
Ciiiittttt
Suara decitan rem motor milik Wili terdengar begitu tajam ditelinga, ia pun dengan segera membuka helm dan menghampiri mereka berdua yang masih didalam mobil.
"Sialan bener ni anak!" umpat Surya.
Giginya saling bertautan dan sorot matanya sudah mengisyaratkan kesal terhadap Wili.
"Hentikan!, dia berguna untuk kita!" tegas mama Sinta yang masih saja sibuk merogoh tas mewah miliknya.
"Tapi ma ...!!!"
Protes keras Surya pun ditolak mentah-mentah oleh mama Sinta hanya cukup dengan sebuah lirikan tajam.
"Ada apa kamu?" tuturnya menyambut wili sambil membuka kaca mobil sepenuhnya.
"Mana jatah saya!" tanyanya tanpa basa-basi.
"Saya sudah kira, kamu bakal kemari untuk menagih cek ini bukan?".
Wili hanya tersenyum tipis.
"Hah, apa mama gila!!" ujar Surya yang kaget setengah mati.
Ia yang tak percaya mamanya akan membayar pria gila itu dengan nominal angka yang cukup fantastis.
"Mah ..., ayolah. Berpikir yang lebih rasional lagi, mama kali ini sudah dijebak sama pria brengsek ini. Dengan angka segitu, dia akan keenakan nantinya ma ...!".
"Mama tau apa yang harus mama lakukan untuk keluarga mama!"
Ucapan mamanya kali ini sungguh menyudutkan Surya, dia pun hanya diam dan terlihat sesekali mengusap lembut dahinya.
Mama Sinta yang sudah menyiapkan cek untuk Wili segera menyerahkan cek itu pada pemuda tersebut. Bukan angka main-main yang dituliskan oleh mantan mertua Citra itu, hanya cukup memberikan sebuah kesaksian palsu dan tidak bekerja bertele-tele ia mampu meraup uang 500 juta kali ini.
Tentu angka fantastis ini membuat Wili lebih bergairah bekerja sama denganya dibandingkan dengan mantan menantunya itu.
"Terimakasih," ia sambil mencium lembaran kertas tersebut dan berlalu dari hadapan mereka.
Nggak menantu, nggak mertua!. kalian semua sama saja ternyata, luarnya aja terlihat sempurna tapi hati kalian semua brengsek!. Cih ... gumam Wili saat hendak menaiki motor miliknya.
Sementara di sudut ruangan Pricilia yang hanya bisa mematung merenungi nasib bayinya, ia hanya terus terdiam dengan tatapan kosong. Bak kehilangan separuh nyawanya dan hanya tertinggal raganya yang utuh.
"Pagi bu Pricil, sarapannya saya letakkan disini yah." tutur seorang perawat yang sedang mengantarkan makanan.
Pricil yang menyadari kehadiran perawat tersebut segera bertanya padanya.
"Sus," suaranya lirih sementara matanya terlihat sedang menyeka air mata yang hendak menerobos keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Iya bu?"
"Apa suster tau bagaimana keadaan pasien yang bernama Juna diruangan paling ujung sana?" nadanya mulai pilu dan bergetar.
"Oh, pak Arjuna ya bu. Sampai dengan saat ini, beliau masih belum sadar dari komanya. Tapi sejauh ini perkembangannya masih cukup stabil bu" tutur suster.
"Makasih ya sus," pungkasnya. dan masih saja terus menatap langit biru dibalik cendela kaca kamarnya.
Di balik awan-awan biru dilangit, tiba-tiba saja Pricilia terbayang dengan wajah kecil seorang anak tengah tersenyum padanya. Ia yang sadar akan hal itu, segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar Juna secepatnya.
Masih sama dengan kemarin, dalam ruangan yang dingin itu, Juna masih terkulai tak berdaya dengan beberapa alat bantu medis yang tertancap memenuhi tubuhnya. Tak ada tawa, tak ada riang dan suara yang selalu membuat hari-hari Pricilia terasa penuh sesak hilang seketika.
"Mas, a-aaku rindu!" tangisnya pecah tak tertahankan. Air matanya pun menetes di ujung tangan Juna.
Tapi tetap saja, Juna tak dapat terbangun dari tidurnya.
Kemudian tangan Pricilia mulai bergerak untuk mendekatkan tangan Juna pada perutnya. Ia ingin Juna merasakan rindu yang tak tertahan dari calon anaknya itu.
"Jika dia saja mampu bertahan untukmu, apa tidak bisa kamu juga bertahan lebih lama untuknya. Dia yang sudah kamu tunggu, akan terlahir sempurna untukmu nantinya mas. Tolong, berjuanglah untuk kali ini saja. Demi dia, bukan aku. Dirinya pun berhak melihat wajah papanya nanti ketika pertama kali menghirup dunia ini".
Ceklekk
Pricillia yang sadar akan kehadiran mama Sinta diujung pintupun segera mengusap penuh air matanya itu. Dan ia dengan cepat meletakkan tangan Juna kembali.
"Siapa kamu,"
"S-ss-saya Pricilia bu," ujarnya penuh dengan santun dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Saya mengenal baik pak Juna bu, saya adalah sekretaris pak Juna dikantor" jelas Pricilia.
Mama Sinta hanya mengangguk saat mendapati penjelasan Pricilia.
"Baik, kalau begitu saya permisi ya bu. Saya kemari hanya ingin tau kabar tentang pak Juna saja. Terimakasih".
Mama Sinta pun hanya membiarkan wanita itu pergi begitu saja tanpa bertanya lebih jauh lagi. Apa yang bisa diharapkan oleh Pricilia tentang keluarga Juna, apa mereka akan memeluknya ataupun perduli dengan dia dirinya lebih jauh lagi?, tidak. Semua itu sangat jauh dari harapanya kali ini.
Lima menit setelah kepergian Pricil, tangan Juna tiba-tiba bergerak begitu pelan disana. Suaranya dengan lirih menyebut nama Pricilia saat itu.
Karena mama Sinta tak dapat mendengar suara putranya itu dengan baik, ia yang panik mendapati putranya tengah sadar dari komanya kemudian berlari keluar dan mencari-cari keberadaan dokter saat itu.
"Mah, ma ... ada apa. Kenapa mama gusar begitu!" seru Surya yang baru saja tiba membawa 2 botol air mineral.
"Cepat pergi cari dokter!, adikmu!. Adikmu" jelas mama terbata-bata menjelaskan keadaan Juna didalam.
Tanpa pikir panjang, Surya lalu berlari ke arah seorang perawat dan meminta bantuannya untuk memanggil kan seorang dokter untuk segera memeriksa adiknya.
Dengan penuh ketelitian, dokter dan 2 orang perawat yang telah tiba didalam kamar Juna pun memeriksa tubuhnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, seorang dokter pun keluar dan memberikan sebuah penjelasan kepada keduanya.
"Selamat ya pak bu, hari ini pak Juna sudah melewati masa kritisnya dengan baik"
Sontak saja mama Sinta begitu bahagia mendengar kabar tersebut, ia yang selalu meyakini bahwa putranya pasti bisa dan mampu melewati semuanya dengan baik.
"Ah, terimakasih dok!" ujar Surya.
Mereka pun segera menemui Juna didalam dan mencoba melihat perkembangan Juna sejauh apa.
Ditempat yang berbeda, Wili yang kali ini tengah sukses mencairkan cek tersebut segera pergi ke sebuah minimarket besar untuk membelanjakan semua keperluan Novi Malika beserta calon anaknya yang sedang dikandung oleh Novi.
Meskipun dia adalah seorang pria yang sangat pecicilan, dan jiwanya jauh dari kata baik. Wili sangat bertanggung jawab penuh atas perbuatan dirinya terhadap Novi, baginya seorang anugerah anak yang dikirim oleh Tuhan untuknya begitu besar berdampak pada kehidupan ia nantinya.
Setelah ia selesai memborong semua kebutuhan itupun, terlihat mengikuti sebuah mobil box yang hendak menuju rumah Novi untuk mengantarkan semua kiriman tersebut.
"Permisi,permisi ..." suara seorang kurir.
"Yah pak, ada apa yah?" tanya Novi yang sedari tadi sibuk membuat sebuah pesanan didalam rumah bersama Malika.
"Ada kiriman untuk ibu, berikut yang perlu ibu tanda tangani"
"Baik," Novi pun gugup saat menandatangani secarik kertas tersebut sambil matanya sesekali melihat ke arah mobil.
"Terimakasih bu." pungkas kurir tersebut.
"Akh, maaf pak. Ini nama pengirimnya siapa yah?" tanya Novi.
"Saya mohon maaf ya bu, untuk si pengirim sendiri tidak ingin jika sampai identitasnya disebutkan. Permisi !"
Novi hanya bisa terdiam ketika seorang kurir lainnya tengah sibuk menurunkan semua barang-barang tersebut dari atas mobil menuju teras rumahnya.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
__ADS_1
*
...💐Abis baca komen dong💐...