
Cekleek
Novi terlihat lemas dan meilih untuk beristirahat sebentar. Tubuhnya terbaring lemas diatas tempat tidur, dan matanya mencoba untuk terpejam sesaat.
Selang beberapa menit kemudian, ia yang terbangun dari tidurnya masih saja merasakan hal yang sama pada tubuhnya. Novi yang menaruh curiga saat itu, pergi keluar untuk menuju apotik dan membeli alat testpack untuk ia gunakan.
Dirinya pun mulai mencelupkan benda panjang tersebut kedalam sebuah wadah putih. Tak perlu menunggu lama, benda tersebut bekerja dengan begitu cepat. Garis itu melesat begitu cepat disana sampai memunculkan 2 garis merah dengan terangnya.
Tubuh Novi kaku dan lemas dibuat tak percaya dengan hal ini, Ia sangat meyakini bahwa benih tersebut adalah milik lelaki yang sudah tega merusak rumah tangganya bersama Surya.
Aku harus berbuat apa padamu, kamu tak pernah salah jika harus hadir didalam perutku. Mungkinkah kamu dikirim Tuhan untuk menjadikanku wanita yang lebih kuat lagi. gumam Novi yang masih tersandar ditembok kamar mandi.
Air matanya saat itu terasa kering dan tak tersisa. Bagaimana bisa, cobaan demi cobaan datang pada hari yang sama dan bertubi-tubi menghampiri dirinya. Ia terus memandangi hasil testpack tersebut sambil sesekali memutar-mutar benda tersebut.
"Assalamu'alaikum ma ...," suara Malika tengah berteriak memanggil dirinya dari luar.
Malika yang baru saja pulang sekolah ditempat barunya, ia terlihat tengah menangis meraung-raung didepan pintu.
"Eh, sayang. Ada apa ini nak, kenapa kamu?" tanya Novi yang begitu mengkhawatirkan putri kecilnya itu.
Tangisnya belum berhenti juga saat mendapati Novi memeluk dirinya. Malika masih saja terus menangisi setiap ucapan teman-temannya disekolah tadi.
Flashback Malika.
Malika nggak punya papa, yeyeye. ucap segerombolan anak tengah mengejek dirinya saat jam istirahat.
Novi yang menyimak perkataan Malika dengan penuh perhatian. Hatinya perih saat mendengarnya, tapi ia mencoba untuk menghibur putri kecilnya itu.
"Jangan sedih ya, nggak lama lagi papa pasti akan berkunjung kesini sayang," Novi memberikan pelukan hangat disana.
*
*
*
Sementara dikantor, Surya yang masih terlihat sibuk dengan semua pekerjaannya tiba-tiba mendapati Citra tengah masuk ke dalam ruangan miliknya.
Dirinya kesana bukan untuk masuk kerja hari itu, melainkan ingin memastikan semuanya tengah berjalan dengan apik.
Dengan santainya, ia duduk disebuah sofa milik Surya sambil menyilangkan kakinya.
"Mas, sibuk ya. Aku sementara waktu ijin nggak kerja dulu ya, masih ennek liat wajah Juna" tuturnya kesal dan seenak jidatnya.
__ADS_1
Dia selalu berulah seenaknya sendiri dengan semua peraturan bodohnya itu. Ia yang tak pernah berpikir bahwa perusahaan itu milik keluarga suaminya, dengan seenaknya ia pun masuk dan mengambil libur sesuka hati.
"Terserah kamulah Cit" tegas Surya yang enggan meladeni adik iparnya saat ini.
"Eh mas, gimana mbak Novi aku kangen tau" ceplos Citra yang menarik emosi Surya seketika.
"Jangan pernah sebut dirinya,kami sudah resmi bercerai" tegas Surya sambil menutup map laporan dari Bram dengan nada setengah membanting.
Plok Plok Plok
Suara tepukan tangan Citra seketika membuat ruangan yang sepi itu menjadi riuh.
"Waw, hebat kamu mas. Tanpa pandang bulu, kamu memberi hukuman yang setimpal atas perilakunya dibelakangmu. Aku salut si" tuturnya.
Wajah Surya yang sudah menegang disana, membuat Citra bergidik ketakutan untuk melanjutkan ucapan bodohnya kali ini.
"Kalau sudah selesai, cepat keluar" usir Surya pada Citra.
Citra pun keluar sambil menenteng tas miliknya, disaat yang bersamaan dirinya pun berjumpa dengan Pricilia disana. Mata sinisnya mencoba menatap penuh telisik ke sekujur tubuh Pricil saat itu.
"Sudah berkencan berapa lama kalian?" seru Citra pada gadis yang sudah direnggut masa depannya oleh Juna suaminya.
Pricillia yang terkejut dengan ucapan Citra disana hanya memilih diam tanpa membalas ucapnya.
Karena semua aksi yang ia lancarkan tak kunjung mendapati balasan oleh Pricil, ia pun lebih memilih meninggalkan Pricilia disana sambil mengatai gadis itu kembali, "Dasar wanita Jala*g".
Setelah beberapa menit kepergian Citra dari kantor, terlihat Juna menuruni mobil miliknya. Beberapa orang diluar tengah menyapa dirinya saat itu. Tapi justru berbanding terbalik dengan sikap Pricilia, ia sangat acuh bahkan sangat tidak mau menatap wajah Juna.
Hal itu sangat wajar dijumpai oleh seorang wanita hamil seperti dirinya. Mood yang mudah sekali berubah-ubah, membuatnya tak dapat mengontrol dirinya saat menjumpai Juna pagi itu.
"Pagi," Juna tersenyum manis pada Pricilia.
Pricil lebih memilih membuang muka dan menuju mejanya pagi itu.
"Eh, tunggu" tarik Juna.
"Dih lepasin pak!" maki Pricilia pada bapak dari calon anaknya itu.
"Ada apa sama kamu hari ini, terlihat sedikit pucat wajahnya" Juna terlihat memperhatikan wajah Pricilia.
"Nggak papa pak,permisi" ia tetap acuh dengan Juna disana.
Sikap acuhnya itu sama sekali tak menyurutkan niat baik Juna yang sudah bertekad bulat. Sambil berjalan menuju ruanganya, ia pun memutuskan untuk menyelidiki sikap yang tak biasa Pricil hari ini pada dirinya.
__ADS_1
Benar saja, belum sampai Juna membuka pintu ruangan miliknya. Pricillia terlihat membungkam mulutnya dan berlari ke toilet dengan cepat. Juna yang masih diliputi rasa penasaran mencoba mengikuti gadis tersebut.
Hooeek Hoeek
Dirinya kembali merasakan mual begitu hebat disana, dan kali ini tak bisa menahan kembali rasa itu.
Juna yang mendengar suara Pricilia tengah muntah dengan jelas diluar toilet, ia pun menunggu gadis tersebut untuk keluar dari toilet saat itu juga. Tanpa basa-basi, saat ia menjumpai Pricilia disana, tangan gempalnya itu lalu menarik tangan kecil Pricil. Ia menggenggam begitu erat tangan perempuan itu, sehingga tak dapat cela untuk melepaskan diri.
"Pak, apaan sih. Tolong lepaskan saya" pekik Pricilia.
"Diam, cepat ikut saya." seru Juna.
Keduanya kali ini sudah berada didalam mobil Juna, suasana langit yang saat itu mendung dengan awan hitam pekat dilangit membuat pemandangan Juna pada Pricilia tak begitu jelas.
Tangannya pun terlihat menyalakan lampu dalam mobil mobil tersebut. Kali ini, hampir semua wajah cantik Pricilia tak dapat menghindari tatapan tajam mata Juna.
Huww .. Huwwekk ...
Tanpa bisa ditahan lebih lama lagi, mual itu kembali menghampiri Pricilia. Dan itu tepat terjadi dihadapan Juna, dirinya yang sudah curiga dengan sikap Pricil sedari tadi mencoba menarik tubuh Pricilia kedalam tubuhnya.
"Apa kamu hamil sayang?" tanyanya penuh curiga.
"Lepaskan saya. Tidak pak, saya cuma kecapean aja." ujar Pricilia.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
*
...💐Abis baca komen dong💐...
__ADS_1