
Akhirnya mereka bertiga telah sampai dirumah sakit, Novi yang sudah lemas segera dibawa ke sebuah ruangan untuk mendapatkan tindakan cepat.
"Om, kamu siapa?" tanya Malika ditengah rasa kecemasannya.
"Emm, om teman mama kamu" Wili mencoba menghindar dari pertanyaan Malika.
Gadis kecil itupun duduk dengan lemas disebuah kursi dengan ke dua mata sembabnya.
"Keluarga pasien!" seru seorang perawat.
"Kami sus!" Wili dan Malika sontak berdiri secara bersamaan.
"Pak, dokter meminta persetujuan dari keluarga pasien secepat mungkin. Dari kondisi bu Novi saat ini, sangat tidak memungkinkan mempertahankan kandungannya. Jika tidak ditangani dengan cepat, nyawa bu Novi akan menjadi taruhannya!" tutur perawat itu dengan nada tegas.
"Selamatkan dia sus!" timpal Wili tanpa berpikir lagi.
Pria ini sudah merelakan apa yang tidak menjadi hak nya kali ini, dia lebih memperjuangkan Novi demi Malika.
Mereka berdua patut bahagia!, maafkan papa ya nak. Papa nggak bisa jagain kamu dengan baik dari kejauhan. gumam Wili yang tengah bersedih karena harus kehilangan anaknya.
Tepat pukul 2 siang, operasi itu telah selesai dilakukan. Dan Novi juga sudah diperbolehkan untuk dijenguk didalam.
"Ma ..." ucap Malika membangunkan dirinya.
Sementara Wili yang hanya bisa berdiri dari kejauhan lemas menatap wanita yang kali ini mulai bersemayam dihatinya.
"Malika, jagain mama yah. Om mau pulang dulu sebentar" ucapnya lirih.
"Tunggu!" panggil Novi yang baru saja membuka matanya.
Wili lantas menoleh ke arah wanita itu tanpa berani mendekat lebih jauh lagi.
"Terimakasih, karena sudah menolong saya kemari. Daaan, terimakasih juga atas semua barang yang kamu kirimkan pada kami selama ini."
"Sama-sama" tegas Wili, kali ini kakinya pun berlanjut untuk meninggalkan ruangan itu kembali.
"Maafkan saya, karena tidak bisa menjaga anak ini lebih jauh lagi dari apa yang sudah kamu bayangkan. Tapi aku yakin, meskipun ia belum terlahir ke dunia pasti dia sudah sangat bahagia disana. Karena kamu, sebagai seorang ayah sudah dengan baik memperintahkan dia sejak dalam kandungan." jelas Novi pada Wili,
"Saya sudah merelakan dia pergi, tapi saya belum rela dengan cara dia pergi meninggalkan saya dengan cepat!" kali ini tangannya terlihat meremas kuat sambil membayangkan wajah Surya.
Novi hanya bisa terdiam ketika Wili masih diliputi rasa kesal pada mantan suaminya itu. Memang sepenuhnya ini salah Surya, karena Novi sudah dengan baik menjaga bayi itu selama dikandungan. Akhirnya, ia pun membiarkan pria itu pergi meninggalkan dirinya dan Malika.
"Kemana aku harus mencarinya kali ini !!" gerutu Wili yang sudah siap memacu motor miliknya.
__ADS_1
Dia pun memutuskan untuk mencari Surya dimanapun ia berada. Kekecewaan yang begitu perih ini, harus ia tuntaskan segera.
Setelah melakukan pencarian cukup lama, Wili yang sedari tadi mencari keberadaan Surya di rumahnya tidak mendapatkan hasil. Ia pun kemudian menuju kantor Surya. Sesampainya disana, Wili yang sudah menahan amarahnya disepanjang jalan dengan santai menerobos masuk begitu saja tanpa memperdulikan suara security ataupun seorang reception.
Matanya tengah mencari-cari ke seluruh ruangan, sampai akhirnya ia pun tiba didepan sebuah ruangan meeting. Disana terlihat dengan jelas Surya tengah memimpin jalanya rapat hari itu.
Kriieeeek !!!
"Pp-pak, pak. Tunggu sebentar..." suara seorang wanita mencoba menghentikan langkah kaki Wili yang sudah mulai masuk menerobos pintu tersebut.
"Akh!!" gerutu wanita itu dengan kesal.
Surya terkejut dengan kedatangan Wili disana, ia yang masih berdiri mematung didepan semua anggota meeting hari itu seolah tengah bersiap menerima sebuah konsekuensi yang sudah ia lakukan.
Bughhhh!!!
Pukulan telak telah mendarat diwajah Surya sampai tubuhnya sedikit terpelanting.
"Itu untuk nyawa anakku!, beraninya kau rampas dia dengan cara kotormu hah?!" dengan kuat Wili menarik kemeja Surya dengan kuat.
Keduanya memiliki tinggi yang sama, jadi tidak begitu sulit bagi Wili menyaingi tubuh gempal Surya disana.
"Lelaki macam apa kau ini !!!, apa hatimu sudah mati. Wanita yang tengah terbaring dirumah sakit itu, sudah bukan lagi milikmu. Tapi dirimu datang dengan tangan kasarmu!. Sialan." maki Wili dihadapan wajah Surya.
Ketika Wili sadar aksinya menjadi pusat perhatian semua karyawan Surya disana, ia pun dengan cepat berdiri dan merapikan bajunya yang sedikit kusut. Dirinya pun berlalu dari sana, dengan sedikit mengusap rambutnya.
"Rapat saya akhiri sekarang juga, terimakasih" seru Surya meninggalkan ruang meeting dengan kesal.
Saat dirinya tengah berjalan menuju ruangan miliknya, ternyata kehadirannya tengah ditunggu oleh mama Sinta saat itu.
"Mah, ada apa disini !"
"Duduk!!" nadanya terlihat tinggi sembari membentak Surya.
Mama Sinta dengan santai menceritakan kedatangan Wili saat sedang mencari dirinya dirumah.
Flashback mama Sinta.
"Beraninya kamu menyentuh rumah saya!"
"Tentu, mana anak anda!. jangan sembunyikan dia dari saya" ujar Wili.
"Surya?"
__ADS_1
"Yah dia, dimana dia sekarang!."
Wili yang sangat marah didalam rumah, terus mengumpat tanpa ampun. Dia lalu menceritakan kronologi kejadian, ketika pertama kali Surya datang ke rumah Novi. Sampai akhirnya, Wili pun menceritakan bagaimana sikap Surya terhadap Novi yang notabene adalah mantan istrinya.
🖤
"Jadi selama ini kamu masih sibuk dengan wanita itu?, ingat dia semurah itu diluar sana dengan lelaki itu. Dan kamu?, masih terus berharap padanya!" jelas mama Sinta.
"Bukan begitu ma!"
"Bukan apa!, kamu masih mencintainya kan?!. Mama minta lupakan dia, mama akan mencarikan kamu seorang wanita yang jauh lebih layak dibandingkan Novi." tutur mama sambil menenteng tas mewahnya.
"Tidak ma!, kali ini Surya mohon. Jangan pernah hadirkan wanita lain dihidup Surya saat ini. Karena memang masih belum mampu untuk singgah ke hati yang lain ma!" pinta Surya.
"Jadi kita sepakat kan!, jangan lagi temui wanita itu demi mama!!!" gertak mama semakin nyata.
"Tolong berikan satu kesempatan Surya ma, aku ingin menemuinya untuk sekali lagi dirumah sakit. Ingin pastikan jika hati ini benar tertutup selamanya untuk Novi" nadanya terdengar pilu.
Surya yang sudah mulai sadar, semua kemarahannya dulu mengumpat Novi hanyalah amarah sesaat. Ia sadar, bahwa Novi masih betah singgah didalam dasar hatinya.
Dirinya pun memutuskan untuk membesuk mantan istrinya itu, di sebuah lorong rumah sakit sebelum ia memutuskan untuk masuk diruangan Novi. Ia terlihat tengah mengatur nafasnya, kali ini dia datang untuk meminta maaf pada Novi atas segala perbuatannya dimasa lalu ataupun hal fatal yang baru saja ia lakukan.
Tanpa mengetuk, tangannya mulai mendorong pintu ruangan Novi.
"Papa!!" Malika selalu saja menyadari kehadiran dirinya dimanapun lebih cepat dari pada Novi.
Gadis kecil itu berlarian untuk menyambutnya hangat. Sementara Novi hanya memandang sinis Surya diatas ranjang.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
__ADS_1
*
...💐Abis baca komen dong💐...