Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Tergoda


__ADS_3

Lekuk tubuh itu begitu sempurna hingga membuat dunia Juna terhenti seketika, dan warna kulit yang begitu putih menyilaukan pandangan mata Juna saat itu. Pricilia adalah seorang gadis keturunan Chinese, tapi adat jawa begitu kental mengalir dalam dirinya.


Ia pun terpukau dengan kemolekan tubuh Pricilia yang ada dihadapannya.


"Pak, pak hallo ..." terlihat tangan Pricilia melambai didepan wajahnya.


"Hah, ada apa kamu seperti itu?." ucap Juna yang baru saja tersadar dari lamunannya.


"Bapak kenapa?, saya perhatikan dari tadi melamun. Tatap mata bapak mengarah ke saya, jadi Pricil cuma ingin membantu menyadarkan bapak saja" jelas Pricilia.


"Sorry ya" pungkas Juna.


"Baik pak, saya permisi dulu. Terimakasih" ujar Pricilia sambil meninggalkan ruangan Juna.


Ada apa dengan diriku ini, kenapa bisa sampai terpikirkan hal seperti itu. Aku sudah menikah dan memiliki Citra dihidupku. gumam Juna kesal.


Kring ... Kring ...


Suara telepon berdering yang ada diruangan Juna.


"Pak, maaf saya mau tanya. Hari ini ibu Citra tidak masuk ya?" suara Pricilia.


"Saya kurang tahu" sahut Juna


"Baik kalau begitu pak, terimakasih" tutup Pricilia diujung telepon.


Dirinya yang menyadari pertanyaan Pricilia lalu segera mengecek ruangan Citra saat itu juga, benar saja istrinya itu tak ada di ruangannya saat ini. Ia mengingat pagi itu Citra sudah mengenakan pakaian rapi untuk menuju ke kantor, lantas kemana perginya Citra hari ini.


Juna tampak berpikir tetapi tak sedikitpun memiliki niatan untuk mencari tahu keberadaan istrinya saat ini. Ia menutup kembali pintu ruangan Citra dan lebih memilih kembali ke ruangan miliknya.


Saat ini jam menunjukkan pukul empat sore, waktunya jam pulang kantor bagi semua karyawan Juna. Ketika hampir semua karyawan memutuskan untuk pulang, Pricilia mendapati lampu ruangan Juna masih dalam keadaan menyala. Meja Pricilia yang berada tepat didepan ruangan Juna, bisa melihat dengan jelas sinar lampu tersebut.


Tokk ... Tokk ...


"Permisi pak," suara Pricilia yang berada didepan pintu.


Karena tak kunjung mendapati suara Juna didalam, Pricilia memutuskan untuk membuka pintu itu. Kali ini dirinya hanya ingin memastikan bos nya itu baik-baik saja didalam. Karena ia tak menjumpai Juna keluar ruangan sejak siang hari.

__ADS_1


Juna terlihat tertidur diatas meja kerja miliknya. Ia terlihat sangat pulas saat itu, Pricilia yang menyaksikan hal itu tak sampai hati jika harus membangunkan Juna disana. Tapi hari sudah mulai larut, jika tak ada orang yang membangunkan Juna disana ia akan tertidur dikantor sepanjang hari.


Dengan hati yang penuh dengan dilema, ia kumpulkan semua keberaniannya untuk membangunkan Juna disana.


"Pak, pak pak" ucapnya berulang kali, tapi Juna tetap saja tidak merespon.


Dan ia putuskan untuk lebih mendekat pada Juna, lalu memanggilnya ulang dengan sedikit sentuhan tangan Pricilia di telapak tangan Juna. Saat bersentuhan tangan dengan Juna, ia sedikit terkejut dengan suhu badan Juna yang begitu panas. Dan tak lama kemudian, Juna terlihat bangun dari tidurnya.


"Kam-mu, ada perlu apa disini?" ucapnya sambil mencoba membuka ke dua bola matanya dengan benar.


"Ini sudah jam pulang pak, tapi saya lihat bapak masih berasa diruangan. Makanya saya kesini untuk membangunkan bapak" jelas Pricilia.


"Iya tadi saya minum obat, jadi saya ketiduran disni" ujar Juna sambil merapikan kemejanya.


"Badan bapak begitu panas, apa mau saya antar bapak pulang?" Pricilia mencoba menawarkan dirinya.


"Kamu bisa bawa mobil?" tanya Juna yang sedikit meragu. Pricilia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Juna.


Akhirnya mereka berdua berjalan ke arah mobil Juna yang tengah terparkir dihalaman kantor, saat itu hanya tinggal mereka berdua saja disana. Suasana terlihat sangat sepi, dengan tubuh mungilnya ia mengendarai mobil miliknya bosnya tersebut.


"Maaf saya jadi merepotkan kamu seperti ini" jelas Juna yang tengah menyandarkan kepalanya dikursi.


"Lalu kamu pulang nanti naik apa?, ada yang jemput kamu." tegas Juna pada sekretarisnya itu.


"Gampang pak, nanti saya bisa naik ojek" ucap Pricilia.


Hah ojek, cewek secantik dia mau naik ojek. Apa ia Pricil tidak merasakan gengsi sedikitpun, dirinya juga punya gaji yang lumayan dikantor. Biasanya para gadis seperti dia lebih memilih naik taxi online untuk bepergian, tapi tidak dengan gadis ini. gumam Juna sambil menatap wajah Pricilia yang serius memandangi jalan karena hari sudah mulai gelap.


"Pak kita sudah sampai," ucap Pricilia membangunkan Juna dari tidurnya.


Sementara pak Ujang hanya memandangi sebuah mobil yang terlihat berhenti didepan rumah dengan lampu yang menyorot ke dalam bagian halaman rumah.


"Oh iya" Juna terbangun sambil membenarkan posisi duduknya.


Pricilla lalu mematikan mesin mobil dengan segara, ia lalu terlihat menuruni mobi milik Juna sambil berkata "Saya pamit pulang dulu ya pak".


Belum sempat Juna berkata kepada gadis tersebut, ia sudah menghilang begitu saja dari pandangan Juna saat itu. Juna pun mengambil alih mobilnya dan segera membunyikan klakson pada pak Ujang yang sudah menunggu didepan pos jaga.

__ADS_1


Sialnya kali ini kepulangan Juna tepat bersamaan dengan mobil Citra yang sudah sedari tadi ada dibelakang mobil miliknya, Ia pun melihat kehadiran Pricilia disana. Dengan muka garangnya, ia menuruni mobil sambil membanting pintu mobil dengan cukup keras.


"Kenapa kamu pulang bareng Pricil" umpat Citra pada Juna yang sempoyongan membawa tubuhnya.


Juna terlihat tidak memperdulikan segala ucapan Citra waktu itu.


"Juna ... berhenti aku bilang!" teriak Citra histeris.


Plaakkk


Sebuah tamparan mendarat dipipi Juna.


"Cukup!, aku muak dengan semua kegilaanmu ini. Apa tidak bisa kamu bertanya dengan lembut, bagaimana hari ini dikantor, bagaimana keadaanmu hari ini?" cecar Juna membalas tingkah Citra yang seperti anak kecil.


Citra masih dikuasai amarahnya saat itu, ia pun tak dapat berpikir dengan baik setelah semua penjelasan dari Juna.


"Jawab pertanyaanku tadi, kamu jangan mencari alasan!" dirinya bersikukuh paling benar dalam hal ini.


"Gila ya kamu!" Juna meninggalkan Citra disana dengan segala celotehnya.


Pak Ujang yang menyaksikan pertengkaran tersebut hanya dapat mengelus dadanya saat menjumpai sikap Citra.


Saat memasuki rumah, Citra yang masih tak terima dengan sika Juna pun kembali berteriak didalam rumah.


"Aku bilang berhenti sekarang juga!" pekik Citra dengan muka merah padam.


Si mbok dan mama Sinta yang tengah berada didalam dapur pun mencoba menegok untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mendapati Citra dan Juna berlarian saling kejar ke arah kamar.


Ada apalagi ini Tuhan, bukanya kunjung mereda dan membaik pertikaian diantara mereka. Tapi malah semakin menjadi saja setiap harinya. gumam mama yang merasa gagal membawa anak-anaknya kedalam hal baik.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor

__ADS_1


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


__ADS_2