
"Sial !"
"Meski diriku sudah bebas, dirimu pun tetap menutup hatimu untukku!"
Sambil berjalan menuju mobilnya ia terus mengumpat Juna tiada henti.
*
*
*
Sementara Surya yang sudah cukup lama berdiam diri untuk memendam keinginannya bertemu dengan Novi, hari ini ia memutuskan untuk menemuinya.
"Tunggu aku!"
"Aku akan katakan semua itu padamu"
"Hari ini juga sayang!"
Dengan perasaan yang menggebu, Surya sedang asyik memarkirkan mobilnya di depan teras rumah Novi, sampai pada akhirnya ada sebuah mobil yang telah terparkir tepat didepan rumah Novi juga.
Saat itu Novi tengah bersama Sando, keduanya memutuskan pulang bersama karena saat Novi tengah menunggu sebuah angkutan umum ditepi jalan tak ada satupun yang berhenti karena sudah terisi penuh.
Flashback Sando.
"Apa mau pulang dengan saya?" ucap Sando memberikan penawaran.
"Eh, bapak. Sejak kapan disitu?" sahut Novi terkejut melihat kehadiran dirinya .
"Belum lama, kebetulan saya putuskan lewat sini ternyata ada kamu" timpal Sando.
"Saya lagi nunggu angkutan umum buat pulang pak, tapi nggak tau deh hari ini semua sudah penuh . nggak ada yang mau berhenti dari tadi " jelas Novi dengan senyum lesung pipitnya.
Karena Sando tak ingin memaksakan kehendaknya pada Novi, ia yang sudah bersikukuh untuk mengantarkan wanita itu. memilih untuk menunggu Novi sepanjang waktu disana.
Sampai pada akhirnya, ketika Novi tak kunjung mendapatkan angkutan umum dan hari juga sudah mulai gelap. Dirinya pun menerima tawaran Sando dengan senang hati. Mereka berdua pun pulang bersama.
*
*
*
"Anda?." ujar Surya kaget ketika melihat Sando membukukan pintu mobilnya untuk Novi.
"Yah, saya?!" tegas Sando yang tak ingin melayani Surya lebih jauh lagi.
"Sejak kapan anda mengenal Novi ?" tanya Surya dengan nada tinggi.
Sorot matanya begitu tajam ke arah Sando dan benar-benar tak memberikan sedikit ruang untuk berkelit bagi laki-laki yang telah berani mendekati mantan istrinya tersebut.
"Apa masih ada hak itu bagi anda untuknya?!" jawabnya santai.
Sando berdiri tepat dihadapan Surya dengan kedua tangan yang telah ia selipkan kedalam saku celana miliknya. Dan terlihat sedikit membusungkan dadanya.
"Tentu sa..." ucap Surya yang tertahan karena Novi mencela ucapannya.
__ADS_1
"Sudahlah, mari kita duduk didalam saja" ajak Novi kepada kedua pria yang telah bersitegang dihadapannya.
Ketika Sando mengikuti langkah Novi dari belakang dan masuk kedalam rumah, tentu Surya semakin terbakar api cemburu disana. Semua rencana yang telah susun secara matang dan manis harus terhentikan dengan kehadiran Sando disana.
"Silahkan diminum" pinta Novi dengan memberikan keduanya masing-masing gelas berisikan air teh.
"Kamu selalu sendirian dirumah?" tanya Sando dengan menyesap gelas miliknya.
"Iya pak, semenjak kematian putri saya. Sehari-harinya saya hanya sendirian saja disini" jelas Novi.
"Berhati-hatilah, karena sekarang banyak sekali laki-laki jahat bertampang baik" sindir Sando kepada Surya.
Surya yang sedari tadi menahan kemarahannya, hanya bisa terdiam dan terus memainkan tangannya diatas kursi.
"Lalu anda, ada perlu apa datang kemari?!" ujar Sando bertanya pada Surya.
"Apa urusan anda!" timpal Surya sengit.
"Tentu anda berurusan dengan saya kali ini, setelah anda mematahkan hati adik saya Renata. Kali ini saya akan pastikan hal itu tidak terulang kembali kepada wanita lain!" seru Sando dengan melanjutkan minumnya.
"Ck" Surya berdecak.
"Saya pikir, adik anda saja yang sangat terobsesi dengan saya!" timpalnya kembali dengan santai dan arogan.
"Srakkk!!" suara meja yang telah tertabrak oleh kaki Sando .
"Bagh ... Bugh ..."
"Jaga mulut kotor anda itu!"
"Jangan pernah berani kurang ajar dengan adik saya!" ucap Sando melayangkan ancamannya disana.
"Stooooppp!"
"Cukup!"
"Hentikan!"
"Jika memang kedatangan kalian berdua disini hanya untuk berkelahi, saya minta kalian pergi tinggalkan rumah saya !"
Ia berusaha tegas tanpa memberikan pembelaan apapun pada keduanya dan menyuruh Sando dan Surya meninggalkan rumahnya.
"Tapi Nov ..." cela Surya memprotes dirinya.
"Cukup mas, hentikan!"
"Silahkan pergi dari sini !" timpal Novi segera.
Disisi lain, Sando yang sudah teramat marah dengan ucapan Surya lebih memilih untuk meninggalkan rumah itu dan menuruti apa kemauan Novi saat itu juga.
"Maafkan saya pak, bukan maksud saya untuk membelanya. Saya tidak ingin bapak mengotori tangan bapak lebih lama lagi disini" gumam Novi sembari melihat kepergian Sando .
Novi sangat memahami perasaan Sando disini, dirinya adalah kakak dari Renata. Bahkan bukan hanya Sando saja jika mendengar nama adiknya direndahkan seperti itu akan bereaksi marah seperti tadi, seluruh kakak manapun pasti akan melakukan hal yang sama jika melihat atau mendapati adiknya disakiti.
"Aaarrrghh!"
"Sial"
__ADS_1
"Sial"
"Siaaal"
didalam mobil, Surya terus berteriak tanpa henti mengumpat dirinya sendiri.
"Rencanaku berantakan semuanya, karena ulahnya!"
Dengan mengendarai mobil miliknya, dan sesekali menatap kaca spion mobilnya. Lelaki itu tak ada hentinya meluapkan semua kekesalannya pada Sando.
"Malam pa!"
"Brrrsstt" suara Sando yang baru saja datang dan menyapa papanya dengan menghempaskan tubuhnya secara kasar diatas sofa yang memiliki busa cukup kenyal.
"Malam"
"Hmm"
"Dari mana dirimu semalam ini?"
tanya Roy dengan santai sambil menatap sebuah majalah yang tengah berada ditangannya.
"Pulang kerja pa!" sahutnya.
"Tidak mungkin!"
"Pasti karena wanita bukan?" timpal Roy dengan nada memancing agar putranya dapat berterus-terang pada dirinya.
Sando yang tengah melipat kedua tangannya dan menyelipkan dibelakang kepalanya, seketika menoleh kearah Roy yang tiba-tiba membahas tentang wanita pada dirinya.
"pasti Renata kan?!" sahut Sando malas dengan menarik panjang nafasnya.
"bawa wanita itu pada papa secepatnya!"
"Papa tidak sabar ingin bertemu dengannya" tutur Roy.
mendengar permintaan papanya, Sando tak lantas mengiyakan pernyataan tersebut dengan cepat. Ia masih terlihat berpikir dengan keras, bagaimana mungkin bisa membawa Novi kehadapan papanya secara tiba-tiba.
"Kamu tidak perlu berpikir, papa dulu saat pertama kali bertemu mamamu langsung jatuh cinta."
"Dan papa, langsung menyatakan perasaan itu padanya tepat dihadapan ke dua orang tuanya sebelum dirinya mengetahuinya."
"Wanita itu, haya butuh kepastian saja. Dan kebanyakan dari mereka sangat bosan jika terlalu lama menunggu kepastian itu!"
Lelaki yang sudah memiliki banyak jam terbang tentang masalah percintaan dan sudut pandang mengenai wanita itu mencoba memberikan pengarahan pada sang putra disana.
...----------------...
Bersambung ♥️
*
*
*
...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥...
__ADS_1
Love ia blind, sebuah quote paling terkenal dan mungkin sesuai untuk Adriano D'Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar dibenua Eropa. dia telah jatuh cinta kepada wanita bersuami yaitu Florecita Mia. cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu. Adriano memilih untuk menghilang dan menutup masa lalunya. Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan sang wanita pujaan. bedanya, saat itu Mia telah menjadi janda. Wanita yang dulu pernah mencoba menghabisi nyawanya, kini menghadap dan meminta bantuan Adriano untuk menangkap pelaku dari pembunuh sang suami.