Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
3 Minggu berlalu


__ADS_3

"Akh!,sialan. Benar-benar sialan kau Wili, karena perkataanmu kini diriku harus membusuk ditempat ini." gerutu Citra sambil menendang kotak makan yang kini sudah berantakan dibuatnya.


Sejauh ini, teman satu selnya menerima keadaan Citra dengan baik. Mereka sudah terbiasa dengan semua gerutu Citra disetiap harinya, bahkan mereka bertiga beranggapan bahwa Citra tengah dilanda gangguan jiwa dalam artian dia gila.


Ia terus menggores-goreskan garpu makanan miliknya ke dinding dengan cepat, hingga mengeluarkan bunyi yang sedikit mengganggu ditelinga.


"Lu tidur nggak!, atau mau gua bogem lagi !" seru Grista sambil melotot ke arah wajah Citra.


"Akh jangan, jangan, jangan ganggu saya. Jangan hiks,jangan siksa saya ampuun. Hihihi" Citra mulai ngelantur tak karuan dengan suara kecilnya.


Dia terlihat memutar-mutar jari jemarinya dengan cepat, dan sesekali terdengar menangis lalu dengan cepat ia pun tertawa.


"Woy bangun!, nggak beres sama otak itu anak!" ucap Grista membangunkan ke dua teman lainnya yang sudah terlelap tidur disana.


"Apa iya!" timpal Tiwi yang kemudian mendekati Citra perlahan.


"Jangan mendekat!, atau saya akan membunuhmu hiks. Saya akan membunuhmu ... hahaha"


"Dih, nggak beres nih!" jawab Tiwi.


"Pak penjaga pak!! tolong nih, dia gila !! teriak Grista menjerit dari dalam sel.


Salah seorang penjaga pun akhirnya menyambangi sel mereka dengan segera.


"Ada apa ini malam-malam teriak-teriak begini !"


"Coba liat dia pak!, bawa dia ke tempat isolasi saja. Dia sudah ngelantur sepanjang hari seperti itu, dan kata-katanya tak jelas dari tadi" jelas Grista menjelaskan keadaan Citra.


Sementara Citra yang masih asyik tertawa cekikikan terus saja ngelantur tak jelas dengan semua ocehannya. Sembari melipat ke dua tanganya dalam kakinya, kali ini ia pun bernyanyi dengan suara sumbangnya.


🖤


"Selamat ya pak, hari ini dokter sudah mengijinkan bapak untuk pulang dan beristirahat dirumah. Semuanya cukup terlihat baik, tapi dokter berharap pak Juna dapat mengendalikan pikirannya dari hal yang mengganggu sementara waktu ini yah" jelas suster.


Setelah semua serangkaian pemeriksaan yang terakhir sudah ia lakukan, kali ini Juna yang ditemani oleh mama Sinta seorang tengah berkemas dan segera meninggalkan rumah sakit itu.


"Ponsel Juna mana ma?"


"Sudah, ayo kita pulang dulu!"


Niat hati ingin mengecek keadaan Pricilia, kali ini niat itu harus terurungkan juga.

__ADS_1


Pim ... pim ...


Dengan cepat mereka pun sekarang tiba dirumah, si mbok yang sudah menunggu kepulangan Juna tengah mempersiapkan sebuah bubur hangat untuk anak majikannya itu.


"Den, mari duduk dulu. Si mbok sudah siapkan ini untuk den Juna, dimakan mumpung selagi hangat"


Sambil tersenyum, ia pun segera duduk dan menyantap bubur itu.


"Persis dengan bubur mbak Novi ya ma," dengan cepat perkataannya kali ini harus ia telan seketika.


"Jangan pernah bahas 2 perempuan itu lagi dihadapan mama!" wajah mama Sinta berubah menjadi masam.


"Tapi ma, mama belum tau masalah yang sebenarnya kan?. Ayolah, mama tolong berpikir panjang dulu sebelum mengambil sebuah keputusan."


Klothak!!!


Pisau dan garpu itu, dihentakkan begitu keras di piringnya hingga mengeluarkan bunyi sangat nyaring.


"Mama bilang udah ya udah, jangan dibahas terus bisa nggak sih!" mama lebih memilih meninggalkan Juna dan masuk ke dalam kamarnya.


Entah semenjak kapan, rumah itu berubah bak seperti dineraka saat berada didalamnya. Rumah yang dulunya selalu terlihat hangat dengan ke akraban anggota keluarganya kini terpecah belah.


Drrrt drrrt ...


"Iya mbak, ada apa?" Juna mengangkat telepon sambil berdiri dan menepi dari meja makan.


"Makasih ya dek, buat semua kirimannya"


"Kiriman apa ya mbak?" Juna kebingungan.


"Semua barang-barang pokok untuk kebutuhan sehari-hari selama ini kamu yang kirim kan?" Novi yang tegang diujung telepon memastikan untuk keduakalinya.


"Maaf ya mabk, tapi bukan aku. Aku juga barusan keluar dari rumah sakit, karena sakit. Mungkin orang lain, atau barangkali mas Surya" tuturnya.


"Hm, baiklah kalau begitu. Maaf ya mbak ganggu kamu, semoga kamu segera pulih kembali" tutup Novi.


Novi yang kali ini kebingungan, ia terlihat cemas memikirkan semua paket misterius itu. Ia tidak ingin jika sampai dirinya merasa hutang Budi dengan orang yang tak dikenalnya.


"Assalamu'alaikum ma, Malika pulang!" teriak Malika diujung pintu.


Putri kecilnya kali ini terlihat membantu untuk menopang perekonomian mereka berdua dengan cara berjualan, ia yang tak malu memutuskan untuk berjualan donat disekolahnya. Semua ini adalah inisiatif Malika sendiri, ia yang sadar akan kebutuhan dirinya yang semakin banyak. Tak ingin membuat mamanya semakin susah untuk memikirkan dirinya.

__ADS_1


Karena Malika pun tau, ia akan menjadi seorang kakak kali ini.


"Ini uang hasil jual donat ya ma!. Teman-teman Malika semua suka dengan donat bikinan mama loh, mereka bilang enak ma!" tutur gadis kecil itu sambil berbinar-binar matanya.


"Alhamdulillah, terimakasih ya sayang, karena sudah membantu mama." ucap Novi sambil berlinang air mata.


Ibu mana yang tak tersentuh hatinya ketika melihat putrinya begitu pandai membantu dirinya dalam mencari nafkah.


Entah pada siapa lagi jika bukan Malika tempat Novi bersandar untuk mendapatkan secercah semangat. Keduanya begitu terlihat saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain.


Ditempat yang berbeda, Citra kali ini harus berada dalam sel isolasi sebelum pagi hari nanti menjalankan serangkaian pemeriksaan untuk kesehatannya.


Setelah semalaman dalam sel sendirian, ia pun dengan cepat dibawah ke sebuah ruangan pemeriksaan khusus bagi warga penghuni sel, disana secara detail ia diperiksa dengan baik.


"Coba kemarikan berkas ibu Citra" ucap seorang dokter perempuan.


Ia lalu melihat dengan seksama semua riwayat tentang Citra selama ini. Dia tidak pernah memiliki riwayat penyakit yang cukup serius selama hidupnya, disana hanya tertera penyakit asam lambung yang sudah lama diderita oleh Citra akibat diet ketat yang selama bertahun-tahun ia jalani.


"Akan aku bunuh kalian, akan aku bb-bunuuhhh. Hahaha" Citra kembali ngelantur sepanjang pemeriksaan.


"Menurut pengamatan saya, bu Citra saat ini mengalami sebuah trauma yang cukup dalam. Sehingga dengan cepat trauma itu membuatnya seperti ini, sebaiknya bu Citra mendapatkan perawatan lebih intensif lagi di bawah pengawasan dokter" jelas dokter tersebut kepada seorang polisi yang tengah mengantarnya.


Polisi tersebut, akhirnya memberikan sebuah perintah kepada anak buahnya untuk segera membawa Citra ke tempat isolasi sementara, keputusan ini diambil karena mengingat ulah Citra yang tak segan-segan akan melukai rekannya saat bersama dirinya.


Untuk mengantisipasi semua hal buruk, Citra akan diasingkan beberapa waktu sampai keadaannya bisa berangsur membaik dengan perawatan obat yang sudah diresepkan untuk dirinya.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*

__ADS_1


*


...💐Abis baca komen dong💐...


__ADS_2