
"Ma, coba lihat siapa yang datang ma!" wajah kecil itu semakin bersinar tatkala menggandeng tangan Surya menuju Novi.
Novi hanya menarik nafas dengan dalam kali ini, otaknya harus berpikir keras untuk menata hati dan setiap perkataan yang harus ia ucapkan dihadapan Malika.
"Gimana kondisi kamu" ucap Surya memulai pertanyaan.
Dirinya hanya mengangguk perlahan tanpa senyum.
"Maafkan aku!"
Novi menatap tajam.
"Apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Surya untuk keduakalinya kepada Novi karena terus terdiam.
"Mama, ayo jawab apa kalau ada orang yang minta maaf pada kita!!," seru Malika yang tengah melihat keduanya secara bergantian.
Ia semakin terpojok kali ini, matanya tengah kebingungan mencari alasan untuk Malika supaya dapat menghindar dari suasana tegang antara mereka berdua.
"Sayang kemari, Malika tadi kan mau mandi. Gimana kalau Malika mandi dulu ya nak" tutur Novi sambil mengarahkan Malika untuk segera masuk ke dalam toilet.
Malika yang mematuhi perkataan Novi, segera menuju kamar mandi.
"Mau apa lagi kamu datang kesini mas!" Novi terlihat membenarkan posisi duduknya sambil menutup rapat dadanya dengan hijab miliknya.
Karena keduanya telah resmi bercerai, maka Novi dengan baik menjaga auratnya agar jauh dari pandangan buruk setiap lelaki yang sedang didekatnya.
"Aku hanya ingin minta maaf, itu saja!" tegas Surya sambil mengulurkan tanganya.
"Sudah aku maafkan!" tanpa menghiraukan uluran tangan Surya.
"Jadi benar kan yang aku duga!, kamu tengah hamil anak pria itu" tuturnya kesal.
Belum semenit ia menyatakan permintaan maafnya, kali ini Surya dengan sadar memantik api perdebatan di antara keduanya.
"Kalau memang iya kenapa?, apa ada urusannya lagi denganmu mas?!. Anak itu tidak pernah salah, yang salah hanyalah jalan dia untuk diturunkan kemuka bumi ini. Dan perlu kamu ingat!, aku dan Wili tidak pernah sengaja melakukan hal bejat ini. Semua ini kecelakaan yang tak pernah aku inginkan, sejauh aku menjadi istrimu aku benar-benar menjaga diriku dari lelaki manapun. Jangankan aku mendekat dengan lelaki lain, pandangan mataku saja selalu aku jaga dengan baik. Tapi ..."
Tangisnya pecah ketika harus mengungkit luka lama yang telah tertata rapi untuk ditutupnya.
"Tapi apa?" lelaki itu mencoba menelisik lebih dalam.
__ADS_1
"Tapi, dengan mudahnya kamu menuduhku melakukan semua itu dengan kesadaranku mas!" bibirnya bergetar dan air matanya berderai ketika melanjutkan perkataannya.
Surya yang merasa bodoh dengan kesalahannya sendiri, kali ini hanya memandang wajah Novi dari kejauhan. Ingin sekali rasanya ia mendekap wanita itu dan menyerukan suaranya. Tapi dirinya sadar, semua itu takkan pernah bisa lagi ia dapati sekarang.
"Lagi pula, Tuhan lebih sayang dengan anak ini kan. Dia sudah kembali ke pangkuan sang ilahi. Ia lebih memilih jalan takdirnya sendiri dengan pilu, walau tanpa harus terlahir ke dunia ini terlebih dahulu. Lantas, apalagi yang kamu inginkan dan cari disini mas!" protes Novi berkelanjutan.
"Maafkan aku, aku sunggu minta maaf!"
"Maafkan aku!!"
Berulang kali Surya mengucapkan kata maaf pada Novi sambil terus menyesali setiap perbuatannya. Ia pun terlihat menitihkan air mata disudut ruangan tersebut.
"Mah, pah!. Kenapa dengan kalian, ada apa ini?. Kenapa semua menangis." ucap Malika yang baru saja mandi dan keluar dengan rambut setengah basah.
Gadis kecil itu kini telah beranjak dewasa, berbeda dengan Malika yang Novi temui pertama kali di panti asuhan. Dia dulu masih terlihat kecil dan tak berdaya, tapi kini ia semakin hari tumbuh dewasa dan mampu menjaga Novi dengan baik.
"Nggak papa sayang, sini" seru Novi sambil mengusap kering air matanya.
Novi sangat menjaga perasaan Malika jika semua itu berhubungan dengan papanya Surya.
"Tapi mah, kenapa papa terus menangis disana" tanyanya lesu.
Tanpa diminta, gadis kecil itupun dengan segera meletakkan sebuah handuk putih diatas kursi samping Novi. Dan dirinya dengan perlahan mulai menghampiri Surya dan kali ini terlihat duduk setara dengan tubuh Surya yang telah meringkuk.
"Papa, apa papa rindu dengan kamu?" sebuah pertanyaan itu seperti menghujam jantung Surya.
Kali ini bibir Surya pun tak mampu tuk menjawab pertanyaan pedih itu.
"Ayo kita pulang pa, Malika sangat rindu dengan papa. Kami selama ini berdua saja dirumah, setiap hari Malika nunggu kepulangan papa sambil menatap jendela kamar Malika. Tapi, Malika tak pernah melihat papa sekali saja mendatangi kami dirumah" jelas Malika mengiba.
Surya hanya meraih tubuh kecil itu, dan mendekapnya dengan erat tanpa bersuara.
"Kita pulang ya pa!, kita main sama-sama lagi. Tapi papa janji ya, jangan pernah lagi marahin mama apalagi ngebentak mama pah. Mama sangat menyayangi papa !"
Sembari mendengar ucapan Malika, Surya pun mengalihkan pandangannya kepada Novi. Wanita yang tadinya terlihat tegar itupun, hanya memalingkan wajahnya dan mengusap dengan pasti setiap air mata yang menetes membasahi pipinya.
Seakan tak ingin lagi mendengarkan ataupun melihat kepedihan ini lebih lama lagi.
"Maafkan papa ya sayang, mungkin nantinya papa akan lebih sering lagi untuk menjenguk Malika!" tegas Surya menguatkan gadis kecil itu.
__ADS_1
"Mama?!" tegas Malika.
"Yah, mama juga" suaranya kali ini terdengar serak dan hampir tak terdengar dengan jelas.
"Baiklah, Malika tunggu papa dirumah. Selalu ingat kami, dimanapun papa berada ya. Karena kami dirumah selalu menunggu kedatangan papa!" pinta Malika.
Entah dari mana gadis kecil itu mendapati semua perkataan demi perkataan yang terucap dari bibir kecilnya, yang pasti perkataan itu mampu membuat Surya luluh dan tak bergeming kemanapun.
Setelah cukup lama dirinya disana berbicara dengan Malika, ia pun segera berpamitan pada anak itu dan meninggalkan Novi tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Sesampainya dimobil, tangannya dengan kencang memukuli kemudi mobilnya. Dan menangis pilu merintih.
Ada sebuah perasaan yang tak mampu ia keluarkan tapi sesungguhnya dirinya sangat menginginkan hal itu. Janji yang terlanjur ia sepaki dengan mama Sinta, harus meremukkan jantungnya saat ini.
Sebuah janji yang jika dilanggar akan menyakiti hati orang tuanya juga, sungguh kali ini Surya tengah berada di persimpangan jalan yang sangat membingungkan bagi dirinya.
"Dimana kamu, mama harap kamu segera pulang secepatnya dari sana. Mama tidak ingin, jika kamu berlama-lama dengan wanita murahan itu" sebuah isi pesan singkat mama sinta kepada Surya.
Surya terlihat marah ketika mendapati Novi selalu disebut sebagai wanita murahan oleh mamanya, bagaimana tidak Novi selalu menjaga auratnya tertutup dengan baik dimanapun dia berada. Bagaimana mungkin dengan mudahnya, mama Sinta menuduhkan hal itu padanya tanpa sebuah bukti yang cukup kuat.
Dan kali ini, dirinya pun terlihat segera pulang untuk menemui mamanya dirumah.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
*
__ADS_1
...💐Abis baca komen dong💐...