Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Menentang


__ADS_3

Dengan raut wajah yang musam, dan perasaan yang tak menentu ia memutuskan untuk pergi dari rumah untuk menemui Renata saat itu juga.


"Kemana lagi kamu !"


"Surya ...!"


"Surya!!" teriak mama Sinta menggema di seluruh rumah.


Tetapi putranya itu sama sekali tak menghiraukan dirinya sedikitpun disana.


Setibanya didalam mobil, ia pun memutuskan untuk menghubungi Renata untuk menentukan lokasi pertemuan mereka.


"Re, dimana kamu!" suara Surya dengan nada sedikit membentak .


"Aku diluar, ada apa?" suara Renata lirih berbisik, kali ini dirinya berkelit kepada Surya karena sedang berada dirumah Novi.


"Cepat temui aku di taman movley sekarang juga!" pungkas Surya dan cepat-cepat menutup teleponnya.


Renata yang bingung, dan tengah menjauh menerima telpon dari Surya kemudian mendekati mereka bertiga lagi untuk segera berpamitan dari sana dan menuju lokasi yang telah ditentukan oleh Surya .


"Hm, maaf semua saya ijin pulang duluan yah. Soalnya ada keperluan mendadak!" ucapnya kikuk.


"Baiklah, terimakasih sudah menyempatkan untuk datang kesini ya " tutur Novi lembut.


Sementara Juna dan Pricilia tak memberikan satu patah katapun saat itu melainkan senyuman .


Dirinya yang telah tergesa-gesa memacu mobilnya dengan sangat cepat agar bisa sampai di taman lebih cepat dari pada Surya.


Disebuah taman yang cukup luas, Renata tengah mencari-cari keberadaan Surya disana. Karena Surya telah tiba dititik lokasi lebih dulu darinya.


Tampak seorang pria tengah duduk didekat sebuah kolam ikan dengan suara gemericik air disana dengan mengenakan kemeja berwarna hitam.


"Hei, ada apa sebenarnya?" sapa Renata tanpa basa-basi dan telah mengenali Surya dari kejauhan.


"Duduklah!" suara Surya tegang.


Wanita itu hanya bisa menuruti permintaan dirinya dengan cepat.


"Kenapa kamu tidak menolaknya!"


"Aku?!, aku sudah menolaknya didepan mama kamu. tapi mereka semua bersikeras menyatukan kita berdua" sahut Renata yang sudah mengetahui kemana alur pembicaraan Surya .


"Haruskah aku menemui papamu juga untuk menolak semua ini !"


Renata masih saja terdiam dengan semua kemarahan Surya saat itu, dia tak mungkin menghentikan langkah Surya dalam keadaan penuh amarah seperti ini.


"Camkan ini dengan baik!, meskipun kamu ataupun orang tua kamu mengiba dihadapan diriku sekalipun aku takkan merubah semua pendirian ku. Aku akan tetap menolak perjodohan kita!" ujar Surya dengan tegas .


Kali ini dirinya tengah berdiri dan meninggalkan Renata begitu saja dengan ketus.

__ADS_1


"Bersabarlah sedikit saja, aku tengah berusaha untukmu juga disini ..." gumam Renata yang menatap kepergiannya.


Wanita yang dulu kerap ia panggil seorang sahabat itu, kini tengah memperjuangkan kebahagiaan Surya yang sesungguhnya. Tidak ada terbesit niat dihatinya untuk memiliki diri Surya dengan rasa keterpaksaan , ia hanya ingin teman lamanya itu menemukan kebahagiaannya kembali.


*


*


*


Sementara Juna sibuk membujuk rayu Novi dirumahnya.


"Ayolah mbak, tolong kembalilah dengan mas Surya . tolong kembalikan suasana rumah yang nyaman seperti dulu mbak. Aku mohon!" pinta Juna dengan wajah penuh iba dihadapannya.


"Tidak!, mbak sudah nggak bisa kembali lagi ke rumah itu sekarang!" tolak Novi tegas .


"Semenjak kepergian mbak Novi dan Malika dari rumah mama, rumah itu seketika berubah menjadi neraka sekarang" singkat cerita Juna.


"Mbak yakin semua akan kembali membaik dengan cepat. lagipula, Renata wanita yang tepat untuk mendampingi kakakmu bukan?"


"Mas Surya bukan lelaki yang mudah ditaklukkan mbak!, dia sangat beda. Jika dia sudah menemukan sebuah kenyamanan perasaan disatu hati, ia pasti akan tetap bertahan disana dengan kondisi apapun."


Juna masih saja terus membela kakak semata wayangnya itu didepan sang mantan Kaka iparnya.


*


*


*


"Mana mungkin!" ucap Roy dengan membelakangi wajah putrinya.


"Tapi pa ...!" rengek Renata.


"Sudahlah, turuti ucapan papa kali ini " sahut Sando kakak Renata.


Dia adalah Sando Pranata, kakak lelaki dari Renata. Sando adalah lelaki dengan segala kelemah lembutannya. Dirinya masih memilih sendiri hingga saat ini, karena belum mendapatkan pasangan yang cocok dihatinya. Meskipun tak dapat dipungkiri, banyak wanita yang mendekati dirinya.


"Diamlah kak!, urus saja dirimu sendiri. Jika dirimu saja belum laku kenapa kau menyuruhku untuk menikah!" omel Renata seperti layaknya anak kecil.


"Sebentar lagi !" sahut Roy dengan geram .


"Kapan pa!, nikahkan saja dulu dia. Agar ada yang mengurusinya lebih baik lagi." seru Renata kesal.


"Tidak ada yang bisa mengurusku lebih baik dari pada almarhum mama!, kau ingat itu!" timpal Sando dengan sinis dan memilih meninggalkan ruangan kerja papanya.


Mama Renata yang baru saja meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh membuat luka mendalam bagi Sando atas kepergiannya.


Dia adalah anak yang sangat dengan mamanya, bahkan seringkali Sando masih sering tertidur dipangkuan mamanya meskipun dirinya sudah tumbuh dewasa.

__ADS_1


"Kenapa sih, kamu suka sekali menggoda kakakmu itu !." ucap Roy memarahinya.


"Aku bukan menggodanya pa, apa yang aku katakan itu benar kan?!"


"Tidak!"


"Apa kamu lupa dengan wasiat mamamu, tidak ada yang boleh menjodohkan anak lelakinya itu termasuk papa sekalipun!" kenang Roy kepada mendiang istrinya.


"Kalau begitu, perlakukan aku seperti dia!" pinta Renata kembali merengek.


"Papa sudah mempersiapkan segalanya dengan Sinta, kenapa kamu malah mau merusaknya Re!"


"Kalau begitu, perayaan besuk untuk papa dengan Tante Sinta saja. Kalian pasangan serasi, sama-sama sendiri saat ini !" sahut ketus Renata sambil menutup pintu ruangan Roy dengan kasar.


*


*


*


"Ciiiittt ...!!" suara gesekan ban mobil dan jalanan aspal saling bertautan.


"Blak!, ah maafkan saya. Apa anda baik-baik saja?" ucap Sando mengkhawatirkan keadaan perempuan yang hendak ia tabrak disana.


Perempuan tersebut hanya terlihat mengangguk pelan, sambil memegangi tangannya yang sedikit lebam.


"Mari saya antarkan ke dokter!" seru Sando meminta.


"Tidak perlu, saya baik-baik saja"


"Tapi luka anda bagaimana?"


Sando sangat riskan jika melihat luka ataupun penyakit sekaligus, ia sangat tak ingin jika apa yang dialami mamanya harus terjadi kepada orang disekitarnya.


"Nanti akan saya obati dirumah"


"Tolong, sekali ini saja turuti permintaan saya. Anggap saja ini permohonan maaf dariku!" bujuk Sando karena rasa bersalahnya.


Dengan terpaksa, wanita yang mengenakan hijab bewarna biru muda itu naik kedalam mobil Sando .


"Hah"


"Blak!, baiklah" gerutu Sando dengan cepat menutup kembali pintu mobilnya.


Sando terkejut karena pintu mobil yang tengah ia bukakan untuk wanita itu tak disambut olehnya. Wanita itu lebih memilih untuk duduk di kursi belakang, ketimbang harus duduk bersebelahan dengan Sando didepan.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam tanpa kata, Sando yang sangat pemalu jika bertemu seorang perempuan pun tak dapat membuka topik pembicaraan saat itu. Ia hanya mampu mencuri pandang melalui kaca mobil miliknya untuk menatap wajah cantik wanita berkerudung tersebut.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung ❤️


__ADS_2