
"Jadi benar ini Rere yang dulu ya!" tegas Surya sambil mengernyitkan alis sebelahnya.
"Tentu saja ini aku," sambut Rere bahagia.
"Tapi dia dulu sangat pendiam, berbeda dengan yang sekarang" pungkas Surya.
"Semua orang berhak berubah bukan, jika perubahan itu masih dalam kategori baik apa salahnya Aya" jelasnya sambil menatap Surya.
Surya memang tidak bisa menutupi raut wajahnya yang masih sangat enggan untuk berjumpa dengan dirinya disana, hingga semua jawaban yang terucap dari mulutnya terasa hambar.
Renata yang mengetahui itu sejak awal, lalu memutuskan untuk mengajak dirinya membahas ke topik yang sesungguhnya saat itu.
"Jadi, pertemuan kita kali ini mau bahas tentang perjodohan itu yah?!" tanya Renata asal.
"Kamu?!, tentunya bukan aku." timpal Surya malas dengan memainkan cangkir kopinya.
"Jelas kita berdua yang akan bahas dong!, tidak ada orang lagi selain kita" sahut Renata menggodanya.
Kali ini Surya hanya mengangkat sedikit kepalanya untuk menatap Rere dengan tatapan ketus.
"Oke, oke. Kita berdua berhak bahagia dengan pilihan kita sendiri, aku juga bukan tipikal wanita jaman Siti Nurbaya juga. Aku sangat menentang dengan kata perjodohan!" Renata memberikan jawaban yang sangat melegakan hati Surya.
"Syukurlah, jadi aku tidak perlu lagi susah payah kabur dari rumah"
"Hm, tapi selama perjodohan itu dengan kamu. Pasti aku akan setuju sih!" goda Renata kembali sambil menyangga dagunya dengan tersenyum manis.
"Ck" bibirnya berdecak disana dengan mata sinis.
"Ayolah!, jangan seperti anak kecil. Aku hanya bercanda saja kali ini. Hahah" Renata tertawa sangat puas.
Keduanya sudah sangat lama menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol disana, sampai pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memesan sebuah makanan.
Dimeja tersebut telah tersaji makanan yang telah mereka ia pesan, Surya yang memutuskan memesan sepiring nasi goreng mengundang celoteh Renata kembali disana.
"Aduh!, susah move on emang ini anak. Dari jaman dahulu sampai sekarang favoritnya tidak pernah berubah. Itu lagi dan lagi, payah ih" serunya dengan nada bawel.
"Jangan remehkan lelaki sepertiku, ini tandanya aku lelaki yang setia bukan. Jika dengan makanan saja aku bisa jatuh hati sampai sekarang, bagaimana dengan perasaanku ke wanita" tutur Surya.
Dengan segera Renata memberhentikan aktifitas mengunyahnya disana. Ia sadar bahwa yang dikatakan Surya barusan adalah sebuah sindiran baginya.
"Uhukk!" Renata mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Tetap saja dengan wajah datarnya Surya hanya sibuk memakan nasi goreng miliknya.
"Payah ih, ada wanita yang hampir saja mati keselek dia cuek aja disitu. Oia, bagaimana dengan kabar mantan istri kamu?. Kalian baik?"
Kali ini, tampaknya Surya lebih tertarik dengan topik Renata.
"Kami, tentu baik-baik saja!" tuturnya.
Pasti dia sengaja menutupinya dariku, berdasarkan cerita Tante Sinta keduanya berpisah dengan cara yang buruk. Dia telah diselingkuhi oleh Novi bukan?. tapi kamu memang lelaki yang baik. Tidak ingin mengumbar aib mantan istrimu dihadapanku secara gamblang. batin Renata.
"Wah, kalian memang hebat!. Saat pasangan lain memutuskan untuk berpisah karena telah berkhianat dibelakang pasangannya lebih memilih saling berjauhan. Kalian masih tetap menjaga komunikasi itu dengan baik!" celoteh Renata.
Dirinya memang sengaja ingin mengulik lebih dalam lagi tentang sejauh mana hubungan Surya dengan Novi saat ini. Karena baginya, sangat penting menolak perjodohan ini jika memang tidak ada cinta disalah satu pihak. Tentu semua itu akan membuat hatinya hancur.
"Selingkuh?, apa yang kamu maksud Novi?. Apa saja yang telah diceritakan oleh mama kepada dirimu!" Surya terlihat kesal.
"Hah, Tante Sinta?. Hmm cuma ceritain apa yang sebenarnya terjadi aja antara kalian. jawab enteng Renata.
Surya sudah menduga jika mamanya akan berbuat tidak adil kepada sang mantan istri, pasti dia akan direndahkan dengan cerita karangan mamanya sendiri.
"Maaf ya, aku pulang dulu. Mungkin lain waktu kita bisa ketemu lagi" tutup Surya dan memilih berlalu dari hadapan Renata.
"Huft!" Renata menarik nafas panjang sambil melihat kepergiannya kali ini.
*
*
*
Ditempat yang berbeda, Juna bersama dengan Pricil tengah melakukan sebuah serangkaian nikah sah disebuah masjid kecil. Keduanya yang sudah mantap memutuskan untuk segera menikah meskipun tanpa kehadiran ke dua orang tua dari 2 belah pihak disana.
"Sah"
"Sah"
"Saah"
Suara orang saling bersautan disana menyaksikan pernikahan keduanya. Kini mereka pun telah resmi menyandang status baru sebagai seorang suami dan istri.
"Terimakasih kamu masih mau menerimaku dengan segala keterbatasanku saat ini" ucap Juna sambil mengecup kening Pricilia dengan hangat.
__ADS_1
"Sama-sama pak ..." ucapan Pricilia pun dihentikan oleh Juna seketika.
"Panggil saya mas, ataupun yang lainnya. Jangan panggil saya pak lagi sayang" tuturnya.
Panggilan sayang yang dilayangkan oleh Juna kali ini sangat membuat hati Pricilia terenyuh, ini adalah kali pertama panggilan itu menggema begitu syahdu ditelinganya. Tak terasa gadis itu pun menitihkan air matanya dihadapan mantan bos nya itu, yang kini telah resmi menjadi suaminya.
"Iya mas" ucap Pricilia malu-malu.
Setelah keduanya mendapatkan buku nikah dari penghulu. Mereka lalu bergegas mencari sebuah rumah untuk tempat tinggal, karena memang Juna tidak memiliki sepeser uang sedikitpun ia hanya bisa mengandalkan tabungan milik Pricilia. Untung saja, istri yang baru ia nikahi itu mempunyai cukup tabungan untuk keduanya hingga beberapa bulan kedepan lamanya.
"Alhamdulillah, kita dapat rumah juga ya mas!" serunya bahagia.
"Ini semua berkat kamu, makasih ya sayang. Papa janji kita akan lebih baik lagi kedepannya nanti yah" janji Juna sambil mengelus perut istrinya.
🖤
Sangat berbeda dan berbanding terbalik dengan kehidupan Citra di sel, dia begitu menderita dengan semua ini disana. Hari demi hari ia habiskan hanya untuk melamun tanpa seorang teman disampingnya. Ia yang divonis dokter terkena gangguan jiwa, hanya bisa menatap ruangan sambil tangan terikat.
Beberapa teman sekamarnya pun terlihat hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka semua tampak berbicara dengan seenaknya, dan tak jelas kemana arah pembicaraannya.
Ada pula yang menari kegirangan di atas tempat tidur sambil loncat-loncat, dan juga menangis pilu hingga meraung-raung menyebutkan sebuah nama di sudut ruangan.
Tapi mereka hanya sekedar sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa menggangu teman sekamarnya. Lain dengan Citra, yang kali ini harus di ikat karena ulahnya yang belum bisa stabil. Dan selalu melakukan kekerasan jika tidak diawasi dengan baik.
Karena ulahnya, dokter beserta penjaga rutan disana memutuskan untuk mengambil tindakan dengan mengikat tangan beserta kaki Citra dengan kuat. Hingga dirinya tak mampu untuk memberontak lagi disana. Dan melayangkan ancaman bagi teman sekamarnya.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
__ADS_1
*
...💐Abis baca komen dong💐...