
Terlihat mobil Citra terparkir disebuah tepi jalan, lantas dirinya segera turun dari mobil untuk menyebrang dan menghampiri sosok pria berbadan gempal berkulit sawo matang yang berdiri mengenakan topi yang sudah menunggu dirinya dari beberapa menit yang lalu.
"Mana barangnya" Citra terlihat meminta pesanan yang sudah ia pesan melalui pesan singkat kemarin.
"Ini mbak, semua sudah saya racik sesuai kebutuhan yang mbak perlukan. Dan ingat mbak, jangan berlebihan dalam penggunaannya." pria itu menjelaskan efek samping jika menggunakan obat tersebut berlebihan.
"Udah jangan banyak omong, cepat masukin ke kantong ini." ujar Citra membuka sebuah kantong kecil bewarna merah.
"Baik mbak, terimakasih." ucap pria bertubuh gempal sambil berjalan meninggalkan Citra ditempat itu.
Pasalnya Citra sudah melakukan pembayaran dengan mentransfer sejumlah uang senilai barang tersebut. Dan memberikan beberapa tips untuk penjual tersebut, karena sudah mau meracikan sesuai kebutuhan dirinya per hari.
Sambil menggenggam obat tersebut, Citra terlihat senyum menyeringai. Dendam yang begitu menggebu dalam hatinya kini tak dapat lagi ia hentikan. Sebuah rencana akan ia lancarkan pada Novi hari ini juga.
Pim Pim ...
Citra membunyikan klakson mobil berulang kali didepan pagar rumah, pak Ujang yang mendengar suara klakson tersebut dengan segera membukakan pintu pagar. Tanpa ekspresi yang berarti Citra membuka kaca mobil dan berlalu begitu saja dari pandangan pak Ujang yang sudah menyambutnya dengan senyuman.
Ia pun mematikan mesin mobilnya dan terlihat turun lalu memasuki rumah dengan segera. Dirinya saat itu lalu menuju dapur untuk meracik sebuah minuman yang akan diberikan pada Novi, si mbok yang mendapati sosok Citra didapur menyambut dengan hati gembira.
"Eh mbak Citra. Mau bikin apa mbak, boleh si mbok bantu." ujar si mbok dengan tulus.
"Nggak perlu, tadi si mbok kayaknya dipanggil mama dikamar. Cepat kesana, mungkin mama butuhin sesuatu." nadanya setengah ketus menimpali ucapan si mbok, tapi tanganya terlihat sibuk mengaduk sesuatu.
"Oh begitu ya, si mbok nggak dengar. Kalau begitu si mbok tinggal ke atas dulu ya mbak." pamit si mbok dengan tergesa-gesa.
Sementara si mbok berlalu dari dapur, ia pun mulai terlihat membuka sebuah lipatan kertas kecil yang berisi serbuk putih yang kemudian ia campurkan ke dalam minuman tersebut. Dirinya pun mengaduk serbuk tersebut hingga tercampur rata dan larut dengan baik pada minuman yang akan diberikan pada Novi.
Tanganya yang sudah siap memegang segelas minuman, lalu beranjak untuk mencari keberadaan Novi saat itu. Ia pun terlihat mengelilingi rumah tapi sayangnya tak menjumpai sosok Novi dimanapun, akhirnya ia memutuskan untuk segera naik ke atas dan mengetuk kamar Novi dan Surya.
__ADS_1
Tok ... Tok ...
Dengan penuh keyakinan ia berdiri didepan pintu kamar Novi dan Surya.
"Mau ngapain Cit" ujar Surya yang membuka pintu kamar tersebut dengan muka yang sedikit kesal.
"Eh mas Surya, ini Citra bawain segelas susu kedelai buat mbak Novi. Ini bagus buat pertumbuhan si kecil lo mas, baik juga buat mbak Novi." jelas Citra yang mengada-ada.
Novi yang mendengar suara Citra dari dalam kamar, ia pun berjalan keluar untuk menjumpai Citra saat itu.
"Cit, bawa apa itu" sambut Novi penuh gembira.
"Buat kamu nih mbak, susu kedelai" tanganya terlihat menyodorkan sebuah gelas ke arah Novi.
"Ah iya, aku suka banget minum susu kedelai. Terimakasih ya sudah repot-repot mau belikan ini buat aku," Novi kegirangan dan langsung meminum habis semua susu kedelai tersebut.
Anak pintar, minum yang banyak susu itu jangan sampai tersisa sedikit pun. Susah payah aku dapatkan obat itu untuk kamu mbak, ada baiknya kamu turuti semua perkataan aku mulai detik ini. Aku jamin prosesnya tidak akan begitu menyakitkan, perlahan tapi pasti. Aku akan pastikan obat tersebut bekerja dengan baik setiap harinya untuk kamu dan calon anak kamu. Karena dengan ini, kamu akan dengan mudah keguguran dalam waktu dekat. gumam Citra licik dalam hatinya.
"Terimakasih ya," Novi terharu saat mendengar ucapan adik iparnya yang sangat menyentuh hatinya.
"Sama-sama mbak, sudah kamu istirahat dulu aja yang banyak. Sini gelasnya, biar aku simpan didapur." sahut Citra yang masih menutupi semua rencana busuknya.
Ia berjalan meninggalkan Novi dan Surya dengan senyuman terlicik yang pernah terpancar diwajahnya. Entah terbuat dari apa hatinya, sampai setega itu melakukan hal keji pada kakak iparnya sendiri.
"Sayang, apa kamu nggak merasa aneh dengan sikap Citra kali ini?" tanya Surya yang berjalan dibelakang Novi.
"Aneh kenapa mas, malah bagus kalau dia sudah bisa mengendalikan semua rasa egonya." tukas Novi segera.
"Aku sedikit curiga dengan sikapnya yang mendadak baik dengan kita. Terlebih dengan calon anak kita ini, dirinya seakan menggebu untuk melakukan semua hal baik" jelas Surya dengan perasaan bimbang.
__ADS_1
"Hus, mana boleh kita su'udzon begitu mas. Yang ada kita harus berbaik sangka pada Citra kan, mungkin saja saat ia mendengar kabar kehamilanku dirinya juga termotivasi untuk segera memiliki momongan dengan Juna. Jadi sekarang ia juga belajar bagaimana cara menjaga kehamilan dengan baik melalui aku." Novi memberikan pandangan yang sedikit baik tentang Citra pada suaminya tersebut.
"Semoga saja dia seperti apa yang kamu pikirkan sayang." sahut Surya.
"Akhhh" Novi tiba-tiba saja merasakan keram pada perutnya sesaat meminum susu kedelai dari Citra. Terlihat ia mencengkram perutnya dengan kuat, dan memekik lirih kesakitan.
"Eh kenapa kamu, apa ada yang sakit?. Sebelah mana sayang, apa perlu kita ke dokter sekrang juga" tanya Surya yang terlihat cemas melihat Novi meringis kesakitan.
Novi memutuskan untuk duduk diatas ranjang dan segera menaikkan ke dua kakinya untuk diluruskan diatas tempat tidur. Sementara Surya tengah sibuk menebarkan sebuah tumpukan bantal untuk Novi bersandar.
"Sudah kamu istirahat dulu yang banyak. Jangan banyak gerak dulu, aku takut kamu kenapa-napa." ujar Surya sambil memijat ringan kaki Novi.
Novi hanya mengangguk patuh tanpa perlawanan, ia masih terlihat menutupi rasa kram perut yang tiba-tiba menghampiri dirinya saat ini.
"Nya, tadi kata mba Citra nyonya manggil saya. Ada yang bisa saya bantu?." ucap si mbok yang berada didalam kamar mama Sinta.
"Endak mbok, saya nggak manggil si mbok sama sekali" ujar mama yang memegangi sebuah buku untuk Malika.
"Tapi ..." si mbok lalu menghentikan ucapanya, dan mencoba berpikir ulang tentang perkataan Citra dibawah tadi.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
__ADS_1
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️