
Hoek ... Hoek ...
Pagi hari ini, Pricilia merasakan mual yang begitu hebat menghampiri dirinya dirumah. Ia sudah terlihat mengenakan pakaian rapi untuk menuju kantor.
Ia pun mencoba membersihkan peluh yang seukuran biji jagung didahinya, badanya sedikit dingin tak seperti biasanya. Dirinya yang sudah mulai curiga dengan hal ini, lalu meraih alat testpack didalam lemari bajunya yang sudah ia siapkan semenjak kejadian hari itu.
Dirinya pun lalu membuka alat tersebut dengan penuh kehati-hatian, dan membaca setiap langkah yang sudah tertera di bungkus alat tersebut. Dirinya yang masih awam mengenakan alat tersebut, mencoba meyakinkan dirinya bahwa hasilnya akan baik-baik saja.
Sepuluh menit kemudian, Pricilia mulai menarik benda tersebut dari sebuah gelas kecil yang sudah berisi air maninya. Sungguh diluar dugaan Pricilia, alat itu menunjukkan dua buah gadis merah. Jika menurut keterangan pada kertas tersebut, hasil itu menunjukkan positif untuk tes yang ia jalani.
Dirinya pun terduduk seketika, tanganya terlihat meremas rambut hitamnya. Ia panik, lesu dan tak dapat berpikir sempurna seketika. Dunianya berasa hancur akibat ulah Juna.
"Tidaaaakkk ..." teriak Pricilia begitu kencang dalam kamar mandi.
Saat itu dirinya lebih memilih mengunci dirinya dalam kamar mandi, dan membuka air kran begitu deras membasahi semua tubuhnya.
Pricillia pun terlihat memukuli perut datarnya disana, jauh dalam lubuk hatinya ia tak menginginkan hal ini terjadi begitu cepat. Dirinya masih belum siap menjadi orang tua tunggal bagi anak ini kelak, air kran yang mengguyur kepalanya selama berjam-jam pun akhirnya menyadarkan semua halusinasinya yang sudah terlampau jauh menghantui dirinya.
Akhirnya, ia pun memutuskan untuk tidak masuk kerja hari itu. Ia lebih memilih berdiam dirumah dan menstabilkan kondisinya saat ini. Sambil menyisir rambutnya dihadapan cermin, ia menatap kosong kaca tersebut.
Perlahan cermin itu membawa dia pada sebuah perjalanan masa depan yang begitu indah bersama seorang anak kecil yang tertawa bergelayutan ditangannya. Ia yang tersadar dari hal itu, mencoba meraih alat tes kehamilan miliknya tadi.
Baiklah Pricil, kali ini kamu harus siap dengan segala resiko yang harus kamu hadapi kedepannya. Ingatlah, jika bayi ini sama sekali tak berdosa dan dosa itu hanya milik kalian berdua. Jika nanti dirinya terlahir ke dunia ini, dia takkan menuntut apapun darimu kecuali kasih sayangmu. gumam Pricilia terhadap dirinya sendiri.
Cukup lama berdiam diri dirumah, membuat dirinya lebih memilih untuk berdamai dengan keadaan yang ada. Tinggal jauh dari ke dua orang tua, bukanlah hal yang mudah bagi Pricilia saat ini. Tapi dengan kondisinya saat ini, ia pun tak ingin jika keduanya cemas memikirkan Pricil.
Dirinya pun mencoba menutupi kehamilan dirinya dari keluarga besarnya.
__ADS_1
"Kamu dimana?" isi pesan singkat Juna sudah menghiasi layar ponsel Pricilia.
Pricillia pun mengacuhkan pesan itu tanpa arti.
🖤
"Ma, hari ini Malika akan bantuin mama dirumah aja ya," ujar Malika yang tengah memandangi Novi mengeluarkan beberapa kue dari dalam oven.
"Boleh sayang, tapi setelah Malika pulang sekolah ya," sahut Novi memberikan penjelasan.
Novi bersama putrinya kali ini tengah menyiapkan beberapa ratus pesanan kue dadakan dari bisnis onlinenya. Oven yang bisa dibilang cukup besar tersebut, memang sengaja ia beli untuk mendukung usaha kecilnya yang sudah ia rintis sejak lama.
Dari hasil berjualan kue kering inilah, yang nantinya akan dijadikan sebuah sumber mata pencaharian buat Novi yang sudah bergelar menjadi orang tua tunggal bagi Malika. Ia tak ingin jika putri semata wayangnya ini akan kesusahan dalam menempuh pendidikan nantinya.
"Ayo mama antar ke sekolah baru Malika sayang," ujar Novi mengajak putrinya yang baru saja pindah dari sekolah lamanya.
"Ma," kaki kecilnya seketika terhenti.
"Nanti disekolah baru, teman-teman bakal tanyain papa nggak ya" tuturnya sedih dengan wajah masam.
"Itu pasti sayang, Malika tinggal bilang sama teman-teman disana. Papa sekarang masih sibuk kerja, dan Malika berdua di rumah sama mama. Benar kan?" jelas Novi mengajarkan kepada anaknya.
Ia tak ingin mengajari putri kecilnya itu untuk berbohong, melainkan mencoba menceritakan apa yang memang sebenarnya dialami oleh Malika. Dirinya sangat paham betul, jika Malika saat ini sangat rindu dengan papanya. Tapi apa daya Novi yang harus terhalang dengan keadaan seperti ini, ia tak bisa memaksakan keadaan yang terjadi sekarang.
Setelah ia selai mengantarkan Malika, ia pun dengan cepat mengemas kue kue tersebut dengan cantik satu persatu. Pesanan kue kali ini memang akan dijadikan sebuah souvernir pernikahan. Jadi Novi tak ingin jika sampai penampilan kue itu akan mengecewakan pelanggan barunya.
Tok .. Tok ...
__ADS_1
Terdengar seseorang mengetuk keras pintu rumahnya saat itu.
"Apa benar ini rumah ibu Novi Heemeka?" tanya seorang lelaki yang mengantarkan sepucuk surat putih.
"Benar," sahut Novi segera.
Dirinya pun segera menerima surat tersebut dan menandatanganinya.
Setelah ia terima, dirinya pun membuka sebuah amplop putih yang cukup lebar itu yang sudah tertera didepannya dengan tulisan pengadilan agama. Tanganya bergetar saat membuka isi secarik kertas tersebut, benar saja hal yang paling ia takutkan dalam hidupnya kini menjadi kenyataan. Surat cerai itu sudah ia dapatkan hari ini, seperti hujan busur panah yang menghujani hatinya dengan begitu banyak anak panah yang menancap didalam sana.
Dirinya pun lemas seketika, air mata itu kembali mengalir membasahi pipinya. Bagaimana ini terjadi begitu cepat tanpa adanya sebuah mediasi diantara keduanya, tapi Novi sadar siapa mantan suaminya kini. Hal seperti ini bukanlah hal yang sulit untuk Surya ciptakan begitu cepat dengan bantuan orang dalam. Apapun bisa ia beli dengan semua uang dan kemauan dirinya.
Dalam ratapan sedihnya, ia kembali teringat putri kecilnya Malika. Hal ini tidak boleh menyurutkan semangat hidupnya kali ini, justru bagi Novi ini harus menjadi sebuah cambuk begitu besar dalam hidupnya. Dirinya harus bisa membuktikan kepada Surya beserta keluarganya bahwa ia tetap mampu berdiri tanpa mereka.
Tiba-tiba, dirinya merasakan pusing kepala yang begitu hebat saat itu. Matanya berputar seketika disana, ia mencoba berdiri sambil berpegangan pada dinding rumahnya. Dan mencoba duduk sejenak disebuah sofa, setelah beberapa menit berlalu pusing yang begitu hebat itu seketika hilang. Dan dirinya pun bergegas untuk berangkat menghantarkan semua pesanan kue tersebut ke dalam sebuah mobil milik customernya yang sudah menunggu didepan.
"Terimakasih ya bu atas pesanannya ini," ujar Novi pada seorang ibu-ibu yang berdandan bak seorang sosialita.
Sementara Novi yang masih merasakan gejala yang tak biasa pada tubuhnya, kini kembali merasakan sakit disekijur badanya.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
__ADS_1
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️