Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Cukup


__ADS_3

Keesokan harinya pertengkaran itu kembali dimulai, karena semalaman penuh dirinya tak dihiraukan dengan Juna ia lebih memilih melanjutkan semua pertengkaran itu hari ini.


Sraaakkk


Kunci mobil milik Juna terlihat di rebut oleh Citra.


Juna masih saja dengan semua kebisuannya saat mendapati sikap Citra yang tak kunjung membaik.


"Please berhenti, aku capek semalaman penuh seperti ini" rengek Citra yang masih saja membahas hal kemarin malam.


Tak bergeming Juna mendapati ulah Citra kali ini, Ia hanya terus melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah dan memilih memesan sebuah taxi online untuk berangkat menuju kantor.


Sedangkan orang rumah yang terlihat tak ingin mencampuri masalah mereka berdua hanya memilih bungkam bahkan termasuk mama Sinta.


"Brengs*k!" umapat Citra kesal sambil menendang ban mobil Juna dihalaman rumah.


Citra yang masih dikuasai amarahnya itu dengan tidak sadar mengikuti Juna ke kantor dengan setelan baju tidur miliknya. Ke duanya terlihat tiba dikantor dengan selisih hanya beberapa menit, matanya terlihat tengah mencari keberadaan Pricil disana.


Semua mata karyawan tertuju pada dirinya saat itu, tapi Citra tetap tidak menyadari tatapan aneh yang tertuju pada dirinya pagi ini. Setelah cukup lama bersusah payah dirinya mencari keberadaan Pricil dikantor, rupanya gadis itu baru saja terlihat datang pagi ini.


Sambil menggebrak meja Pricilia saat itu, ia menatap penuh curiga yang teramat dalam pada gadis itu. Tapi Pricilia dengan sikap santainya, berperilaku seolah tak pernah terjadi apapun pagi ini.


"Selamat pagi bu" sapanya dengan senyuman.


"Heh, dasar wanita ****** kamu. Beraninya kamu menggoda suami saya hah!. Kamu itu hanyalah anak kemarin sore di bawah saya, jangan bertingkah terlalu banyak disini. Karena saya bisa saja memecat kamu hari ini juga" maki Citra habis-habisan.


Semua ruangan itu tiba-tiba terhenti dari aktivitasnya, mereka semua nampak menyaksikan perkelahian antar Citra dengan Pricilia disana.


"Sebentar bu!, tolong tarik semua ucapan ibu barusan dengan segera." tantang Pricilia yang mulai terpancing kesal saat mendengar dirinya disebut sebagai wanita ******.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, semua yang saya ucapkan benar kan. Hah, wanita mana yang tidak akan mencoba mendekati bahkan merebut suami saya jika mereka mengetahui semua seluk beluk tentang keluargnya. Kamu hanya butuh uang mereka kan, coba katakan berapa nominal yang perlu saya tuliskan dikertas ini untuk wanita ****** seperti kamu" cecar Citra yang mulai semakin memperkeruh suasana.


Juna yang sudah mendapati istrinya tengah bertengkar dengan Pricil disana, dan telah menyimak semua ucapanya dengan segera memberikan tamparan keras untuk menghentikan semua omong kosong Citra disana.


"Aku rasa hanya ini yang mampu menghentikan mulut jahatmu itu" seru Juna kepada Citra yang baru saja ia tampar.


"Tega kamu ya, kamu lebih pilih perempuan ****** ini dari pada diriku" teriak Citra yang tak terima dengan keputusan Juna saat itu.


Karena Juna tak ingin membuat hati Pricilia semakin terluka dengan semua omong kosong istrinya itu, tangan Juna lalu meraih tangan Pricilia untuk mengajaknya segera pergi dari sana saat itu juga. Pricilla yang mendapati sikap bosnya itu hanya memilih diam dan patuh kemana Juna akan membawa dirinya kali ini.


"Berhenti aku bilang!" teriak Citra yang masih dikuasai oleh amarahnya.


Citra yang baru saja menyadari bahwa dirinya telah ditelanj*ngi dengan semua sikapnya sendiri, memilih untuk meninggalkan kantor dengan sesegera mungkin.


"Aaaaaakkkhhh" teriaknya dalam mobil sambil memukul setir mobil miliknya.


Ia begitu terpukul dengan semua kejadian ini, sampai rasanya ingin sekali membun*h wanita yang sudah dengan berani meracuni pikiran Juna saat ini.


"Kamu ikut saya saja hari ini mengelilingi kota, saya juga tidak tahu harus pergi kemana" jelas Juna sambil menatap kosong jalanan yang masih sesak dengan begitu banyak kendaraan.


Pricilla yang mendengar penjelasan Juna saat itu, hanya menyandarkan tubuhnya dengan sedikit mendengus kesal jika mengingat jelas semua perkataan Citra hari ini.


"Tolong maafkan kelakuan Citra hari ini yang kelewat batas dengan kamu" pinta Juna yang terdengar memohonkan maaf istrinya.


"Saya maafkan kok pak, jika saya berada diposisi ibu Citra mungkin saya akan bersikap sama. Tetapi disini yang membuat saya bingung adalah, dimana letak kesalahan saya kepada bu Citra?" Pricilla masih bingung dengan keadaan hari ini.


"Jangan terlalu dipikirkan dengan begitu berat. Cukup penilaian dari saya, kamu tidak pernah salah dalam hal apapun. Dan mengenai gertakan Citra yang akan mengeluarkan kamu dari kantor, tolong jagan dihiraukan terlalu jauh. Karena dikantor hanya saya dan mas Surya saja yang dapat menerima ataupun memecat orang karena kelalaiannya dalam bekerja" tutur Juna panjang lebar.


"Saya sudah mengerti akan hal itu pak, jadi saya hanya memilih diam saat bu Citra mengancam seperti tadi." ucap Pricilia.

__ADS_1


"Bagus jika memang kamu menyadari hal itu" puji Juna kepada sekretarisnya itu.


Sementara dirumah Citra yang tengah menangis tersedu-sedu akan ulah Juna hari ini, memilih untuk menghampiri Surya yang terlihat masih dirumah dan belum berangkat ke kantor.


"Mas" rengek Citra.


Matanya hanya melirik Citra saat dirinya masih menikmati segelas teh panas yang baru saja diberikan Novi.


"Mas, aku minta tolong sama kamu untuk kali ini saja. Aku mohon bantu aku" rayunya terhadap kakak iparnya itu.


"Apa" Surya mencoba mengimbangi perkataan Citra.


"Tolong pecat saja sekretaris Juna yang bernama Pricilia dikantor. Aku sungguh tidak suka dengan dirinya, Juna berhasil dikuasai oleh wanita itu mas" jelas Citra bertele-tele.


"Sekarang bagaima?, siapa yang salah dalam hal ini. Kalian berdua kan, kenapa tak ada pikiran untuk memperbaiki semua masalah rumah tangga kalian dengan baik. Semua dibiarkan bergulir begitu saja tanpa arah, dan sekarang seseorang mampu memasuki rumah tangga kalian dengan begitu mudah. Mas bisa apa, semua kendali ada pada tangan kalian masing-masing" wejangan Surya pada Citra.


Semua wejangan Surya kali ini tak mampu juga terserap dengan baik di otak Citra. Dirinya hanya ingin mencari dukungan untuk menyalahkan dan menyudutkan Juna kali ini. Tapi nampaknya tak seorang pun mendukung permintaannya kali ini, semua masih sama untuk memilih bungkam.


Citra yang mendapati hal ini dengan semua rasa kesalnya ia menaiki tangga saat itu juga.


Malika yang tengah berjalan dikamar atas pun menjadi pelampiasan dirinya saat itu. Tubuhnya terlihat dengan sengaja menabrak Malika hingga jatuh tersungkur dilantai. Novi yang menyadari hal itu, dengan segera menaiki tangga untuk menolong Malika agar tidak menangis mendapati sikap labil Citra.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor

__ADS_1


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


__ADS_2