Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Malaikat kecil


__ADS_3

Terimakasih sayang, kamu selalu menguatkan mama saat ini. Jika dulu mama harus sendiri untuk menguatkan hati mama, kini kamu dikirim Tuhan untuk menemani mama melalui semua masa-masa sulit ini. Mama janji, akan selalu menjaga Malika dengan baik. gumamnya sambil memeluk erat tubuh Malika dan menciumi wajah putri kecilnya itu.


Malika pun terlihat duduk dibangku depan


untuk menemani Novi yang sedang menyetir saat itu.


"Ma, kita akan jemput papa kan" binar mata penuh kebahagiaan itu membuat Novi menjadi semakin semanga.


"Tentu sayang" dengan mengusap lembut rambut Malika.


Sampai pada akhirnya mereka berdua pun tiba di kediaman rumah Novi dan Surya. Bukan hal baik yang mereka temui, justru kenyataan pilu kembali yang terlihat disana. Pintu rumah itu tertutup rapat dan tak terlihat mobil Surya terparkir dirumah itu.


"Ma" matanya kembali memelas melihat Novi.


"Yah sayang," Novi tertunduk dihadapan Malika yang sudah ingin menangis karena tak mendapati papanya.


"Papa kemana" ucapnya lesu.


"Dengarkan mama, mobil papa kan nggak ada disini berarti tandanya papa sudah pergi untuk berangkat kerja. Jadi kita tunggu papa pulang saja dirumah omah ya, nanti pasti papa akan pulang." bujuk Novi pada putri kecilnya, meskipun harus berbohong.


Dalam gundah hatinya, ia hanya terus mengemudikan mobilnya sambil berpikir dimana gerangan keberadaan Surya saat ini.


🖤


Setelah beberapa hari berlalu, keberadaan Juna yang masih dipertanyakan oleh mama Sinta juga tak kunjung pulang. Ia ternyata lebih nyaman di hotel dari pada dirumahnya sendiri, semenjak kejadian dirinya dengan Pricil ia lebih memilih untuk menyendiri jauh dari keluarga.


Sementara Pricilia memilih untuk terus melanjutkan kehidupannya dengan bekerja seperti biasanya. Meski begitu, ditengah jam kantor ataupun pulang kantor Juna masih saja sibuk merecoh Pricilia dengan sejumlah perintah yang tak dapat dibantahnya.


Kali ini, sesuai janjinya ia akan datang ke hotel tersebut untuk menemui Juna disana. Ia akan membawakan makanan yang sudah Juna ia pesan melalui dirinya.


Tiiit ... Tiiit ...


Pintu kamar hotel dibuka oleh Pricilia yang segera masuk ke dalam kamar saat itu juga, ke dua tangan kecilnya terlihat membawa dua kantong plastik sedang yang semua berisi makanan.


Kresek Kresek


Dia sibuk menyiapkan semua makanan untuk Juna dan menata rapi diatas meja.

__ADS_1


"Apakah semua pesanan saya ada?" sahut Juna menghampiri Pricilia.


"Ada pak" pungkasnya.


"Temani saya makan ya, saya tidak mau jika sampai calon anak saya mengalami kekurangan gizi disana" ujarnya sambil menunjuk perut datar Pricil.


Ucapan Juna itupun mengundang tanya dalam hati Pricil, pasalnya Pricilia juga baru pertama kali dalam hal percintaan seperti ini. Tak ada tempat baginya untuk bertukar cerita tentang apa yang baru saja ia alami. Dia juga tidak paham, bagaimana cara menghitung pembuahan sejak hari pertama terjadi.


Apakah ia, benih itu akan tumbuh di perutku?. mungkinkah anak ini akah terlhair ke dunia, apakah aku kuat menanggung beban ini sendirian nantinya. gumam Pricilia pilu sambil meremas perutnya.


"Saya selalu katakan padamu, bahwa saya siap mempertanggung jawabkan semuanya" kata-kata Juna itu selalu mengintimidasinya setiap kali.


"Saya akan urus baik-baik anak ini jika ia sampai terlahir ke dunia" sambil menarik nafas panjang, ia justru terlihat mengucapkan sebuah nada menantang pada Juna.


Sementara Juna hanya diam dengan semua jawaban Pricilia, sejatinya ia memang tak dapat memaksakan perasaannya terhadap gadis tersebut. Pricillia juga berhak atas segala keputusan dirinya saat ini.


Tanpa mengeluh ataupun merengek seperti halnya gadis-gadis yang sering Juna temui dimasa kelamnya, Pricilia justru terlihat tegar menemani Juna makan disana.


Dan keadaan itu, membuat Juna semakin cinta dengan gadis tersebut.


Sambil terus melahap semua makan itu, ia terus memandangi wajah Pricilia yang juga tengah menikmati makanannya.


Di tempat lain, justru Citra tengah sibuk merancang sebuah rencana baru untuk Novi dan Surya. Ia ingin rencana kali ini, dapat memantik api jauh lebih besar dari saat ini.


Sementara sambil berpikir, ia yang tengah meminum segelas teh hangat disana sembari memandang air didalam kolam renang itu. Tiba-tiba ia dibuat terkejut dengan kedatangan Wili yang mengantarkan sebuah sarapan pagi untuknya.


Pagi ini, Citra terlihat tertarik untuk mengajak pemuda ini dalam rencana busuknya untuk melancarkan sebuah aksi.


"Kamu Wili kan?" basa-basi Citra.


"Yah" sahutnya singkat sambil mendongak ke arah Citra.


"Boleh nggak saya minta tolong sama kamu kali ini Wil," rengeknya sambil memelas.


Wili yang tak bisa melihat seorang wanita merengek kepadanya, akhirnya menghampiri Citra saat itu. Dia pun siap mendengarkan segala rengekan Citra disana.


"Makasih ya Wil, jadi kali ini aku mau kasih kamu sebuah penawaran yang menghasilkan uang. Lumayan loh Wil, jumlah uang itu bisa buat kamu senang-senang nantinya. Tapi uang itu akan saya berikan jika kamu selesai menjalankan misi ini" ujarnya penuh semangat.

__ADS_1


"Apa tuh mbak," ucap Wili setengah penasaran.


"Aku mau, kamu menjebak seorang wanita yang bernama Novi. Semua arahanya nanti kamu tunggu aba-aba dari saya. Gimana deal?" jelas Citra.


Hah, gue disuruh ngejebak cewek. Sialan juga ini perempuan, bagus luarnya busuk ternyata dalamnya. Lumayan lah, hitung-hitung bisa buat tambahan uang bulanan. gumam Wili yang menyambut perintah Citra.


"Tulis no rekening kamu disini," pinta Citra sambil menyodorkan ponsel miliknya.


Tling


Suara notifikasi ponsel Wili berbunyi, terlihat sebuah laporan masuk ke ponselnya. Itu adalah sejumlah uang yang dikirimkan Citra pada dirinya sebagai tanda jadi pekerjaan ini.


Nominalnya membuat ia cukup terkejut dan terperangah menatap layar ponsel itu.


"Gila si ini, tapi makasih ya." ucapnya kegirangan.


Wili memang anak yang unik, ia bisa dengan mudah menempatkan posisinya dalam segala keadaan. Baik buruk semua ia tepatkan pada posisinya, sekalipun pekerjaan yang bisa dibilang brengs*k seperti ini pun juga bakal ia lakukan.


Ia sudah terbiasa mencari uang sendiri, baginya mau dari manapun sumber uang itu. Asalkan semua itu itu jerih payahnya sendiri tanpa harus mengemis pada ke dua orang tuanya yang sudah tak lagi mendapatkan pemasukan tetap setiap bulanya.


Dirinya adalah seorang lelaki, ia tidak ingin jika sampai dirinya menjadi beban bagi ke dua orang tuanya seperti teman-temannya yang lain. Jika memungkinkan, ia justru ingin menjadikan posisinya sebagai tulang punggung dirumahnya.


"Aku permisi dulu ya mbak" ujarnya sambil kegirangan, Citra hanya mengangguk.


Kali ini, akan aku kirimkan sebuah bentuk rasa sayangku kepadamu mbak. Duduk manis dirumah, dan tunggu tanggal mainnya yang segera dimulai.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2