Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Keputusan suamiku


__ADS_3

Pagi hari itu, suasana terlihat berjalan seperti biasanya. Sampai pada akhirnya suasana berubah menjadi tegang saat Citra turun dengan menyeret sebuah koper yang berisi bajunya.


Semua orang memandanginya dengan seksama, Juna yang saat itu terpancing oleh emosi karena kelakuan Citra yang tak kunjung membaik, tetapi semakin menjadi. Dengan kesal dia berjalan menghampiri Citra yang masih menuruni anak tangga dengan pasti.


"Cukup, cepat kembali ke kamar sekarang." pinta Juna dengan penuh emosi.


"Sejak kapan kamu berani atur aku seperti itu." ujar Citra.


"Aku bilang cukup!." sahut Juna yang sudah mengangkat tanganya untuk menamp*r Citra.


"Kenapa berhenti, ayo lanjutin. Aku mau tau sampai dimana keberanian kamu didepan semua orang." tantang Citra pada suaminya.


Plaaaak


Suara tamparan Juna yang melayang pada pipi Citra.


Saat itu, Citra yang merasa sangat terluka oleh sikap suaminya itu. Dengan cepat ia menyeret koper miliknya ke arah ruang tamu, mama dan beserta kakaknya hanya diam. Bukan mereka tak sayang dengan adik-adiknya itu, melainkan mereka ingin agar Citra dan Juna dapat menyelesaikan setiap permasalahan dengan baik.


Citra yang saat itu telah berlalu menggunakan mobil pribadinya dengan segera meninggalkan rumah itu. Dia lebih memilih pergi ke hotel dari pada pulang ke rumah orang tuanya saat itu.


Suasana dirumah saat itu masih diselimuti dengan ketegangan Juna, mama beserta Surya menghampiri dirinya dan mencoba menenangkan.


"Tenangkan dirimu dulu, baru berpikirlah dengan baik." tutur mama Sinta.


"Iya ma." ucap Juna dengan lemah.


Surya yang tak mengeluarkan satu katapun, saat itu hanya menguatkan genggaman tangannya pada pundak Juna. Seakan ingin menguatkan adiknya dengan cara yang berbeda. Dari kejauhan Novi hanya mampu memandangi keadaan saat itu, seperti biasa dirinya tak ingin mencampuri masalah apapun dalam rumah itu. Kecuali, Surya atau pun mama Sinta meminta pendapat dari dirinya.


Citra yang sudah sampai dihotel bintang lima yang terletak tidak begitu jauh dari kediaman rumah mertuanya itu, lalu segera menuju resepsionis saat itu. Dia yang sudah membooking kamar sejak tadi malam, hari itu dia hanya tinggal mengambil kunci kamarnya.


Dan saat tiba dikamar 707, dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang putih itu. Saat ini, yang hanya ada dipikirannya adalah hanya ingin menjauh dari keluarga suaminya. Dia merasa ini adalah keputusan yang terbaik.


Sedangkan dirumah saat itu, Juna tampak sedang sibuk menghadap layar laptop miliknya. Dia yang saat itu tengah dikuasai oleh egonya, seakan tak mau kalah dengan ulah Citra saat itu. Dirinya pun memblokir seluruh kartu kredit beserta atm yang dia fasilitaskan pada istrinya tersebut.


Dia ingin, dengan caranya ini Citra dapat berpikir dua kali saat ingin meninggalkan rumah ini. Sedangkan Citra yang saat itu tengah memesan sebuah makanan dan memilih untuk membayar dengan kartu debit miliknya terkejut karena tidak bisa.


"Maaf bu, ini kartunya telah diblokir dan tidak dapat digunakan disini." suara salah satu pelayan resto.

__ADS_1


"Nggak mungkin mbak, mana mungkin kartu saya nggak bisa si." ujar Citra dengan kesal, dia pun mengeluarkan seluruh kartu miliknya dalam dompetnya saat itu.


"Maaf bu, yang ini juga tidak bisa dipakai." tegas pelayan resto.


"Mana mungkin, mbak kali yang nggak bener kerjanya. Coba sekali lagi, masak segini banyak kartu saya tidak ada yang bisa." maki Citra pada pelayan itu, sambil teriak.


Seorang pria dengan pakaian rapi dan mengenakan jas hitam terlihat menghampiri salah satu karyawan tersebut. Dia adalah manager resto tersebut, dengan segera dia meminta karyawannya agar meminta maaf pada Citra saati itu.


"Maafkan atas pelayanan kami yang membuat ibu tersinggung ya. Mari saya bantu ibu untuk melakukan pembayaran." ucap pria sambil menundukkan kepalanya didepan Citra.


"Boleh, silahkan." jawab Citra dengan sombong.


Saat semua kartu dicoba berulang kali didepanya itu, tetap saja tidak membuahkan hasil. Dia harus menelan malu, karena seluruh kartunya tidak dapat digunakan saat itu. Hanya bisa mendengus kesal dia saat itu.


"Maaf ya bu, karena memang seluruh kartu anda tidak bisa digunakan malam ini jadi saya sarankan lebih baik anda memilih melakukan pembayaran dengan cara lain saja." ucap santun manager resto tersebut.


Dengan cepat dia mengeluarkan uang yang ada didompetnya saat itu, saat sudah selesai menyelesaikan semua pembayaran dia segera menuju kamarnya saat itu. Seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan Juna hari ini kepadanya.


Citra yang selalu bergantung hidup mewah pada Juna, kali ini rasanya tidak bisa jika hidup berjauhan dengan suaminya itu. Dirinya mengambil ponsel miliknya dan segera menghubungi Juna, tapi sayangnya Juna tidak merespon panggilan dari Citra saat itu.


"Jun, coba duduk dekat mama sini." pinta mama pada Juna saat itu.


" Iya ma." sahut Juna segera.


"Mama mau bilang sama kamu, kamu adalah kepala keluarga bagi Citra saat ini. Jadi apapun jalan yang kamu ambil saat ini, itu adalah keputusan yang sudah matang kamu pikirkan dengan baik.


"Juna sudah pikirkan semua dengan baik ma, saat ini Juna sudah memblokir seluruh akses kartu milik Citra. Supaya lain kali saat dirinya ingin keluar dari rumah ini berpikir dua kali." seru Juna kesal.


"Mama tidak menyalahkan atas tindakan yang kamu ambil saat ini, tapi hanya saja mama kurang setuju dengan cara kamu. Apa kamu sudah tau permasalahan apa yang tengah di alami Citra saat ini?." tanya mama.


"Sudah ma." jawab Juna singkat.


"Baiklah kalau kamu sudah mengerti, kamu tahu mama kan. Mama hanya inginkan yang terbaik buat kalian semua, mama juga sebenarnya tidak ingin mengatur. Hanya saja mengarahkan ke arah mana baiknya untuk kalian. Kemarin, sebelum mama sampaikan masalah ini pada Citra mama juga sudah utarakan pada kakakmu Novi. Dia juga sebenarnya keberatan dengan ide mama, dan dia sempat menolak. Tapi karena mama memohon agar dia bisa mengajari istrimu dengan baik, akhirnya dia setuju. Belum sampai terlaksana permintaan mama itu, kalian sudah bertengkar hebat lagi tadi. Mama pribadi minta maaf sama kamu ya nak." jelas mama panjang lebar pada Juna sambil memeluknya.


"Aku mohon ma, jangan pernah ada kata maaf dari mama. Hanya Citra saja yang tak mampu menyadari kasih sayang dari mama dan kak Novi, dia masih kekanak-kanakan. Juna yang minta maaf ke kalian, karena sudah dibuat susah dengan ulah Citra." ujar Juna dengan mata berkaca-kaca.


...----------------...

__ADS_1


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


----------------


Jangan lupa untuk mampir ke sini ya, salah satu rekomendasi novel terbaik yang buat kalian baca juga❤️❤️❤️




DADDY LUCAS


(Tyatul)



Menjadi seorang duda saat anaknya baru terlahir ke dunia membuat seorang Lucas Abraham harus menjadi single parents untuk putrinya diusia baru menginjak 23 tahun.


Istri tercintanya meninggal saat melahirkan putri cantiknya ke dunia. Diketahui sang istri terkena racun yang sudah menyebar ditubuhnya selams ini.


Bayi bermata biru itu Lucas namai, Laura Abrahan agar nama istrinya selalu melekat dalam diri Laura.


"Daddy janji akan selalu menyayangimu sayang."


Hingga saat dimana Laura kecil selalu menanyakan dimana Mommynya? Apa Mommy akan pulang?


Dengan kedatangan seorang wanita yang mirip dengan mendiang istrinya membuat Lucas goyah akan pendiriannya untuk terus mencintai sang istri.


Apalagi Laura selalu memanggil wanita itu Mommy.

__ADS_1


__ADS_2