
Kali ini, Juna pun memutuskan untuk mengajak Pricilia untuk pulang ke rumahnya. Entah apa yang akan terjadi disana, tapi ia hanya ingin membawa gadis itu pulang bersamanya.
"Pak!, kenapa kesini?" tanya Pricilia dengan nada terkejut.
"Yah, kita pulang kan!" tatap Juna.
"Tolong bawa saya ke tempat lain pak, saya nggak mau pulang kesini." ujar Pricilia.
"Aku akan membawamu ke hadapan mama kali ini !" Juna tetap bersikukuh.
"Tapi pak ...!"
Perkataan Pricilia tetap tak dihiraukan olehnya, dan tetap memasukkan mobil ke dalam halaman rumah dan memarkirnya.
Dengan pasti, Juna pun menuntun Pricilia untuk mengikuti langkahnya memasuki rumah.
"Siapa dia?!" ucap mama Sinta yang tengah sibuk membaca majalah disofa depan televisi.
"Pricillia!"
"Ada keperluan apa dia datang kemari, bukankah dia hanya salah seorang staf kita dikantor!" tanya mama ketus.
"Juna menghamilinya ma!"
Pricillia hanya menganga dengan menatap ke arah Juna yang telah nekat untuk memberitahukan kebenarannya. Sementara dia hanya tertunduk lemas.
"Hamil?, ANAKMU!!!" tanya mama dengan nada sedikit membentak.
"Tentu ma, kita sudah pernah tidur bersama. Dan itu semua atas permintaanku!"
"Jangan main-main kamu dengan mama!" mama Sinta lalu berdiri sambil membuang majalah itu ke meja didekatnya.
"Kali ini Juna serius ma, kami datang untuk meminta restu dari mama!"
"Punya derajat apa dia, hingga harus kau nikahi dan sampai kau tiduri !. Dia hanya seorang karyawan kita saja, tidak lebih. Ke dua orang tuanya pun sudah ku pastikan hanyalah seorang rakyat jelata saja tanpa memiliki kedudukan!" maki mama Sinta.
Baginya kali ini, semua tentang bibit bobot dan bebet sudah menjadi prioritas utama. Semenjak melihat rumah tangga anaknya berantakan karena telah menikahi istri dari kaum dibawah standarnya, ia tak ingin lagi jika semua itu terulang dengan kepahitan.
Namun berbanding terbalik, kali ini Pricilia berani berbicara setelah mendengar ke dua orang tuanya direndahkan seperti itu.
"NYONYA SINTA yang terhormat, dengan segala kerendahan hati saya dengan amat dan sangat rendah ini. Saya meminta pada anda, selaku pemilik perusahaan saya bekerja. Tidak akan pernah lagi mengucapkan hal buruk tentang kedua orang tua saya yang tidak pernah mengenal anda. Saya mohon lebih bijak lagi dalam berbicara kali ini !"
Tangan gadis malang itu, terlihat mengepal begitu kuat hingga gurat nadinya pun terlihat sempurna.
__ADS_1
Juna yang tidak menyangka jika Pricilia akan bertindak seperti itu, ia lalu meraih tanganya untuk digenggam dengan erat agar Pricil mendapati kesadaran kembali dalam menghadapi mamanya.
"Coba lihat wanita hebat ini, dia dengan lantang berani menentang mamamu disini dan didepan mata kamu. Apa wanita yang jauh dari kata berpendidikan seperti dia yang akan kamu nikahi?" mama Sinta melipat ke dua tangannya sambil membuka penuh kedua bola matanya ke arah Juna.
"Aku yakin dia yang terbaik ma,!" Juna masih tetap dengan keyakinannya.
"Baiklah, mama hanya bisa berkata terserah apa katamu saja kali ini. Tapi tolong catat baik-baik, jika sejengkal saja kamu keluar dari rumah ini dan memilih wanita itu tolong pergilah dengan sehelai baju itu saja yang kamu bawa pergi dari rumah ini. Karena mama tidak akan segan untuk mencoreng nama anak yang tak pernah patuh kepadaku!" gertak mama Sinta.
Mama Sinta yang tak ingin digeserkan kedudukannya oleh Pricilia dihati Juna, mencoba memberikan sebuah gertakan yang tak akan mungkin bisa Juna lewati. Selama ini, Juna tumbuh dalam lingkungan keluarga yang bergelimang harta. Mana mungkin dirinya sanggup mengangkat ke dua kakinya tanpa membawa sepeser hartapun.
"Jika memang itu yang terbaik ma, kali ini Juna akan pamit pada mama. Dan Juna lebih meninggalkan semua harta kekayaan mama dan semua kenyamanan ini, demi dia dan calon anakku nanti!" tantang Juna balik.
"Pak!" pricillia mencoba menyadarkan semua ucapanya.
Juna hanya memandangi wajah gadis itu dengan sebuah senyuman.
"Keluar secepat mungkin dari rumah ini. Angkat kaki kalian jauh-jauh dari hadapan saya sekarang juga, mulai detik ini kamu pun tidak berhak lagi memanggilku mama!" usir mama dengan dingin.
Mereka berdua kemudian membalikkan badan dan segera pergi dari rumah mewah itu, sesuai permintaan mamanya Juna kali ini meninggalkan kunci mobil beserta semua kartu yang telah ia dapatkan dari mamanya sebagai bentuk fasilitas bagi dirinya selama ini.
"Apa bapak gila!!" tanya Pricilia keheranan.
"Kenapa!, apa kamu tak mau bersamaku lagi setelah aku menjadi kere?!" jawab Juna.
"Semua akan baik-baik saja, jika kamu masih mau bersamaku!" tegasnya sambil tersenyum.
Semua ini seperti sebuah mimpi bagi Pricilia, bagaimana mungkin anak kolongmerat seperti Juna lebih memilihnya dari pada semua harta yang dapat menjamin kehidupannya dengan layak.
*
*
*
"Hai Aya," sebuah pesan singkat melintas dilayar ponsel milik Surya.
Dirinya masih tak percaya jika teman sewaktu kecilnya itu masih menyetujui perjodohan konyol yang dilakukan oleh mamanya.
Perempuan tersebut bernama Renata Fredika, dia kali ini telah pulang ke Indonesia setelah lama menempuh sebuah study di Amerika. Disana ia mengembangkan bakatnya dalam merancang busana, dan tak sedikit orang pula yang telah mengakui kehandalan dirinya dalam merancang sebuah busana.
Keduanya memang sudah lama tidak bertemu semenjak kepergian Rere ke Amerika, dan keduanya tidak pernah pula berkomunikasi.
"Hm" balas Surya cuek.
__ADS_1
"kita bisa ketemu Aya!" balasnya lagi.
"Tentu, temui aku di cafe caroline sekarang" balas Surya.
Kedatangan Rere ke cafe tersebut hanya cukup memakan waktu belasan menit saja, karena kebetulan dirinya memang tengah berada dijalan yang tak cukup jauh dari lokasi pertemuan keduanya.
"Dimana Aya," kedua bola matanya yang bewarna coklat itu, tengah mengelilingi sekitar ruangan dan mencoba mengingat kembali bagaimana wajah Surya dan bentuk tubuhnya.
Wanita itu telah memiliki panggilan nama tersendiri untuk Surya sejak kecil, dan hingga hari ini dirinya juga tak ingin merubahnya.
"Aku yakin pasti itu dia!" serunya.
Dia melangkah menuju sebuah meja dengan seorang pria memakai kemeja bewarna coklat tengah duduk sendiri disana.
"Apa kabar!" sapanya yang tiba-tiba duduk begitu saja tanpa permisi.
"Rere?!" tanya Surya penuh tanya pada wanita didepannya.
"Iya Aya, ini Rere mu. Masih ingat?!" wanita itu coba membangkitkan lagi memori ingatan Surya.
Surya yang masih tak percaya dengan wanita yang ada dihadapannya kali ini adalah Rere. Bagaimana mungkin, gadis cilik gendut dan memiliki kulit sedikit gelap bisa hadir dihadapannya begitu cantik dan sempurna.
"Dimana dulu kita sekolah!" selidik Surya yang masih tidak percaya.
"Kamu ternyata masih sama seperti dulu!, kita sekolah di SD suaka makmur. Dan dulu kita sekelas, hanya saja kita terpisah oleh 1 bangku. Seorang anak laki-laki yang cuek, tapi hatinya sungguh baik dengan gadis cilik gendut yang selalu ia tolong dari semua bulian teman-temannya itu" celoteh Rere.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
*
__ADS_1
...💐Abis baca komen dong💐...