
"Surya ... Surya ..."
"Mana nomor itu!"
"Ck" decak Citra.
Dirinya yang tengah didalam mobil, tengah menyalakan lampu mobil miliknya dan tangannya bergulir diatas ponsel untuk mencari nama sang mantan kakak ipar.
"Ini dia!" serunya dengan seringai liciknya.
Tapi telepon itu hanya berdering cukup lama disana, tanpa ada jawaban apapun.
"Ayooo angkat!, akh!" gerutu Citra memaki Surya dengan kesal.
Karena merasa teleponnya diabaikan oleh Surya, dia lantas memacu mobilnya ke arah rumah mama Sinta. Disana, Citra yang segera turun dari mobilnya dengan cepat menghampiri mang Ujang untuk menanyakan keberadaan Novi.
"Mang sini !" teriak Citra setengah berbisik.
"Eh, nggak perlu dibuka. Saya nggak masuk juga kok!" ujarnya perlahan.
"Iya ada apa mbak?" sahut mang Ujang polos.
"Mang, tau nggak dimana mbak Novi sekarang?!" ucap Citra langsung menembak kepada mang Ujang.
"Hm, mbak Novi yah. Setahu saya, terakhir kali dia pergi dengan non Malika ke rumah orang tua mbak Novi mbak. Coba mbak Citra cek aja disana!" jelas mang Ujang mendetil.
"Ok, makasih ya mang!" seru Citra yang tengah terburu-buru kali ini.
Karena hari sudah mulai larut, ia yang tak tahu lagi hendak pergi kemana memutuskan untuk bermalam dirumah Novi saat ini.
Setelah pencariannya selama beberapa jam, Citra akhirnya mendapati alamat Novi disana. Rumah itu sudah nampak sepi dan tak ada aktivitas terlihat didalamnya.
Lampu rumah pun, terlihat sudah di padamkan oleh Novi. Ia yang sudah begitu kelelahan segera membuka pintu bagasi mobilnya dan mengeluarkan satu koper miliknya.
Dengan susah payah, ia menyeret koper itu menuju teras rumah Novi. Dirinya sangat yakin jika Novi akan mengijinkannya bermalam disana saat ini.
"Tok...tok..."
"Mbak!"
"Mbak Nov!"
"Tok...tok...!" berulang kali Citra mengetuk daun pintu itu dan memanggil namanya.
Novi yang tengah terbangun, meraih outer miliknya dan beranjak keluar untuk melihat siapa gerangan orang yang hendak bertamu ke rumahnya selarut ini.
"Ceklek !"
"Yah," ucapnya sambil membenarkan penglihatannya disana.
Citra yang tengah duduk pun, langsung berdiri menyambut tubuh Novi dengan sebuah pelukan.
"Mbaakkk!"
"Aku kangen!!!" teriaknya dengan air mata buayanya.
"Cih, jika bukan karena terpaksa aku tidak akan memperlakukan dirimu dengan manis seperti ini!" gumam Citra dibalik punggung Novi.
"Citra!"
"Apa kabar?!"
"Syukurlah kamu sudah bebas" seru Novi dengan polos tanpa memiliki firasat buruk sedikitpun pada sang mantan adik iparnya itu.
Sejauh ini, memang hanya Novi saja yang masih bisa dikelabui oleh Citra. Karena dirinya memang belum mengetahui semua kebusukan wanita itu selama ini.
"Mau kemana kamu semalam ini?" tanya Novi dengan memperhatikan koper Citra.
"Hari ini tadi Citra diusir dari villa mbak!"
"Dan Citra pun di usir dari rumah mama Sinta!" ujarnya dengan tampang memelas.
Sejauh ini, sandiwara dirinya pun berjalan cukup apik dihadapan Novi .
"Ayo masuk aja!" ajak Novi tanpa rasa keberatan sedikitpun.
__ADS_1
Merasa dirinya juga pernah berada diposisi yang sama dengan Citra saat itu, hati Novi yang begitu terenyuh melihat keadaan Citra mencoba memberikan sebuah tawaran yang juga telah ditunggu-tunggu oleh Citra sejak tadi.
"Kamu bermalam disini saja, kebetulan mbak juga sendiri di rumah ini" tuturnya .
"Mana Malika?" ucap Citra penuh semangat kepalsuan.
Mendengar nama malaikat kecil itu, Novi kembali mengenang wajah putri kecilnya itu dengan menahan tangis.
"Dia sudah di surga" tegas Novi dengan tersenyum lebar.
Dirinya yang sudah berjanji, tidak akan pernah sedih berkelanjutan lagi jika harus mengenang Malika.
"Ya ampun, maaf ya mbak. Citra nggak tau, yang sabar ya?!" ucapnya lirih.
"Nggak papa kok,"
"Kalau begitu tunggu sebentar yah, mbak akan siapkan kamar buat kamu"
Novi berjalan ke kamar kosong milik almarhum ibunya, karena sudah lama tak ditempati. kamar itu perlu diganti alas tidurnya dengan Novi.
"Hehe!"
"Dapet makan gratis, penginapan gratis pula!"
"Lumayan, irit budget juga!"
"Mau aja gue bodihin berulang kali !" serunya dengan wajah liciknya.
Malam itu, Citra pun terlihat bersiap untuk segera tidur karena tubuhnya sudah sangat kelelahan.
"Sial, sial !"
"Panas bener ini kamar!"
"Mana cuma ada kipas buluk lagi?!"
"AC mana AC !!!"
"Gerah ih, badan sampai basah begini !"
Sepanjang malam mulutnya terlihat sibuk menggerutu tentang fasilitas rumah Novi yang hanya ala kadarnya itu.
Ia yang tengah kelelahan, akhirnya dapat tertidur juga meski harus dengan posisi jungkir balik demi mendapatkan sebuah angin dari kipas yang sudah terlihat lapuk.
*
*
*
Keesokan harinya, pagi itu Novi yang telah bangun terlebih dahulu dari pada dirinya tengah menyiapkan sebuah sarapan pagi bagi dirinya dan juga Citra.
Sebuah nasi putih dan telur mata sapi, sudah tersaji diatas meja makan itu.
"Citra ..."
"Cit ..."
"Ayo bangun dulu, kita sarapan!" panggil Novi .
"Ehmmm " Citra menggeliat disana.
"Hoaaam, Iyah mbak" serunya dengan menguap selebar mungkin.
Citra yang masih terlihat acak-acakan disana, sangat berbeda jauh dengan Novi yang tengah bersiap untuk berangkat kerja pagi itu.
"Hah?!"
"Nasi telur!"
"Roti mana roti !!"
"Gini amat hidup lu mbak!"
"Dih !"
__ADS_1
gerutunya dengan memandang jijik seluruh makanan yang tengah ada dihadapannya.
"Ayo dimakan"
"Maaf ya, mbak nggak bisa siapin lebih dari ini?!"
"Eh, nggak papa kok mbak!"
"Tapi Citra kan belum gosok gigi juga, duluan aja makanya"
timpal Citra tengah berkelit dari tawaran Novi.
"Rapi banget, wangi pula!"
"Mau kemana kamu mbak!" ucap Citra yang mengamati sekujur tubuh Novi dan penampilannya.
"Kerja lah!" ujar Novi santai dengan tersenyum.
Mendengar jawaban Novi, Citra begitu berantusias untuk lebih lama lagi dirumah itu demi mendapatkan gratisan.
"Begitu yah!"
"Emang si, mbak juga sudah nggak ada yang nafkahi"
"Sama kayak aku,"
"Begini amat nasib kita ya mbak!"
"Mana aku juga nggak ada kerjaan saat ini"
tutur Citra yang tengah menyusun jalan kebusukannya .
"Sudah, kamu nggak perlu mengeluh"
"tinggal aja disini, sampai kamu benar-benar mendapatkan pekerjaan nantinya yah!" jelas Novi yang menurunkan sendok miliknya dan memberikan sebuah penawaran yang begitu bagus untuk Citra.
"Yeah!"
"Kena kan!"
"Gampang banget ngibulin ini wanita!"
"Dasar BODOH!"
"Gue nggak perlu susah payah cari kerja dan duit disini . kan ada dia yang kerja dan menghasilkan uang!"
gumamnya dengan tatapan mata licik.
"Oke kalau gitu, mbak tinggal dulu ya. jangan lupa dimakan itu sarapannya."
"Anggap aja seperti rumah kamu sendiri disini"
"Nggak perlu sungkan!"
Karena jam masuk kerja sudah terlalu mepet, Novi memutuskan untuk naik taxi online saat ini untuk mengejar kemacetan.
"Dih, nggak sudi gue makan makanan kampung kayak gini!"
Seluruh isi piring itu, ditumpahkan ke dalam tong sampah kecil yang berada tepat di dapur Novi.
...----------------...
Bersambung ♥️
*
*
*
...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥...
Ditinggalkan saat pernikahan berlangsung dua hari lagi memang tak dapat Vanye bayangkan, tapi semua terjadi padanya ketika Satria memutuskan untuk pergi meninggalkan dia tanpa pamit.
__ADS_1
Semua persiapan matang telah dilakukan, tapi pengantin lelaki telah pergi. Namun, ditengah-tengah semua masalah ini datanglah seorang lelaki lebih muda dari Vanye dan ingin menggantikan posisi mempelai laki-laki. Mungkinkah Vanye menerima kebaikan lelaki yang ternyata adalah calon adik iparnya sendiri?