
Rupanya gadis kecil tersebut diantar oleh tetangga baru Novi ditempat tinggalnya yang sekarang. Ia adalah bu Erna, selaku istri pak RT ditempat tinggal Novi.
"Bu Novi, maafkan putri saya yah sudah merepotkan ibu" tutur Novi.
"Enggak kok bu, malahan tadi Malika mau berangkat sendirian kesini. Saya yang berpapasan dengan dia, jadi keinget putri saya dirumah jadi nggak tega" jelas Erna.
Novi terlihat memeluk sumber kekuatan untuk dirinya dengan begitu erat. Dan menciumi seluruh wajah Malika.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya bu Novi. Semoga lekas sembuh" pamit Erna.
"Iya bu, terimakasih untuk do'a baiknya yah" sambut Novi bahagia.
"Ma, kenapa tangan mama harus disuntik begitu?" tanya Malika dengan segala kepolosannya.
"Nggak papa sayang, bentar lagi ini juga akan dilepas. Tunggu air yang ada didalam kantong itu sampai habis tak tersisa" tutur Novi menjelaskan pada putrinya.
Setelah ia bertanya pada Novi, ia pun menghampiri Juna yang masih berdiri disamping Pricilia.
"Om, tante cantik ini siapa?" mata kecilnya mengoreksi Pricilia.
Belum sempat Juna menuturkan, Pricilia dengan segera menunduk pada Malika dan menyapa gadis kecil itu.
"Kenalin, ini tante Pricilia. Bisa panggil tante Icil kalau Malika mau" sapanya lembut.
"Tapi tante bukan istri om Juna, istri om tante Citra kan?" tanya Malika dengan kepolosan hatinya.
Kali ini perkataan Malika membuat ketiganya terdiam dan ruangan itu terlihat hening seketika.
"Tante Pricil ini, justru tadi yang sudah menolong mama sayang. Coba Malika mau bilang apa sama tente Pricilia." tutur Novi yang segera menghindar dari topik pembicaraan Malika.
"Terimakasih ya tante, sudah mau tolongin mama aku." Malika lalu memeluk wanita itu dengan begitu tulus.
Dirinya hanyalah seorang anak kecil yang memandang semuanya dari rentetan peristiwa yang sudah ia lalui.
Setelah semuanya terlihat mencair dalam suasana, tak berselang lama selang infus yang tertancap pada tangan Novi pun segera dilepaskan oleh seorang perawat. Dan dirinya sudah dinyatakan untuk boleh pulang hari ini juga oleh dokter dengan beberapa resep yang sudah dituliskan untuk dirinya.
"Biar Juna saja yang ambilkan obat ini mbak," seru Juna yang mengambil secarik kertas putih diatas meja.
Kali ini, Juna datang untuk menggantikan posisi Surya disana. Ia yang tak tega melihat Novi harus menanggung kesusahan ini sendirian, dengan cepat ia bergerak untuk melunasi semua tagihan rumah sakit Novi.
__ADS_1
"Sekarang, aku antar mbak dan Malika pulang yah" Juna memberikan tawaran kepada dirinya.
Karena Novi juga masih lemah, ia tak ingin jika sampai putrinya mengetahui keadaan dirinya dan semakin sedih. Novi menerima tawaran baik itu dengan perasaan senang.
Mereka semua masuk kedalam mobil, dan menuju ke rumah Novi saat itu. Setibanya dirumah Novi, Juna dengan segera membukakan pintu mobilnya untuk Novi dengan Pricilia.
"Mbak, kalau butuh sesuatu tolong hubungi saja aku ya" tegas Juna yang masih ingin menjaga hubungan baiknya bersama dengan mantan kakak iparnya itu.
"Baiklah, mbak juga berterimakasih pada kalian berdua ya. Jika hari ini tidak dipertemukan dengan kalian, entah apa yang akan terjadi menimpa mbak" ujarnya sedih.
Keduanya lalu pergi dari rumah Novi sesegera mungkin.
"Dada om, tante ..." ujar Malika sambil melambaikan tangan ke arah Juna yang membuka kaca mobilnya.
Novi yang hendak ingin memasuki rumahnya, ia terhenti ketika mendapati seorang pria yang sudah berdiri tepat dibelakangnya.
"Maaf mbak, boleh saya meminta waktunya sebentar" ujar laki-laki tersebut.
Novi yang merasa tidak kenal dan bahkan wajahnya sangat asing baginya, ia lalu bertanya dengan sopan kepada pria itu.
"Maaf, mas ini siapa yah. Ada keperluan apa datang kemari?. tanya Novi.
"Ma,Malika tunggu didalam aja yah." tutur Malika.
Seakan menghormati tamu mamanya, ia lebih memilih masuk kedalam dari pada berdiri disana.
"Perkenalkan, saya Wili mbak" suara Wili lantang dihadapan Novi.
Pemuda tersebut hanya terpaut usia 3 tahun lebih mudah dari Novi.
"Iyah, ada keperluan apa mas Wili mencari saya?" tanya Novi yang masih penasaran dengan sosoknya.
Ini adalah keli pertama mereka bertemu dan langsung bertatap muka setelah kejadian nahas itu. Wili kali ini datang dengan semua penyesalan dirinya yang sudah menghantuinya sejak lama, terlebih Wili mendapati kabar bahwa Novi resmi bercerai dengan suaminya karena ulahnya yang sama sekali tak pakai otak.
"Saya kesini ingin meminta maaf pada mbak Novi, saya sangat menyesal mbak. Tolong maafkan saya" Wili bertekuk lutut dihadapan Novi.
"Eh, kenapa ini. Cepat berdiri mas, saya nggak enak dengan tetangga jika sampai mereka melihat kamu seperti ini." jelas Novi.
"Tolong bebaskan saya dari semua rasa bersalah ini mbak, saya mohon." jelas Wili dengan mata memelas.
__ADS_1
"Coba ceritakan dengan baik kepada saya mas, sebenarnya ada apa dan mas ini kenapa." Novi membimbing Wili agar bisa bercerita dengan baik.
"Saya adalah lelaki yang sudah menjebak mbak Novi di villa saat itu" pungkasnya.
Bagaikan tersambar petir disiang bolong, ia pun harus mendapati kenyataan pahit ini dihari yang bersamaan. Entah kesialan apa yang tengah dihadapi kali ini oleh Novi, tapi kesialan datang satu persatu menghampirinya.
Plaaakkk
Dia menampar keras wajah Wili disana.
Dirinya tak ingin terlihat lemah saat ini, hal ini yang sudah lama ia tunggu semenjak kejadian itu. Tanpa perlu ia mencaritahu, Tuhan sudah mendatangkan dengan sendirinya pelaku itu tepat dihadapannya.
"Tuhan begitu baik dengan saya, sampai kamu pun dikirim kesini untuk menemui saya. Terimakasih karena kamu masih punya rasa kemanusiaan, dan dengan berani mempertanggung jawabkan semua kesalahan kamu dihadapan saya. Dan perlu kamu ingat, kamu sudah saya maafkan jauh sebelum kamu menginjakkan kaki dirumah saya" tegas Novi.
Suaranya bergetar saat menyampaikan semua rasa kepahitan itu, dan lebih terlihat kuat untuk menghadapi kehadiran Wili.
"Saya siap mempertanggungjawabkan perbuatan saya mbak, jika sampai mbak Novi hamil anak saya." pinta Wili dengan penuh kegigihan.
"Kamu bicara tentang anak?, apa anak yang kamu maksud ini." Novi menunjuk perutnya yang masih terlihat datar yang sudah berisi benih Wili disana.
Wili begitu kaget saat mendapati Novi kali ini sudah mengandung anaknya. Ada rasa bahagia dan berdosa berkemelut dihatinya. Ia tak tahu harus berekspresi seperti apa untuk hal satu ini.
"Tolong, untuk kali ini saja lupakan semua tentang anak ini. Jika kamu memang merasa ingin memperbaiki semua dosa dan kesalahan kamu jangan pernah membawa-bawa dia dalam hal ini. Aku terima anak ini dengan penuh kasih sayang, aku akan merawatnya serta mendidiknya dengan benar. Tapi jangan pernah meminta aku untuk memaksakan kepada dia untuk menyebutmu papa. Aku tidak ingin jika sampai ia malu, karena dia harus terlahir dengan cara yang salah." jelas Novi yang sedikit menahan emosinya dengan jantung yang berdebar.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
__ADS_1
*
...💐Abis baca komen dong💐...