Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Aku gagal


__ADS_3

"Maafkan aku!" rintih Juna.


Sementara Pricilla yang tengah berada tepat dibelakang dirinya, terlihat maju mendekat untuk mengusap punggung Juna.


"Mas, kamu sudah memberikan yang terbaik untuk bu Citra. Mungkin memang ini jalan yang harus dilewati terlebih dahulu olehnya" ujar Pricil.


Lelaki bertubuh gempal itu pun hanya mengangguk tanpa bersuara lagi. Keduanya pun lantas pergi meninggalkan tempat itu.


"Tunggu!" pekik Surya yang tengah mendekat kepada mereka berdua.


Keduanya secara bersamaan menoleh dan menatap Surya di sana.


"Iya mas?" sahut Juna.


"Apa yang kamu lakukan didalam tadi?, apa kamu gila!. Sudah membela wanita sakit macam Citra!" umpat Juna.


"Aku hanya memberikan keterangan yang sebenarnya mas, lagi pula dengan semua kebenaran yang aku ucapkan tidak dapat menghapuskan semua kesalahan yang sudah ia perbuat bukan?" jelas Juna dengan sedikit mengangkat satu alisnya.


"Terus apa ini semua?, kamu berjalan dengan Pricillia disini. Ada apa diantara kalian?, lalu kamu Cil ... kamu ham ..." perkataan dirinya lalu di cela oleh Juna .


"Yah, dia hamil anakku mas!. Dan dia sekarang telah menjadi istriku!" tegas Juna sambil terus menggandeng tangannya.


"Apa!!, kamu benar-benar gila. Apa kamu sadar dengan semua kelakuan kamu ini hah!!" maki Surya bertubi-tubi.


"Justru aku lebih sadar dibandingkan dirimu mas, kamu seperti boneka mama yang kapan pun dapat dikendalikan sesuka hatinya!"


"Kurang ajar, bagh ... bugh!!" Surya yang tak terima dengan ucapan Juna, tak segan untuk menghantam wajah adiknya.


"Sudah pak, saya mohon hentikan" jerit Pricilia panik sambil membangunkan tubuh Juna kembali.


"Diam kamu!, jangan pernah ikut campur lagi masalah kami !" seru Surya sambil menunjuk wajah Pricillia.


Setelah puas memberikan Juna pelajaran, Surya lantas pergi menemui mamanya dalam mobil kali ini. Dengan deru nafas yang tidak teratur, ia berjalan menuju mobil dengan cepat.


"Kemana saja kamu, mama sudah menunggu cukup lama disini !" omel mama.


"Ma!, hentikan semua sandiwara mama ini." jelasnya sambil mencengkram erat kemudi mobilnya.


"Apa yang tengah kamu bicarakan!, mama sungguh tidak mengerti" sangkal mama Sinta.


"Cukup ma!" teriak Surya.


Ini adalah kali pertama di kehidupannya untuk berkata kasar dan bernada tinggi pada mamanya sendiri.


"Mama sudah cukup sembunyikan semua kehancuran keluarga ini dari aku. Selama ini, Surya rela ma mengorbankan apapun milik Surya terlebih perasaanku sendiri. Tapi coba lihat apa yang telah mama perbuat terhadap Juna di sana, kali ini dia pergi dari kita kan ma!. Dan kemarin, mama masih bisa menutupinya dengan rapat!" Surya meluapkan segala unek-uneknya.


Flashback Surya .

__ADS_1


"Sepi sekali ma, Juna kemana?"


"Adikmu sedang pergi ke rumah temannya"


"ooh, tapi dia kan masih belum sembuh betul"


"Biarkan saja dia sesuka hatinya"


Keduanya tampak diam tanpa menyahuti satu dengan lain, sampai pada akhirnya Surya kembali mengungkit luka hatinya .


"Dan satu lagi ma!, untuk saat ini dan seterusnya jangan pernah lagi mengatur hidup Surya. Apa yang baik tentang diriku, hanya aku sendiri yang lebih mengetahuinya" pungkas Surya.


Mama Sinta hanya terlihat diam sambil memeluk tas mewah miliknya. Kali ini ia lebih memilih diam, dari pada harus melawan semua perkataan Surya yang telah menyudutkan dirinya saat ini.


Dia tidak ingin, jika Surya sampai berperilaku seperti Juna yang lebih mementingkan wanita lain selain dirinya sebagai ibunya.


Dengan perasaan yang masih sama, Surya lalu memutuskan untuk mengajak mamanya untuk segera pulang, sepanjang perjalanan pun tak ada percakapan yang berarti diantara keduanya.


"Ma, silahkan turun dulu !" ucap Surya, yang tengah membukakan pintu untuk mama Sinta.


Meskipun hatinya terasa kesal dan perih, ia tetap memperlakukan mamanya dengan baik. Lain dengan Juna, yang sangat mudah meledak-ledak emosinya jika dirinya sedang tersudut dengan semua keinginannya.


Mama Sinta hanya menyaksikan kepergian anaknya itu dengan diam, dan Surya memacu mobilnya secepat kilat.


"Apa yang harus aku lakukan kali ini untukmu sayang, aku telah salah menilaimu. Dan aku telah mudah untuk menilai dirimu buruk. Bahkan sekarang, rasanya aku tak pantas mendekat kepadamu ataupun menatap dirimu lagi" rintih Surya.


*


*


*


Sikap yang berbeda justru diperlihatkan oleh Renata kali ini, diam-diam dirinya telah mencari keberadaan Novi mantan istri Surya kepada si mbok dirumah.


Renata yang sengaja datang ke sana pagi-pagi, hanya demi mendapatkan informasi tentang Novi. Setelah alamat Novi ia dapatkan, dirinya pun dengan penuh ketelitian menyusuri setiap daerah yang telah dituliskan si mbok dalam secarik kertas itu.


"Nah, ini dia. Aku yakin pasti ini rumahnya" ujar Renata.


Tok ... Tok ...


Dirinya mengetuk pintu rumah itu dengan perlahan dan masih terus menunggu hingga pintu itu terbuka. Tapi, tetap saja rumah itu terlihat senyap dan tidak terlihat satu orang pun.


Renata yang hampir putus asa, lantas ingin pergi meninggalkan rumah Novi. Sampai pada akhirnya, ketika ia membalikkan punggungnya di sana ia menjumpai Novi tengah berjalan dengan seorang anak kecil dan menenteng sebuah keranjang berukuran sedang ditangannya.


"Maaf, apa ibu Cici ?" tanya Novi santun.


"Saya?" sahut Renata kebingungan.

__ADS_1


Hari ini, Novi memang telah menunggu kedatangan customernya yang telah menghubungi dirinya untuk memesan kue kering buatannya.


"Maaf mbak, saya Renata . Perkenalkan" seru Renata sembari mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.


"Novi" timpalnya.


Keduanya masih saling menatap kebingungan di sana, 2 wanita ini terlihat sangat anggun dan cantik dengan pakaian yang tengah mereka kenakan masing-masing.


Pantas saja dirimu tak semudah itu untuk melupakan dirinya, lihat saja dia begitu kuat menjalani harinya. Dan dia sangat terlihat cantik di luar maupun hatinya. gumam Renata yang kali ini tengah mengagumi sosok Novi.


"Maaf, ada perlu apa ya kedatangan anda kemari?" tanya Novi.


"Saya teman mantan suami anda" tegas Renata sembari tersenyum manis kearah Novi kali ini.


"Jadi, anda sengaja dikirim kesini untuk memata-matai saya?!"


"Bukan, bukan seperti itu. tolong jangan berburuk sangka dulu dengan saya!" ujar Renata sambil mengangkat kedua tangannya.


Novi terdiam dengan sangkalan Renata kali ini, jika memang wanita itu tidak dikirim untuk memata-matai dirjnya lantas untuk apa dia datang kemari.


"Bolehkah saya berbicara empat mata dengan anda?" tanya Renata sangat berhati-hati kali ini.


"Tentu" sahut Novi datar.


Novi lalu mempersilahkan wanita itu untuk masuk kedalam rumah untuk mengobrol dengan dirinya.


"Ada maksud kedatangan anda kemari?" tanya Novi sekali lagi dengan menghela nafas yang cukup panjang.


Renata yang mengetahui gesture tubuh Novi sedang tidak nyaman dengan kehadiran dirinya, lantas memutuskan untuk segera menuju topik sebenarnya.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*


*

__ADS_1


...💐Abis baca komen dong💐...


__ADS_2