
Keringat dingin tiba-tiba keluar dari ujung rambut Ariel saat itu, langkahnya sedikit gemetar saat mengikuti Surya berjalan ke dalam. Pikirannya melayang tak karuan saat melihat rumah megah yang tampak dihadapannya.
"Tolong tunggu sebentar, si mbok akan panggilkan Citra. Kamu duduk disini dulu," pinta Surya.
"Baik," ucap Ariel singkat.
Surya lalu pergi ke arah dapur dan menghampiri si mbok untuk meminta tolong panggilkan Citra saat itu.
"Mbok, tolong bilang pada Citra ya dibawah sudah ada yang menunggunya." ujar Surya.
"Baik den." ucap si mbok.
Dengan segera si mbok menaiki anak tangga dan memanggil Citra yang masih berada didalam kamar.
Tokkk ... Tokkk
Si mbok dengan cepat mengetuk pintu kamar Citra.
"Iya, siapa. Masuk," ujar Citra dari dalam kamar.
Ceklek, suara pintu kamar yang dibuka oleh si mbok. "Dibawah ada tamu untuk mbak Citra" , si mbok memberitahukan sesuai dengan arahan Surya.
"Tamu saya, siapa mbok?." tanya Citra yang masih asyik dengan cat kukunya.
"Maaf mbak, saya kurang tahu. Tadi yang nemuin tamu mbak Citra den Surya." jelas si mbok.
"Oke, sebentar lagi saya turun." pungkas Citra.
Si mbok lalu keluar dari dalam kamar Citra dan segera menutup pintu. Setengah jam berlalu, Citra yang baru saja keluar dari dalam kamar berjalan dengan segera menuju ruang tamu untuk menemui seseorang yang tengah menunggunya sejak lama.
Dengan wajah yang sedikit enggan dia berjalan melalui mama Sinta berserta Novi dan Malika saat itu, matanya sedikit melirik pada sosok Malika. Ia seakan dibuat penasaran dengan gadis kecil terebut, tapi enggan untuk mendekat.
Begitu dirinya sampai diruang tamu, betapa terkejutnya dirinya melihat sosok Ariel sudah duduk disofa panjang.
"Eh, kamu ngapain kesini si?." tanyanya ketus.
"Pagi mbak, maaf saya lancang tiba-tiba kesini. Saya cuma mau sampaikan ini, dari ibu saya untuk mbak Citra." jelas Ariel sambil menyodorkan rantang berisi makanan tersebut.
__ADS_1
"Lain kali nggak perlu repot-repot datang kemari, disitu kan ada nomor saya." umpat Citra setengah berbisik.
Tidak disangka mama Sinta menghampiri Ariel dan dirinya saat itu.
"Pagi, ini siapa Cit?." tanya mama yang tiba-tiba membaur dalam suasana.
Kenapa dia kesini segala si ah, jadi panjang deh kayaknya. dengus kesal Citra dalam hati.
"Pagi tante, perkenalkan saya Ariel. Maaf jika saya pagi-pagi mengganggu tante sekeluarga." ujarnya santun didepan mama Sinta.
"Oh nak Ariel, kamu teman Citra atau bagaimana?. Tante tidak pernah melihat kamu selama ini." sambut hangat mama Sinta pada Ariel.
Terlihat mulut Ariel sudah setengah membuka untuk mengucapkan sebuah kata, namun terhenti akibat Citra memotong pembicaraan mereka dengan tiba-tiba.
"Ariel ini, temanku sewaktu SMA dulu ma. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, dan kemarin tidak sengaja bertemu dijalan sebuah cafe. Iya kan Ril?," karangan cerita Citra pada mama Sinta sambil melirik ke arah Ariel untuk menyetujui ceritanya tersebut.
"Iya tante," sahut Ariel dengan nada kikuk.
Mama Sinta bukanlah anak kemarin sore yang dengan mudahnya akan tertipu oleh semua perkataan Citra. Tapi mama yang mengetahui semua ini ulah Citra, hanya memilih diam dan tersenyum ke arah mereka berdua.
"Ril, kan kamu bentar lagi mau kerja katanya. Sekalian pamit sama mama mertua gue nih." usir Citra pada Ariel saat itu juga.
Terlihat sedikit bingung Ariel harus mengimbangi semua kebohongan Citra saat itu. Dirinya yang tak ingin berlama-lama disana ikut larut dalam sandiwara Citra, khirnya memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Iya tante, maaf saya sudah sedikit kesiangan ini. Mungkin lain waktu saya bisa mampir kesini lagi," terlihat Ariel mencari-cari alasan.
"Baiklah kalau begitu, sampaikan rasa terimakasih saya pada ibu kamu ya. Sudah repot-repot begini," ujar mama dengan lembut.
"Iya tante, akan saya sampaikan." pungkas Ariel.
Ia lalu segera berdiri dan berjalan keluar meninggalkan rumah tersebut. Terlihat Juna dari kejauhan tengah mengawasi Ariel yang tengah berlalu dari dalam rumah.
"Siapa tuh mas," tanyanya penasaran pada Surya.
"Itu teman Citra, apa kamu juga nggak kenal sama pria itu?." ujar Surya sambil meminum tehnya.
Dengan mengingat semaksimal mungkin, ia juga tak mampu menemukan sosok Ariel dalam ingatannya. Dirinya juga tidak pernah berkenalan dengan teman istrinya yang modelnya seperti anak band itu.
__ADS_1
Rasa curiga mulai tumbuh pada pikiran Juna saat itu, hanya dirinya tak ingin ambil pusing didepan Surya saat itu.
"Sebenarnya mas paling tidak suka mencampuri setiap masalah orang, kamu tahu akan hal itu. Tapi, setelah mas pertimbangkan sikap kamu dan Citra tak kunjung membaik. Bisakah kalian berkomunikasi dengan benar menggunakan kepala dingin kalian masing-masing. Agar tidak ada yang terkorbankan dalam situasi ini, baik mama dan perusahaan. Mas yakin kamu bisa, hanya kamu masih saja dengan mudah terbawah arus kesana dan kemari. Itu sangat tidak baik dalam hubungan kalian berdua," tutur Surya.
Juna yang sedari dulu paling takut dengan Surya dan papanya, kali ini pun sama ia dibuat tak berkutik dengan semua cecar yang Surya lontarkan pada dirinya. Ia selalu segan dengan kakaknya itu, dimatanya ia menganggap Surya sukses menjadi sosok pengganti papa dirumah selama ini.
"Akan aku coba mas," ucap Juna yang tertunduk tak berani memandang wajah Surya.
"Jangan aku coba. Tapi semua itu butuh diusahakan dan diperjuangkan." pungkas Surya segera.
"Baiklah," jawab Juna yang sedikit sumbang.
Sementara suasana didalam rumah setelah kepergian Ariel saat itu, terlihat Citra masuk ke dalam dapur dan meletakkan sebuah rantang pemberian dari Ariel pada si mbok.
"Mbok, ini buat si mbok aja dengan pak Ujang." ucap Citra ketus sambil menaruh rantang tersebut disamping si mbok yang tengah mencuci piring.
"Baik mbak, terimakasih banyak." ujar si mbok yang tak dihiraukan Citra saat itu.
Dirinya memilih untuk pergi segera mungkin, tanpa basa-basi ia pun tak melontarkan sapaan pada Novi dan Malika yang terlihat menemani mama Sinta di meja makan. Ia hanya sibuk merapikan kuku-kukunya saat itu.
"Ma, itu siapa?." terdengar suara Malika menanyakan Citra yang hanya berlalu dihadapannya.
"Itu tadi tante Citra nak," jelas Novi singkat.
"Tante Citra cantik, tapi kenapa nggak mau duduk sama kita disini yah." ujar Malika dengan polos bertanya pada Novi.
"Kali ini tante Citra mungkin lagi sibuk, lain kali tante Citra pasti mau main dengan Malika yah." jelas Novi memberikan alasan pada gadis kecil tersebut.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
__ADS_1
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️