
"Sudah sayang, sini sama mama nak" panggilannya lesu dengan berderai air mata.
"Enggak ..."
"Malika maunya sama papa ma ...!!"
"Mau sama papa!" tangisnya begitu kencang sambil terus menggedor-gedor pintu rumahnya.
Pipinya terlihat merah, dan kedua matanya begitu sembab disana.
"Malika rindu papa ..." rintihnya dibelakang pintu dengan tubuh yang meringsut kelantai.
Hati ibu mana yang tak merasa hancur ketika melihat buah hatinya begitu menginginkan sentuhan seorang ayahnya.
Novi yang memaksakan dirinya untuk bangun dan bangkit dari lantai, berdiri tegak dan berjalan ke arah pintu untuk membukakan Malika.
"Papa ...!!!"
"Malika, sayang!" sahut Surya yang terkejut dari kejauhan yang hendak pergi meninggalkan rumah itu .
Malika yang tak ingin berpisah lebih lama lagi dengan Surya, berlarian tanpa menghiraukan perasaan Novi yang begitu hancur dan pedih melihat semua keadaan itu. Ia pun hanya mampu berdiri dibalik pintu dan menutupi semua kepedihan hatinya disana.
*
*
*
"Ciiit ... Braakkk!!" suara seorang pengemudi motor.
Pengemudi motor tersebut kehilangan kendalinya ketika mengendarai motor miliknya, ia yang melaju sangat kencang tak dapat menghindari keberadaan Malika yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya.
Kecelakaan yang terjadi hanya dalam hitungan detik itupun membuat mata Surya tercengang disana beberapa detik, kemudian dirinya berlari menuju tubuh putrinya yang sudah lemas tak berdaya diatas aspal jalanan.
"Sayang, bangun sayang bangun ..." teriak Surya ketakutan membangunkan Malika.
Novi juga keluar dengan mimik wajah ketakutan yang cepat-cepat mengambil alih tubuh putrinya itu dari tangan Surya.
"Sayang, bangun nak bangun. Tolong buka mata kamu nak, ini mama nak. Tolong maafin mama sayang ..." tuturnya dengan nada sumbang.
"Tolong untuk kali ini saja, ijinkan aku membantu mu dan Malika!. dia harus cepat mendapatkan penanganan saat ini." suara Surya cemas.
Mereka bertiga bergerak cepat menuju rumah sakit saat itu.
__ADS_1
"Suster ..." teriak Surya yang baru saja membantu tubuh putrinya turun dari dalam mobil, dan mendorong pintu mobil itu dengan satu kakinya.
"Mana dokter"
"Mana?!"
Serunya berulang kali, dengan menggendong tubuh kecil Malika. Sementara Novi mengikuti langkah Surya kemanapun melangkah.
"Mari ikut dengan saya pak, baringkan dahulu disini. Sebentar lagi dokter akan mengobservasi putri bapak dan melakukan tindakan" tegas seorang perawat.
"Tolong selamatkan putri saya sus!" pinta Novi dengan nada sedih dan terus berdo'a dalam hati.
Dokter yang telah tiba diruangan Malika, telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membantu tubuh anak kecil itu untuk kembali terbangun dari tidurnya.
Di luar ruangan, justru terlihat pemandangan yang sangat berbeda. Mereka saling berjauhan ketika harus duduk diatas satu bangku panjang, wajah mereka pun tak saling menatap satu sama lain.
Ketika operasi itu berjalan dengan lancar, beberapa tim dokter dan perawat keluar dari ruangan. Dan satu diantara mereka berjalan menghampiri mereka, dengan wajah muram.
"Maaf pak, kami sudah berusaha melakukan dengan baik didalam sana. Tetapi tubuh putri anda terus menolak seluruh obat-obatan yang kami berikan. Saat ini, dia dalam keadaan koma didalam. tetapi kecil kemungkinannya dia akan tertolong" jelas dokter dengan menepuk pundak Surya .
"Terimakasih untuk semuanya dok!" tutur Surya yang sudah tak bisa berkata lebih banyak lagi.
"Mari silahkan, jika ingin menengoknya didalam. Mungkin suara dari kalian berdua selaku orang tuanya , mampu membuat dirinya lebih kuat untuk berjuang saat ini " pinta dokter.
Saat itu, hatinya sangat bertentangan ketika harus masuk menemui putrinya dengan sang mantan suami. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, bahwa putrinya sangat membutuhkan pendampingan keduanya saat ini. Dengan hati yang begitu berat wanita itu hanya mampu mengalah demi keadaan Malika saja.
"Yang kuat ya nak, maafkan mama. Ini memang salah mama!" sahutnya lagi dengan lirih sambil menitihkan air mata.
"Malika," suara Surya bergetar.
Kali ini keduanya benar-benar terlihat menyatu disana dengan berdampingan di kedua tangan Malika.
"Ini papa, lihat papa nak papa ada disini buat jagain Malika !" ujarnya sambil terus memegang tangan Malika.
Setelah cukup lama mereka berdua melakukan interaksi dengan putrinya, entah sebuah keajaiban apa yang terjadi saat itu. Mata gadis kecil itu berangsur-angsur terbuka sedikit demi sedikit disana. Dan bibirnya terlihat bergerak kecil.
Tubuhnya yang lemah, tak membuat ia kehilangan kekuatannya untuk meraih dan menyatukan kedua tangan orang tuanya saat itu.
"Pa,ma ..." ucapnya terbata sambil terus mendekatkan tangan Novi dan Surya di dadanya.
"Iya sayang," sahut keduanya bertabrakan tanpa memperdulikan lagi tangan mereka saat ini telah bersentuhan.
"Malika jangan banyak bicara dulu ya !. mama mohon!" tegas Novi menasehati anaknya.
__ADS_1
"Tidak ma, biarkan Malika bicara untuk sekali ini saja. uhukkk" pinta Malika dengan segenap kekuatannya.
Novi pun hanya dapat memandangi wajah kecil yang tengah menahan semua rasa kesakitan disana.
"Tolong, demi Malika ma pa!. kembalilah seperti dulu, Malika mau papa selalu ada buat mama. Kasihan mama jika harus sendirian dirumah!"
Surya hanya mengangguk tanpa memberikan penolakan.
"Untuk mama, tolong maafkan papa untuk yang terakhir kalinya. Malika sering melihat mama menangis dirumah tanpa sepengetahuan mama. Malika sangat sedih ketika melihat mama menangis." ujarnya .
Flashback Malika.
Dipertengahan malam, ketika dirinya hendak tertidur dikamar. Mata kecilnya tengah mencari-cari keberadaan Novi di seluruh isi ruangan. Dengan langkah kaki kecilnya, ia berjalan mengendap-endap ketika menjumpai Novi tengah menunaikan ibadah sholat diruangan sebelah kamarnya.
Dirinya pun terus menyimak seluruh isak tangis Novi dalam melangitkan do'a demi do'anya.
"Tuhan, berikanlah mas Surya kebahagiaan yang seutuhnya. Dan berikanlah dia kesempatan untuk memperbaiki dirinya dengan baik." suara Novi yang tengah berdo'a.
*
*
*
"Mama nggak pernah bosan do'ain buat papa dimalam hari. Malika selalu mengintip mama ketika berdo'a!" ucapnya.
Kini suara gadis kecil itu mulai samar terdengar dan tak dapat sejelas lagi ketika diawal. Entah apa yang terjadi, suara itu hilang dengan cepat sambil di iringi kedua bola mata yang tertutup begitu lirih.
"Sayang... sayang!!" Novi menggoyang tubuh Malika .
"Dokter !, suster!" teriak Surya dari balik pintu kamar yang tengah ia buka dengan cepat.
Para suster dan dokter yang mendengarkan teriakan itu lalu menghampirinya dengan wajah tegang.
"Tolong periksa putri saya dok!, baru saja ia siuman dan berbicara pada kami. kenapa sekarang dia tertidur lagi !" tegas Surya dengan nada tegang dan menunjuk wajah Malika.
"Ibu dan bapak silahkan keluar dulu, kami akan memeriksa keadaan pasien kembali."
Tindakan itu hanya berlangsung sekitar 5 menit saja lamanya.
"Maafkan kami, putri bapak tidak dapat tertolong kali ini"
...----------------...
__ADS_1
Bersambung ❤️
...⚜️Happy reading guys, jangan lupa mampir ke cerita othor yang lain yah 😘🙏⚜️...