobil Citra.
"Makasih ya, saya jadi nggak enak nih" ujar Citra mencari alasan.
"Sudah seharusnya begini, bukan cuman saya yang akan berhenti jika melihat mbak sendirian ditepi jalan. Semua orang yang melintas juga pasti akan menolong mbak juga!" tutur Frans .
Lelaki itu memang terkenal rendah hati dan setiap tutur katanya begitu lembut bagi siapapun yang mengenalnya. Sebagai seorang dokter, ia pun sangat ringan tangan untuk membantu sesamanya.
__ADS_1
"Yah, begitulah. Saya belum tahu nama anda, perkenalkan saya Citra " ucap Citra dengan kikuk.
"Frans Aliandro, panggil saja Frans !" seru Frans dengan menjabat tangan Citra.
Beberapa detik Citra begitu terkesima dengan wajah tampan Frans hingga membuat dirinya lupa untuk melepaskan tangan Frans disana.
"Eh, senang bertemu anda"
"Bagaimana cara saya untuk membalas kebaikan anda ini?" tutur Citra dengan menyunggingkan senyum termanisnya yang mengandung sejuta racun didalamnya .
Citra terlihat melayangkan basa-basinya dihadapan Frans.
"Jika ingin bertemu lagi dengan saya, hubungi saja itu" ujar Frans memberikan selembar kartu nama untuk dirinya.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu mbak" pungkas Frans dengan berlalu dan memasuki mobil sportnya.
"Boleh juga!, mangsa baru. Mati satu tumbuh 1000 Citra !" serunya dengan tatapan mata liciknya.
Wanita mengerikan itu masuk kedalam mobilnya dan terus memandangi secarik kertas kecil yang telah di genggamannya. Ketika dirinya tengah berpikir , tiba-tiba saja nama Novi dan Surya melintas cepat dalam otaknya.
Ia yang sudah begitu lama tak berjumpa lagi dengan kedua iparnya itu, sangat merindukan mereka berdua.
...----------------...
Bersambung ♥️
*
*
*
...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥...
Seorang istri bernama Suci Permata sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Akibat tekanan yang cukup besar dari orang tua suaminya, akhirnya suci berdoa dan berserah diri kepada pencipta-Nya. Hingga akhirnya Suci mendapatkan pencerahan memiliki solusinya sendiri.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Suci sudah berusaha ikhlas untuk merelakan sang suami tercinta supaya mencari pendamping baru untuk segera memberikan cucu kepada keluarga Dimas yang selalu menuntut anak dari Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi Haknya ?
__ADS_1