Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Salah menantu


__ADS_3

PLAKK!!!


Suara tamparan itu terdengar begitu kuat dan menyisakan bekas merah dipipi Citra.


"Berani-beraninya kamu membuat putraku seperti ini !!!" maki mama Sinta.


Tatap matanya begitu garang dan seperti singa yang siap untuk menerkam mangsanya. Sebagai seorang ibu, tentu ia memiliki insting yang tajam kepada putranya.


"Ma ...suu--" cela Surya yang tiba-tiba terpotong ditengah jalan, karena mama Sinta sudah mengangkat satu tangannya.


"Cukup, diam saja kamu!. Biar mama yang selesaikan dengan wanita kurang ajar ini." seru mama yang menatap tajam Citra.


"Tolong dengerin Citra dulu ma, Citra mohon sama mama. Citra mohon ...!" ibanya sambil terus menarik tangan mama Sinta dan bersimpuh dikakinya.


"Saya nggak sudi lihat air mata buayamu itu, cukup kali ini saja kamu melukai anak saya!." tutur mama.


Tak lama kemudian, 3 orang polisi telah tiba dirumah sakit itu. Dan segera berjalan mendekati mereka disana.


"Selamat siang, apa benar anda ibu Citra?" tanya salah seorang polisi.


Citra hanya mengangguk lemas dan ketakutan sambil menggigit ujung jari tangannya.


"Ibu harus ikut dengan kami saat ini, untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahan ibu!" tegas polisi tersebut.


"Tidak, saya tidak bersalah pak. Bukan ss-saya pelakunya!" teriak Citra yang tengah tersudut.


"Tolong berikan penjelasan itu nanti dikantor polisi saja bu, sekarang ikut dengan kami !"


Ceklek, tangan Citra sudah terlilit oleh sebuah borgol. Dan ia hanya bisa memelas dan mengiba menatap mama Sinta dan Surya disana.


"Hei masss ... tolongin aku!, tolong bilang sama mama bukan aku pelakunya mas. Hei ... aku mohon jangan diam aja kamu mas !!!. Maa, Citra nggak bersalah ma ... tolong lepasin Citra"


Tangis Citra pecah mengiringi dirinya yang sudah digelandang oleh tiga orang polisi saat itu.


"Ma, apa-apaan ini. mama main tuduh tanpa bukti !" protes Surya.


"Feeling mama cukup kuat kalau dia memang sengaja melukai Juna kali ini !. Mama sendiri yang akan mencari bukti itu, sambil menunggu Juna siuman." ucapnya sambil menatap sinis Surya yang masih saja mengelak untuk menyelamatkan Citra.


"Kamuuu, siapa kamu!" tanya mama Sinta ke arah Wili.


Wili yang sedari tadi menyaksikan drama keluarga ini, hanya diam saja dengan berdiri dan setengah bersandar.


"Saya Wili, saya ada disini karena tadi mengantarkan anak anda dan mbak Citra" jelasnya dingin.


"Kamu sebut dia mbak?, berarti kamu mengenal dia?" kali ini pertanyaan pun dilayangkan mama Sinta dengan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Yah, sudah lama wanita itu menyewa rumah kami untuk ditempati. Dan sehari-harinya saya juga sering bertemu denganya" jelas Wili dengan sedikit sombong.


"Kalau begitu, kamu bisa jadi saksi kunci untuk menuntut wanita itu dipengadilan nantinya!" tegas mama penuh keyakinan.


Wili hanya nyengir saat mendengar ucapan mama Sinta saat itu.


"Anda berani bayar saya berapa hah?!" tantang Wili.


"Berapapun yang kamu mau, akan saya tuliskan nominal itu dicek nantinya untuk kamu!" mama Sinta menjawab telak tantangan Wili disana.


"Oke, kita sepakat!" ujarnya yang mulai mendekat ke arah mama Sinta dan berjabat tangan.


Mama Sinta pun menyambut tangan Wili penuh dengan antusias.


Wili yang kali ini lebih memilih untuk membuka kesaksiannya demi Juna, rela menyerang balik untuk menusuk Citra dari belakang. Ia kali ini tak segan melakukan semua itu karena dirinya sadar tengah membutuhkan biaya lebih untuk mempersiapkan segala kebutuhan anaknya kelak.


"Ini kunci adik ipar anda!, tolong jaga baik-baik adik anda didalam. Jangan sampai dia sendirian kali ini, sama persis seperti istri anda. Dia tengah sendirian diluar sana dengan putri kecilnya bukan?"


Surya memicingkan matanya ke arah Wili dan sempat ingin menjawab semua lontaran perkataannya saat itu. Tapi Wili dengan cepat pergi meninggalkan rumah sakit.


Siapa lelaki itu, kenapa dia bisa tau dengan jelas keadaan Novi kali ini. Apa memang ada hubungannya dengan semua masalah ini. gumam Surya yang sudah mulai menaruh rasa curiga terhadap sosok Wili.


Tit tit tit


"Sayang, ini mama" ujarnya sambil menangis ditepi ranjang dan tanganya terlihat begitu gemetar saat memegang dada Juna yang terlihat penuh tertancap alat medis.


"Jangan khawatir disana, mama akan urus segalanya disini dengan baik. Kamu hanya perlu segera membuka mata kamu secepatnya nak!" tegas mama dalam tangisnya.


Sementara Pricilia yang benar-benar sudah tidak bisa menahan kalut dihatinya memutuskan untuk turun dari ranjang dan mencoba berjalan sambil membawa sebuah kantong cairan infus ditangannya.


Kakinya terlihat tertatih saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sudah mulai petang.


"Pp-pak Surya ?," seru Pricilia menyapanya dengan kaget.


"Eh, Cil ngapain kamu disini. Sakit apa?," tuturnya sambil meneliti pakaian Pricilia khas seorang pasien rumah sakit.


"Ss-saya cuma sakit biasa aja pak. Bapak sendiri disini sama siapa?, ada yang sakit pak!" tanya Pricilia yang masih penasaran.


Wajah Surya terlihat sendu seketika.


"Juna, dia koma didalam" pungkasnya.


Hari Pricilia begitu kaget saat mendengar nama Juna tengah koma didalam. Ia yang tak sadar kemudian terjatuh kelantai tubuhnya.


"Hei Cil, hei. Kamu kenapa?" ucapnya sambil membantu gadis itu berdiri dan membawanya duduk dikursi.

__ADS_1


Tatap mata Pricilia kosong dan tak mendengarkan sedikitpun ucapan Surya.


"Ibu Pricil, kenapa anda jalan-jalan disini. Bukanya, dokter sudah menyuruh Anda untuk beristirahat lebih lama diatas ranjang." tutur seorang perawat yang menangani Pricilia.


Suster itu lalu membantu dirinya dan membawanya untuk kembali ke ruangannya segera. Surya pun lalu berdiri dan ingin mengikuti Pricilia dan seorang perawat tersebut karena penasaran dengan sakit yang diderita Pricilia.


"Kemana kamu!" ucap mama Sinta yang baru saja keluar dari ruangan Juna, sontak saja Surya mengurungkan langkah kakinya disana.


"Ah,mama. Enggak itu ma..." jelas Surya harus terpotong karena disela oleh mama.


"Masuk sana, adik kamu lebih butuhkan kita !. Kamu malah sibuk urusin orang lain." tutur mama kesal.


Surya hanya berlalu tanpa mengelak lebih jauh lagi saat itu.


Kali ini, Citra yang sudah mengenakan baju orange khas seorang tahanan pun akhirnya dimasukan ke dalam balik jeruji besi.


"Pp-pak tolong lepaskan saya!, saya benar-benar tidak bersalah pak! saya mohon!" pinta Citra sambil menggedor-gedor besi penjara tersebut.


"Woi diam!, seorang tahanan perempuan yang terlihat garang wajahnya.


Setengah wajahnya dipenuhi tato disana, dan dirinya terlihat dipijit oleh beberapa tahanan wanita lainnya.


"Diem dan duduk sini lu!" tegasnya sambil mengepulkan asap rokok begitu pekat.


Dengan wajah ketakuta Citra pun berusaha duduk dipaling ujung ruangan yang kotor dan kumuh itu.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*


*


...💐Abis baca komen dong💐...

__ADS_1


__ADS_2