Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Sulit


__ADS_3

"Maafkan saya mbak jika memang kata-kata saya kurang berkenan untuk didengar." ujar Ariel dengan santun, ia tak ingin sampai menyinggung perasaan Citra saat itu.


"Oke, nggak masalah kok kamu mau beri komentar apapun. Bukan salah kamu juga." pungkas Citra sambil meminum sebuah jus yang sudah terlihat hampir habis.


"Apa perlu kali ini mbak saya antar pulang?," pinta Ariel.


Wajahnya seketika pucat mendengar ucapan yang dilontarkan Ariel untuk dirinya.


"Hah? kamu mau antar saya pulang." nadanya meninggi karena shock.


"Iya mbak, maaf jangan berfikir yang aneh-aneh dulu. Saya hanya berniat baik, saya ingin memastikan mbak pulang dengan selamat." jelas Ariel penuh kesungguhan.


"Tadinya saya yang berharap lebih," gerutu Citra dengan nada sumbang.


"Maaf, kenapa mbak?." sahut Ariel yang tak begitu jelas mendengar perkataan Citra saat itu.


"Hah, nggak papa kok. Saya kebetulan juga nggak bawa mobil, jadi nanti pesan taxi online saja." pungkas Citra.


Seketika awan terlihat mulai gelap dan hujan pun terlihat turun rintik-rintik membasahi dedaunan dan jalanan. Suasana saat itu menjadi membisu dan digantikan dengan derasnya air hujan yang mulai turun tak beraturan diatas atap.


Citra hanya menatap langit saat itu, tanpa bersuara. Entah pikiran aneh macam apa yang tengah dirasakan oleh Citra, dirinya mulai merasakan kenyamanan saat berada didekat Ariel. Ia merasakan sebuah perhatian yang begitu tulus saat ini, dan perhatian itu belum pernah ia dapatkan sebelumnya dari Juna.


Matanya mulai menyusuri semua wajah dan lekuk tubuh Ariel dihadapannya, tak ada yang kurang dari wajah pemuda satu ini. Semua terlihat sempurna tanpa kekurangan, hanya saja dia belum memiliki seorang pendamping.


"Mbak Citra baik-baik saja kan?." tanyanya cemas memperhatikan Citra hanya melamun.


"Saya baik kok Ril, kamu kalau mau pulang silahkan. Nggak papa kok, ibu kamu pasti sudah menunggu kamu dirumah sedari tadi. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk saya disini." jelas Citra pada Ariel yang sudah terlihat sedikit gusar.


"Baik mbak, saya ijin pulang dulu ya. Kalau mbak perlu dengan saya, telepon saja." jelas Ariel yang hendak meninggalkan tempat itu dan menyodorkan sebuah kertas putih bertuliskan nomor teleponnya.


Tanpa ragu, Citra lalu mengambil kertas itu dan memasukkan ke dalam tas miliknya. Lima menit kemudian, setelah kepergian Ariel dari tempat itu dirinya lalu memesan sebuah taxi online untuk menjemputnya disana.

__ADS_1


Ia pun berlari kecil ke arah taxi online tersebut sambil menutupi rambutnya dari terpaan air hujan. Novi pun segera masuk ke dalam mobil, dan mengikutinya dari belakang. Tapi hari itu begitu sial bagi Novi, kehadiran dirinya diketahui oleh Citra melalui supir taxi online.


"Stop pak, tolong berhenti disini saja. Kembaliannya untuk bapak saja." ucap Citra yang sudah tersulut api kesal pada Novi.


Braakkk


Pintu mobil terdengar di tutup dengan begitu keras oleh Citra.


Novi yang saat itu tak berkutik karena Citra sudah mengetahui dirinya, hanya mampu menghentikan laju mobilnya dihadapan Citra.


"Keluar," teriak Citra dibawah air hujan yang begitu deras sambil mengetuk kaca pintu mobil.


Novi yang sedikit panik melihat aksi Citra basah-basahan kala itu keluar dan membawakan sebuah payung untuknya.


"Cit, jangan basah-basahan begitu. Nanti kamu sakit," seru Novi dibawah payung bewarna biru.


"Nggak perlu sok baik," umpat Citra sambil menepis payung tersebut dengan keras hingga membuat payung tersebut terlepas dari tangan Novi.


"Kamu kenapa ngikutin aku kayak gini?, siapa yang suruh kamu mata-matain aku hah!. cecar Citra sambil mendorong tubuh Novi ke bagian pintu mobil.


"Maafkan aku Cit, aku hanya inginkan yang terbaik buat kamu. Aku cuma ingin jagain kamu saja, enggak lebih dari itu." jelas Novi mencoba menenangkan keadaan.


"Perduli apa kamu sama aku, sudah cukup semua sandiwara kamu selama ini. Hentikan semuanya, aku sudah muak." Citra memaki Novi dengan begitu keras.


"Aku nggak seperti itu Cit, tolong buang jauh-jauh semua prasangka buruk itu." rayu Novi yang masih terlihat berjuang.


Tanpa mereka sadari, pertengkaran mereka saat itu dipergoki oleh Juna dan keluarga yang tengah menuju pulang. Juna yang menyadari bahwa didepan adalah Citra, dengan segera ia menepikan mobil miliknya dan bergegas untuk menghampiri mereka.


Citra yang juga menyadari kehadiran Juna saat itu, lalu memilih diam tanpa melanjutkan satu kata pun.


"Kenapa basah-basahan seperti ini mbak?." tanya Juna pada Novi, ia lebih perhatian kepada kakak iparnya tersebut dibandingkan dengan istrinya sendiri.

__ADS_1


"Nggak papa, kamu ajak Citra masuk kedalam mobil ya." jelas Novi menutupi semua pertengkaran saat itu.


Juna hanya menyetujui permintaan Novi tanpa mengeluarkan pertanyaan lagi, Surya yang saat itu terlihat duduk dibangku depan lalu terlihat turun menghampiri istrinya yang tengah berdiri basah kuyup.


Tatapan mata Citra yang begitu benci pada Novi dan Surya saat itu tak dapat terelakkan lagi, bara api benci Citra kepada mereka berdua sudah berada di ujung ubun-ubunnya.


Terlihat mereka semua segera menuju pulang dengan cepat, baik Surya atupun Juna sepertinya enggan untuk bertanya apa yang sebenarnya sudah terjadi saat itu.


Setibanya dirumah, Novi dan Citra segera mengganti pakaian milik mereka yang sudah sekujur tubuh. Didalam kamar, pikiran Citra pun sudah menerawang tak karuan tentang Novi. Ia berpikir malam ini Novi akan membuka semua yang dirinya saksikan hari ini, dan akan membuat jarak antara keluarga pada dirinya.


Dengan cepat ia menuntaskan untuk mengeringkan rambutnya yang basah, setelah siap ia pun menuju meja makan dan memilih bergabung dengan keluarga. Dirinya ingin mengetahui sejauh mana Novi akan berani membuka suaranya tentang dirinya hari ini. Tetapi semua prasangka buruk dirinya tentang Novi saat itu ditepis oleh semua sikap Novi yang berubah drastis.


Terlihat Novi seperti biasanya, menyiapkan segala keperluan makan malam saat itu. Sementara Citra yang saat itu tengah menikmati secangkir teh hangat, tengah mengawasi gerak gerik Novi dengan seksama.


Kali ini dirinya tak ingin sampai tertipu daya oleh semua ucap manis Novi. Dirinya yang sudah puas mengawasi Novi saat itu, lebih memilih berlalu masuk ke dalam kamar tanpa ikut menyantap masakan yang telah Novi hidangkan.


"Nov, ayo duduk sini. Kita makan sama-sama," ucap mama Sinta yang membuyarkan pandangan Novi pada Citra saat itu.


"Baik ma," ujar Novi patuh.


Sedangkan Citra yang berada dalam kamar, ia hanya menggerutu kesal melihat tingkah laku Novi hari ini. Baginya, Novi saat ini adalah musuh yang perlu ia waspadai dimanapun keberadaanya.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya

__ADS_1


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


__ADS_2