
Minuman saat itu datang dan telah ditata diatas meja oleh salah satu pelayan, dengan pucat Juna memandang minuman itu. Jangankan untuk meminum, tanganya saja tak berani untuk beranjak mengambil gelas tersebut. Semua temannya ramai mengambil miliknya masing-masing, sementara dirinya hanya diam.
"Kamu kenapa si Jun?, ayo minum. Kayak ngelihatin racun aja kamu ini." seru Milen sambil menenggak minuman miliknya.
"Ntar aja ." sahut Juna lirih.
Dengan mengepalkan kedua tangannya saat itu, hatinya berkecamuk tak karuan. Jauh didasar hatinya, ia menentang berada ditempat ini. Tapi raganya saat ini membutuhkan waktu untuk menyendiri, merasa tak ingin diganggu oleh siapapun.
"Jangan dipaksakan kalau memang hati kamu menentang untuk ngelakuinnya Jun," ujar sahabatnya Antonio yang selalu mendukung hal baik untuk Juna.
"Iya, aku cuma lagi kepikiran mama aja dirumah," jelas Juna yang perlahan membuka topik untuk bercerita pada Antonio.
"Kalau begitu, kamu pulang saja dulu. Percuma tubuh kamu berada diluar tapi pikiran kamu masih dirumah, semua nggak perlu dipaksakan Jun." jelas Antonio.
Dia yang menuruti ucapan Antonio saat itu, beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada teman yang lainnya.
"Sorry ya, gua pulang dulu. Kalian lanjut aja, semua sudah aku bayar." ucapnya berpamitan kepada semua temannya.
"Oke Jun, hati-hati ya." sahut Milen dan beberapa diantara mereka hanya melambaikan tangan.
Sudah menjadi kebiasaan Juna sedari dulu, dirinya yang dulu pernah masuk ke lembah hitam selalu mentraktir semua temannya. Dan tradisi itu berlaku sampai sekarang, dimanapun mereka bertemu, Juna lah yang akan siap mengeluarkan uang untuk mereka.
Sementara ditempat lain, Citra yang memutuskan untuk berkumpul dengan teman-temannya saat itu menuju salah satu cafe yang tak jauh dari kantor milik mertuanya. Tak jauh berbeda dengan Juna, dia juga lebih memilih bersama semua temannya saat pikirannya dilanda rasa kalut.
"Hai Cit," sapa Meta dari kejauhan yang melambaikan tangan.
Citra yang menyadari lambaian tangan Meta, lalu menghampirinya. Dengan muka masam ia menarik salah satu kursi , dan segera duduk.
"Cuma kalian berdua, mana yang lain." tanya Citra pada ke dua temannya itu.
"Mereka nggak bisa datang hari ini, biasa lagi sibuk." sahut Gisela.
"Apa kabar ni nyonya muda. Gimana setelah nikah muda Cit, enak nggak ? bagi ke kita dong resepnya biar cepetan ngusulin kamu." ejek Meta.
"Apaan si basi !," sahut Citra ketus.
__ADS_1
"Lagi nggak mood kayaknya Met, jangan diganggu dulu." ucap Gisela.
Gisela yang tengah duduk dikursinya, lalu memanggil salah satu karyawan cafe.
"Mas, mas. Mau pesan minuman dong." pinta Gisela pada seorang karyawan cafe.
"Baik mbak, ini buku menunya silahkan ditulis pesanannya." ujar salah seorang karyawan.
"Pelayanan macam apa ini, kita pembeli ya!. pembeli adalah raja, kenapa disuruh nulis si." umpat Citra kesal pada pria dicafe itu.
"Sssstttt, apaan si Cit. Maafkan teman saya ya mas, dia lagi datang bulan jadinya posesif." ujar Meta mengarang cerita.
Karyawan cafe tersebut tidak merespon apapun yang keluar dari mulut Citra saat itu, hanya berdiri dan tersenyum sambil menunggu buku yang telah ditulis oleh Gisela sampai selesai.
"Oke mas, ini sudah ya. Terimakasih," ucap Gisela manis.
"Baik mbak, ditunggu ya untuk pesanannya. Kami akan segera mengantarnya kemari." ucap karyawan cafe.
Dengan membawa sebuah buku menu ditanganya, ia berlalu dari hadapan tiga wanita tersebut. Dirinya memiliki paras yang tampan serta senyum menawan, sehingga dia menjadi idola oleh semua tamu yang berkunjung dicafe itu.
"Cit, please nggak perlu kayak gitu lagi deh. Emang kamu nggak pernah apa ke cafe yang punya aturan seperti ini. Pakai acara maki-maki anak orang lagi." cecar Meta.
"Do'i makin ganteng aja yah, kira-kira sudah punya pasangan belum ya. Kalau pun sudah, boleh lah aku menjadi yang kesekian tak apa. Sudah lama jadi incaran aku," celoteh ngawur Meta pada Gisela.
Saat itu Gisela hanya melempar senyuman pada Milen, mendengar apa yang di ucapkan oleh Milen membuat hati Gisela sedikit geli. Gisela yang terlampau cuek dengan seorang lelaki, membuatnya tidak begitu minat dengan ketampanan pria tersebut.
Lain dengan Citra yang saat itu diam-diam mendengar semua celoteh Meta dengan kesungguhan hati. Dengan berpura-pura memasang muka masam saat karyawan tersebut menghidangkan makanan di atas meja, ia melirik sebuah papan nama kecil yang menempel dibaju karyawan cafe tersebut.
Dia lalu mengingat nama karyawan tersebut dengan baik, tanpa dia sadari dirinya juga memandangi wajah lelaki tersebut dengan lekat.
tampan juga ternyata. gumam Citra
"Terimakasih ya mas." ucap Meta dengan sedikit manja.
Gisela yang melihat tingkah laku Meta saat itu hanya bergidik menatapnya. Sementara Citra yang memandangi Meta saat itu, justru dibuat semakin penasaran untuk mendapatkan karyawan cafe tersebut. Sedari dulu, mereka memang kerap berlomba untuk menaklukkan banyak hati lelaki. Mereka berdua seolah tak mau kalah dengan satu sama lain, dan ingin membuktikan bahwa dirinya yang hanya sanggup membuat hati lelaki tersebut takhluk.
__ADS_1
"Lihat aja, nggak bakal lama lagi dia pasti jadi milik gue," ucap serapah Meta pada ke dua temannya itu.
Citra hanya menghela nafas panjang saat Meta menyombongkan dirinya.
Saat semua makanan mereka telah habis, mereka saling berpamitan untuk bergegas pulang saat itu. Masing-masing dari mereka berlalu menaiki mobilnya, sementara Citra yang saat itu terlihat sibuk didalam mobilnya tengah mencari sebuah kunci yang terjtuh.
Karena dirinya saat itu tengah terburu-buru saat menemukan kuncinya dengan segera ia memacu mobil miliknya, ia yang tak sadar akan kehadiran seorang laki-laki tengah melintas didepan mobilnya dia pun dengan cepat menginjak rem mobil.
Braakkkk
Bunyi sebuah benda tertabrak oleh mobilnya, tubuhnya juga ikut terpental saat berada didalam mobil. Lalu ia pun dengan segera keluar dari mobil dengan perasaan terkejut melihat seseorang sudah terkapar dan mengerang kesakitan berada didepan mobilnya.
Dirinya berlari menghampiri pria tersebut, dan mencoba membantunya berdiri.
"Tolong maafkan saya," ucap Citra yang tengah meminta maaf dan terhenti seketika saat dia mengetahui bahwa orang yang dia tolong ternyata Ariel, salah satu seorang karyawan cafe.
"Loh, mbak yang tadi kan." ucap Ariel menunjuk wajah Citra.
"Ternyata loe," ujar Citra kesal menolong Ariel.
Dengan cepat ia melepaskan tangannya untuk membantu Ariel saat itu, lalu dengan cepat membuka pintu mobil untuk mengambil sebuah tas dan sejumlah uang.
"Ini, buat kamu berobat." ucap Citra dengan menyodorkan sejumlah uang ke muka Ariel saat itu.
"Maaf mbak, nggak perlu. Simpan saja uangnya." tolak Ariel dengan mengerang kesakitan.
"Kamu ni gimana sih, aku nggak bisa antar kamu ke dokter karena harus buru-buru pulang. Atau gini aja deh, kamu simpan kartu nama saya untuk berjaga-jaga kalau kamu kenapa-napa." Citra mencoba memberi penawaran lainnya.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
__ADS_1
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️