
Setibanya dirumah peninggalan orang tuanya, Novi beserta putrinya melihat segera memasuki halaman rumah tersebut. Rumah itu tak cukup megah ataupun luas, hanya rumah sederhana dan memiliki sejuta kenangan didalamnya.
"Bismillah," ujar Novi sambil membuka pintu rumah tersebut.
Malika yang berada tepat disampingnya masih merasa asing dengan rumah itu, ke dua mata kecilnya masih mencari-cari sesuatu disana.
"Sayang, mau bantu mama nggak" Novi berlutut dihadapan putrinya dengan ke dua mata sembabnya.
"Boleh ma" sahut Malika dengan polos.
Masih dengan perasaan yang terbalut luka begitu ketir, ia berusaha tegar dan kuat dihadapan putrinya. Dengan melibatkan Malika untuk membantu dirinya, ia pun mengemasi beberapa ruangan yang akan ia pakai dengan putrinya bermalam. Sisanya ia akan kerjakan sendiri dengan perlahan di esok hari.
"Ma, Malika laper" ujar gadis kecil itu sambil mengusap perutnya.
Karena mereka datang dengan tangan kosong dirumah itu, jadi ia pun masih belum punya bahan-bahan untuk keperluan mereka sehari-hari. Novi yang teringat dengan tasnya, ia pun meraihnya dan mengamalkan sebungkus roti yang selalu ia siapkan setiap harinya saat pergi dengan Malika.
"Taraaa, mama punya ini. Malika makan ini dulu ya, setelah beres-beres rumah mama akan masak buat Malika." ujarnya sambil menghibur putri kecilnya itu.
Malika pun tersenyum melihat tingkah mamanya kali ini, meskipun dirinya masih kecil tapi ia juga bisa merasakan kesedihan Novi saat ini.
"Ini ma," sepotong roti Malika berikan pada Novi disana.
"Buat Malika aja ya sayang," ucap Novi sembari mengembalikan kembali roti tersebut.
"Jangan ma, itu buat mama. Kita kan berdua disini, harus kuat nggak boleh sakit. Kalau mama sakit, siapa yang jagain Malika ma" ujarnya polos dan membuat hati Novi begitu tersentuh mendengarnya.
Dirinya pun memeluk erat dan menitihkan air mata dibelakang punggung Malika.
*
*
*
__ADS_1
"Wil," sapa Citra pada pemuda yang tengah merenungi dosanya diujung kolam renang.
Wili hanya menoleh dengan lemas saat mengetahui Citra sudah duduk didekatnya.
"Kenapa kamu, jadi letoy begini. Harusnya makin kuat dong, abis tersalurkan hasratnya dengan gratis pula" celetuk Citra tanpa otak.
Wili menatap kesal perempuan licik itu, sambil terus memainkan air dikolam tersebut dengan kakinya.
"Oke,oke. Aku nggak bakal gangguin kamu disini. Yang pasti aku cuma mau ingetin aja sama kamu, jangan pernah coba-coba membuka mulut kamu tentang apa yang sudah kita sepakati ini. Karena aku sudah lunasi semua pembayaran ke kamu, termasuk bonus juga" Ujar Citra yang memancing emosi Wili.
Saat Citra tak mendapati jawaban kepastian dari Wili ia pun berlalu masuk kedalam kamarnya dan mencoba menghubungi Surya dirumah, sambil memonitor keadaan Surya dan Novi.
"Mas, yang tenang ya ada aku. Disini aku bakal selalu support kamu," pancing Citra melalui pesan singkatnya.
Surya yang masih berada dalam kondisi marah dan gampang sekali terpancing emosi kala itu, tak menjawab pesan tersebut. Dan lebih memilih keluar dari rumah mama Sinta. Sambil membanting pintu kamarnya ia pun berjalan menuruni anak tangga sambil berlari kecil menuju mobil.
Entah apa yang berada dipikiran Surya saat itu, dirinya sampai bisa terjerumus ke dunia malam. Ia yang sudah berputar-putar cukup lama dijalan, akhirnya memilih untuk menuju salah satu tempat hiburan malam yang cukup terkenal didaerah itu.
Tanpa ragu dirinya memasuki tempat itu, suara alunan musik yang begitu keras kali ini tak bisa menggangu dirinya sedikitpun. Ia yang biasanya tak suka jika suasana cukup ramai ataupun berisik, kali ini malah terlihat membaur dalam suasana itu.
Sampai pada akhirnya, salah satu seorang karyawan disana membangunkan dirinya dari tidur.
"Pak, pak." karyawan tersebut menggoyangkan tubuh Surya yang sudah tergeletak diatas meja.
"aaah," ucapnya setengah mabuk dan belum bisa membawa dirinya dengan sempurna.
"Hampir pagi, apa bapak tidak segera pulang" tanya karyawan tersebut.
Surya hanya melirik jam tangan yang melingkar ditangannya, sambil mengusap ke dua matanya ia mencoba membetulkan pandangan matanya yang masih saja berputar sedari tadi saat melihat jarum jam.
Ia keluar dengan jalan yang masih sempoyongan, sampai akhirnya tiba didalam mobil miliknya ia pun kembali tidur disana sambil mengigau memanggil nama Novi berulang kali.
Saat hari sudah mulai siang, Surya pun terbangun dari tidurnya akibat sorotan sinar matahari yang menyelinap masuk ke dalam mobilnya. Betapa terkejutnya ia mendapati dirinya tengah asyik tertidur didalam mobil.
__ADS_1
Ia yang sudah mulai sadar pun, dengan segera memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah mama Sinta.
"Kamu dari mana semalaman?" ujar mama yang terlihat sedang mengoles selai diatas roti miliknya.
Surya yang mendengar suara mama lalu mendekat dan mencium tangan mama Sinta. Saat dirinya tepat berada dekat dengan wajah mama Sinta, dengan tidak sengaja ia pun bersendawa cukup keras. Alhasil, bau alkohol yang cukup menyengat itupun mampu tercium oleh mama Sinta.
"Abis mabuk kamu?" tanya mama datar tanpa memandang sedikitpun Surya.
"Maaf ma" sahutnya menjawab mama Sinta.
Mama Sinta yang sudah berubah semenjak ke dua putranya memiliki masalah rumah tangga yang begitu pelik, ia merasa tak ingin ikut campur lagi dalam masalah ke duanya. Ia hanya ingin menua dengan tenang dengan segala sikap acuhnya sekarang.
Seolah melepaskan tanggung jawabnya sebagai orang tua, ia tak mau lagi mendampingi ke dua putranya agar berjalan pada jalan yang benar.
Setelah Surya berlalu dari hadapannya, kali ini Juna yang sudah lama tak kunjung pulang akhirnya pulang juga.
"Jun, masih ingat rumah kamu" ujar mama kepada putra ke duanya masih dengan muka datar dan acuh.
Juna yang melihat sikap mamanya berubah drastis, memilih enggan untuk berbicara dan berlalu meninggalkan dirinya dimeja makan yang terlihat asyik memakan sepotong roti miliknya.
"Bapak sudah sampai dirumah?" pesan singkat Pricilia yang memastikan Juna untuk pulang ke rumah semenjak kejadian hari itu.
Juna begitu senang membaca pesan singkat Pricilia, memang inilah sikap yang sudah ditunggu-tunggu olehnya kepada wanita tersebut. Tetapi berbeda dengan Pricil, ia melakukan ini semata-mata hanya ingin Juna agar cepat berbaikan dengan istrinya Citra.
Dirinya tidak ingin, jika Juna selalu mengusik hidupnya dengan dalih akan ada seorang anak ditengah-tengah hubungan kita. Tapi kenyataan pahit itu juga masih belum bisa ditepis oleh Pricilia, pasalnya sampai dengan saat ini dirinya belum mengetahui kepastian akan hal itu.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
__ADS_1
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️