
Hari ini bertepatan dengan ulang tahun pernikahan dirinya dengan Surya. Di tahun ini pernikahan mereka telah memasuki usia ke delapan tahun, bagi Novi banyak sekali hal yang bisa dipetik dari usia pernikahan yang sudah sejauh ini. Tapi yang selalu ia harapkan setiap tahun pernikahannya adalah semoga rumah tangga mereka selalu dalam keadaan yang bahagia hingga maut memisahkan mereka.
"Mama, kenapa mama diam aja." ujar Malika memecahkan keheningan saat itu.
Novi hanya tersenyum mendengar celetuk Malika, seharian ini ia merasakan tubuhnya sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya. Ia mudah sekali lelah, dan terkadang sedikit merasakan kram diperutnya. Dirinya juga merasa tidak berselera ketika menjumpai makanan ketika sedang berada di meja makan.
Novi yang tak begitu memperhatikan keadaan dirinya selama ini, hanya beranggapan bahwa ia hanya sedikit kelelahan. Sampai suatu seketika, ia yang tengah sibuk merapikan kamar saat itu tiba-tiba tubuhnya terjatuh begitu saja dan tak sadarkan diri.
"Ma ... mama bangun. Omah, tolongin mama." Malika teriak kepanikan mendapati Novi yang sudah tergeletak dilantai sambil menangis.
Mama Sinta yang saat itu berada dikamar mendengar suara tangisan Malika dengan segera menghampiri gadis kecil tersebut. Ia pun dengan cepat menyambar ponselnya untuk menghubungi dokter kepercayaan keluarganya.
Terlihat si mbok juga sedikit panik menemani mereka bertiga diatas sambil menggosokkan minyak ke tangan Novi. Malika hanya menangis tersedu melihat keadaan Novi saat ini dalam dekapan mama Sinta.
"Tenang ya sayang, mama Novi nggak papa kok." jelas mama Sinta mencoba menenangkan cucunya.
"Bangun ma," pekiknya lirih dalam pelukan mama Sinta.
Hanya dalam waktu beberapa menit, dokter Hendra pun sampai di kediaman mama Sinta saat itu. Ia adalah Hendra Mahardika, seorang dokter muda yang masih lajang dengan tinggi semampai berkulit putih serta memiliki lesung pipit disebelah pipi kananya.
"Selamat sore tante," sapanya dengan lembut dan santun.
"Akhirnya datang juga kamu, tolong cepat periksa menantu saya ya Hen." pinta mama Sinta kepada dokter Hendra yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.
Hendra saat ini menggantikan posisi papanya yang dulu juga sebagai dokter keluarga di rumah mama Sinta. Karena sudah cukup lama papa Hendra meninggal dunia, mama Sinta pun akhirnya memilih dirinya untuk menggantikan posisi papanya. Ia sudah cukup handal dengan dunia kedokteran meskipun usianya masih muda.
Hendra lalu membantu si mbok untuk memindahkan tubuh Novi ke atas tempat tidur dan memulai untuk memeriksanya. Ketika Hendra hendak mengambil jarum suntik, Novi pun mulai terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan ia mulai membuka matanya, pandanganya pun sedikit sama saat itu.
"Sudah sadar mbak?." ucap Hendra yang tengah berada disamping Novi.
Ia mencoba perlahan membenarkan pandangan matanya, dengan perlahan semua pandangan mata Novi mulai membaik.
__ADS_1
"Iya dok." ucapnya lirih dengan nada sedikit lemah.
"Saya akan memberikan suntikan vitamin untuk mbak Novi saat ini." dengan perlahan Hendra menancapkan jarum suntik tersebut ke arah lengan Novi.
Ia hanya mengernyit saat jarum tersebut mulai terbenam dikulitnya.
"Mbak Novi, kapan kali terakhir datang bulan?." tanya Hendra sambil membersihkan lengan Novi dari bekas jarum suntikan.
Ia pun tesentak dengan pertanyaan Hendra saat itu, pasalnya Novi juga sudah tak mendapati dirinya datang bulan di bulan ini.
"Saya lupa dok, tapi untuk bulan ini saya belum datang bulan." jelas Novi yang sedikit ragu.
"Berarti betul dugaan saya, selamat ya mbak Novi saat ini tengah mengandung." ucap Hendra yang memberikan kabar bahagia.
Wajahnya lalu merah merona, saat mendengarkan penjelasan singkat dari Hendra kala itu. Setelah semua pemeriksaan selesai, Hendra lalu berpamitan pada Novi dan meninggalkan Novi dikamar agar beristirahat. Terlihat dimeja Hendra meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan resep obat untuk Novi.
"Gimana keadaan menantu saya Hen?." ucap mama yang masih terlihat sedikit cemas sambil menggendong Malika yang sudah tertidur di pangkuannya.
"Selamat ya tante," Hendra menjabat tangan mama Sinta sambil tersenyum.
"Sebentar lagi tante akan mendapatkan seorang cucu." jelas Hendra.
Mama terkejut mendengar berita yang sungguh menggembirakan ini. Sementara Hendra segera berpamitan pada mama Sinta saat itu juga, mama yang tak mampu menyembunyikan kebahagiaan dirinya lalu memutuskan untuk mengabari Surya yang saat itu tengah dikantor.
Saat Surya mendengar kabar tersebut, ia lalu bergegas untuk pulang dengan cepat. Ia terlihat memacu mobil dengan laju dijalanan yang sedikit terlihat lenggang agar cepat sampai dirumah.
"Mana Novi ma," serunya sambil mata yang mencari-cari.
"Dikamar," sambut mama Sinta penuh bahagia.
"Sayang," sapa Surya sembari duduk tepat disisi Novi.
__ADS_1
"Hai mas, kenapa sudah pulang." sahut Novi dengan memandangi jam dinding yang belum menunjukkan jam pulang kantor.
"Nggak papa, yang penting kamu. Kata mama kamu ..." jelasnya yang tiba-tiba terhenti.
"Iya, InshaAllah aku dan kamu akan menjadi orang tua. Kita akan punya anak lagi mas," tutur Novi yang terbaring.
Wajah penuh kebahagiaan jelas terpancar saat itu, matanya berbinar dan senyumnya mengembang dengan sempurna. Marah yang saat itu menguasai hatinya kini sudah runtuh seketika oleh sosok malaikat kecil yang akan hadir ditengah keluarga kecil mereka.
"Maafkan atas sikap dinginku belakangan ini ya sayang." sesal Surya yang sudah menaruh prasangka buruk pada istrinya.
"Aku juga minta maaf ya mas." sahut Novi yang terdengar mengimbangi Surya.
Waktu itu sudah menunjukkan pukul lima sore. Dan semua orang terlihat tengah berkumpul di ruang tamu, terlihat mama Sinta dan lainnya disana terkecuali Citra. Semua menyambut dengan suka cita atas kehamilan Novi saat itu. Sampai pada akhirnya bersamaan dengan kehadiran Citra yang baru saja pulang dari kantor.
"Pasti nanti wajah anak mbak Novi mirip dengan den Surya, biasanya lelaki itu paling dominan wajahnya di anak pertama." jelas pak Ujang yang menebak dengan antusias.
Langkahnya terhenti saat mendengar celetukan pak Ujang saat itu, dirinya yang saat itu tidak menghiraukan semua orang yang tengah berkumpul diruang tamu. Dengan cepat membalikkan badan dan memutuskan untuk bergabung dan menyambut kabar tersebut penuh gembira. Rupanya ini adalah awal rencana jahat Citra pada Novi, masih sama dengan kejadian waktu itu ia ingin semua tersusun dengan rapi tanpa sepengetahuan orang rumah satu pun.
"Duh ... aku bakalan jadi tante dong ya. Selamat ya kak, rumah ini bakalan sesak dengan tawa mereka." nadanya yang sedikit sumbang saat berpura-pura dihadapan semua orang.
"Makasih ya Cit." sambut Novi dengan tulus tanpa menaruh rasa curiga pada adik iparnya tersebut.
Dih, nggak perlu makasih segala sama aku. Ini akan menjadi sebuah awal yang buruk bagi kamu kedepannya nanti. Selamat datang dirumah yang terasa seperti dineraka ini." gumam Citra.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
__ADS_1
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️