Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Rumah sakit


__ADS_3

"Dok, tolong segera periksa kondisi istri saya," seru Juna pada seorang dokter yang tengah menangani Pricilia saat itu.


Mata Pricil terlihat bulat sempurna karena kaget mendengar perkataan Juna yang memanggil dirinya istri.


"Nah, selamat ya pak istri anda hamil. Berikut adalah kantong kehamilan dan sudah terlihat kecil disana calon janinnya" ujar dokter spesialis kandungan.


Senyum bahagia tak dapat ditutupi Juna disana, bagaimana tidak sudah hampir bertahun-tahun dirinya menunggu saat-saat paling mendebarkan ini dihidupnya. Meskipun penerus kecil ini tak berada dirahin Citra istrinya, ia tetap saja menyambut ini semua penuh suka cita.


"Baiklah, berikut saya tuliskan beberapa resep untuk ibu. Ada beberapa vitamin dan obat-obatan lainnya yang sedang ibu butuhkan saat ini. Jaga dengan baik kandungnya ya bu" tutur dokter laki-laki yang sudah terlihat cukup berumur.


Wajah Pricilia yang masih mematung kaku disana, tertutup oleh masker yang tengah ia kenakan. Juna yang masih saja terlihat kegirangan, menyambut ucapan dokter tersebut dengan mengelus perut data Pricilia.


"Tentu, saya pasti menjaga calon anak saya ini dok" jelas Juna.


Tuhan, bagaimana bisa aku berkelit lagi dari lelaki ini. gumam Pricilia yang masih terdiam disana.


Sementara Juna menebus semua obat yang telah diresepkan oleh dokter, Pricilia dengan patuh menuruti semua ucapan Juna yang memperintahkan dirinya untuk tetap duduk menunggu disana.


"Apa ini anak pertama?" ujar seorang ibu yang tengah duduk tepat disebelah dirinya.


"Iya bu," sahut Pricilia dengan mengangguk.


"Pantas saja, suaminya terlihat begitu gembira disana. Dulu ibu juga alami hal sama seperti kamu, jadi jangan kaget kalau nantinya dia akan super protektif dengan semua tingkah laku kamu yah" tutur ibu tersebut yang menggurui dirinya.


Tiba-tiba rasa rindu yang mendalam pada ibunya mengalir seketika, ia pun menitihkan air mata mendengar setiap tutur kata dari orang tua yang sedang duduk bersamanya.


"Ayo sayang, semua sudah siap" ujar Juna yang menghampiri dirinya disana sambil menenteng sebuah kantong putih kecil.


Pricillia yang berjalan sambil melamun, tak sengaja menabrak seorang wanita berhijab kala itu.


Brukk ...


Tubuh wanita itu sampai harus tersungkur dilantai.


"Ya ampun mbak, maaf banget" ujar Pricilia menggoyangkan tubuh perempuan yang sudah tak sadarkan diri itu.


Juna yang melihat kejadian itupun, membantu menolong Pricilia disana. Betapa terkejutnya ia saat membalik tubuh wanita tersebut, "Mbak Novi".


"Ya ampun bu Novi, ayo kita bawa kedalam pak" ujar Pricilia yang juga ikut panik mendapati Novi sudah tak sadarkan diri disana.


Juna pun berlarian untuk membawa tubuh Novi memasuki ruangan agar cepat mendapatkan pertolongan.


"Sus, tolong cepat tangani kakak saya ini" pinta Juna pada seorang perawat yang telah membawa dirinya ke sebuah ruangan.

__ADS_1


Sementara terlihat seorang dokter memasuki ruangan tersebut dan memeriksa keadaan Novi disana.


"Apa bapak suaminya?" tanya dokter.


"S-saya adiknya sus, bagaimana keadaan kakak saya didalam?" tanya Juna masih terlihat cemas.


"Kakak anda sekarang dalam kondisi hamil, dikehamilan muda ataupun trimester pertama seperti ini tak banyak ibu hamil yang mengalami gejala seperti kakak anda ini. Jadi saya sarankan agar dirinya beristirahat yang cukup dan jauh dari pikiran yang membuat dirinya bisa stress." jelas dokter tersebut panjang lebar.


"Baik dok terimakasih," sahut Juna.


Juna yang kala itu menjumpai Novi yang tengah berbaring disana mencoba menelpon kan Surya saat itu. Belum sempat telepon itu tersambung pada Surya, Novi sudah mencegah Juna untuk melanjutkan panggilannya tersebut.


"Hentikan," ujar Novi lemah.


"Kenapa mbak, ini kabar bahagia mas Surya harus tahu" jelas Juna yang berdiri disamping Novi.


"Kamu sudah resmi bercerai sejak hari ini" Novi menuturkan peristiwa hari ini pada adik iparnya itu.


"Apa?, kenapa mbak. ada apa dengan kalian?" Juna terkejut mendengarnya.


Novi hanya menggeleng tanpa mau menceritakan aib yang sudah terjadi dalam rumah tangganya.


"Terimakasih ya sudah menolong mbak tadi, kamu dengan siapa disini. Mbak lihat tadi, seperti Pricilia yang berjalan tepat dibelakang kamu?" tanya Novi.


"Siang, kamu sakit apa Cit?" Novi masih terus menginginkan sebuah jawaban.


Pricillia dan Juna saling memandang saat hendak memberikan jawaban pada Novi kala itu.


"Kalian ini kenapa?, ditanyain kok saling tatap mata begitu" goda Novi yang beranggapan semua baik-baik saja.


"Enggak kok b-bu" suara Pricilia terhenti dengan sahutan Juna saat itu.


"Dia hamil mbak," Juna berusah jujur pada Novi.


Pasalnya, Juna selalu merasa nyaman selama ini jika bertukar pendapat dengan Novi. Ia adalah kakak ipar terbaik bagi dirinya, saat ia memperoleh masalah Novi selalu membuka tangan lebar untuk mendengarkan semua ceritanya. Dan Novi adalah satu-satunya orang yang mau mendengarkan dan membantu dirinya tanpa menyudutkan.


Novi tengah berpikir keras saat mendapati ucapan Juna saat itu.


"Hamil, anak siapa?. Setahu saya kamu belum berkeluarga kan" tegas Novi yang tiba-tiba berusaha duduk sambil tertancap sebuah jarum ditangannya.


"Eh mbak, kata dokter mbak nggak boleh terlalu banyak bergerak dulu." seru Juna yang sedikit bawel ketika mendapati Novi dengan santai dalam kondisinya saat ini.


"Sudah mbak nggak papa, coba jawab pertanyaan mbak dengan baik. Apa kalian?" ujar Novi sambil menunjuk ke arah mereka berdua dengan muka kebingungan.

__ADS_1


"Yah," Juna berkata jujur apa adanya dihadapan Novi.


Novi yang terkaget-kaget dengan hal itu masih tak percaya dengan kenyataan ini.


"Bagaiman mungkin?" Novi terlihat menutupi mulutnya.


"Maafkan saya bu Novi, tapi saya minta tolong agar aib ini ditutup dengan rapat pada keluarga besar pak Juna beserta istrinya," seru Pricilia penuh penyesalan.


"Dia nggak salah kok mbak, Juna yang salah dalam hal ini" pungkas Juna.


Novi pun membuka lebar tanganya untuk memeluk erat tubuh Pricilia saat itu, Novi pun menangisi gadis malang ini. Pasalnya ia juga harus merasakan hal yang tidak jauh seperti halnya Pricilia. Mereka berdua pun terlihat saling menguatkan satu sama lain. Sementara Novi memilih untuk terus bungkam tak menceritakan hal apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Surya.


"Saya yakin kamu adalah gadis baik,yang kuat dan sabar" rangkulnya sambil mengusap hangat punggung Pricilia.


Bagi Pricilia, Novi adalah istri atasan yang ia kagumi sepanjang dirinya berkarir. Pada diri Novi, Pricilia mengambil banyak pelajaran selama ini. Begitu juga sebaliknya dengan Novi, ia selalu merangkul semua karyawati suaminya saat itu seperti saudara perempuannya sendiri tanpa pembeda.


Dan hal baik itu, tersampaikan dengan baik dan dirasakan betul oleh Pricilia.


"Saya juga berharap sama dengan takdir ibu kedepannya, semoga ibu selalu dalam lindungannya dan selalu tegar menghadapi semua persoalan hidup ini" ujar Pricilia yang mendoakan baik juga pada Novi.


"Mama. Om Juna, Malika kangen" tutur Malika yang juga menyusul Novi dirumah sakit.


"Sayang, kesini sama siapa nak" tanya Novi.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*


*


...💐Abis baca komen dong💐...

__ADS_1


__ADS_2