Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Sadar


__ADS_3

Sambil berjalan menuju kedalam rumah, Novi segera mengambil ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Juna. Tapi sayang, kali ini ponsel Juna sangat sulit untuk dihubungi.


"Horeee, dapat kiriman lagi ya ma. Ini semua dari om Juna ma?." sambut Malika penuh bahagia, Novi hanya mengangguk pelan.


"Terus papa kapan dong ma,kirimin kita begini. Papa juga uda lamaaa banget nggak kesini ma" tutur katanya mulai lemah dan mengiba dihadapan Novi.


Sambil menarik nafas dalam-dalam, dengan lembut Novi memberikan sebuah penjelasan yang mudah diterima oleh Malika.


"Papa kan lagi sibuk cari uang sayang, buat siapa coba?. Buat Malika kan, iya kan. Nanti kalau papa sudah nggak sibuk pasti datang kemari buat ketemu Malika."


Novi terpaksa terus membohongi Malika, ia tak ingin jika wajah polosnya itu harus tersirat kesedihan mendalam untuk menahan rindu pada papanya.


🖤


Pukul 3 sore saat itu, Juna yang tengah kembali sadar dari komanya berusaha memulihkan keadaanya. Matanya terlihat mencari-cari seseorang disana, tapi tak ia temukan. Suara seorang perempuan yang menuntunnya ke sebuah cahaya kecil dan terang telah menuntunnya kembali sadar.


"Ma, mana ..." suaranya terpotong oleh ucapan mama Sinta.


"Citra!" sebutnya kesal.


Juna lantas teringat dengan istrinya tersebut, dia sangat khawatir dengan keadaan wanita itu setelah kejadian yang menimpa dirinya.


"Dimana dia ma, bagaimana kondisinya sekarang?".


"Di penjara" sahut mama Sinta tegas.


Ia terkejut ketika mendengar penjelasan mama Sinta yang sangat gamblang.


"Kenapa dia dipenjara ma!" Juna terlihat protes kepada mamanya.


"Jelas dia harus dipenjara!, kan dia uda bikin kamu kayak begini ini kan?" tunjuk mama kepada Juna.


Dengan perlahan, Juna mencoba mengingat semua peristiwa nahas kala itu. Setiap memori dan bayangan peristiwa itu kembali berputar di dalam otaknya dengan perlahan dan pasti.


"Bukan ma, semua ini salah paham. Juna kesana justru ingin menyelamatkan nyawa Citra, dia ingin bunuh diri ma!" ujar Juna meyakinkan mama Sinta.


"Mama bilang cukup Juna!. Mama tidak ingin ada perdebatan lagi diantara kita. Apa yang sudah mama putuskan ini, sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat."


Mendengar penjelasan mama Sinta, ia terpaksa lebih memilih untuk mengalah saat ini. Dengan keadaan yang tidak memungkinkan seperti ini, bagaimana ia bisa untuk menghampiri Citra didalam penjara. Juna hanya bisa menunggu sampai keadaannya pulih kembali.

__ADS_1


Sementara didalam sel yang begitu kumuh, Citra yang sudah 3 hari lamanya mendekam disana sudah tidak tahan lagi melihat keadaan dirinya.


"Demi apa, aku kali ini harus mendekam disini bersama dengan mereka!" gerutu Citra.


Sedangkan ke tiga teman satu selnya itu tengah tertidur pulas di atas sebuah tikar tipis dan terbujur dengan bersamaan disana.


Teng ... teng ... teng ...


Kali ini sebuah polisi jaga tengah membangunkan semua penghuni sel untuk segera makan, dan terlihat beberapa petugas membagikan makanan yang telah disiapkan di box khusus untuk mereka.


"Ayo makan!" tegas seorang petugas sambil setengah melempar box makan tersebut.


Citra yang tak terima dengan perlakuan petugas tersebut dengan cepat ia mengolok kembali petugas itu dengan nada memaki.


"Yang sopan dong!, bisa nggak baik-baik ngasihkan makanan menjijikan ini !!!" teriaknya dalam sel.


Tapi penjaga itu tak menggubris kemarahannya kali ini, dan terus berjalan untuk membagikan makanan.


"Hahahaha" kelakuan Citra kali ini mengundang tawa teman satu selnya.


"Ada yang lucu!, ada apa kalian ketawa!"


"Ssst, stop semua. Jangan ada yang berani ketawa lagi untuk nyonya satu ini !" ujar Wati kepada teman-temannya yang lain.


Citra semakin kesal kali ini, sepanjang hidupnya tidak ada seorangpun yang berani mempermainkan dirinya seperti ini. Jangankan di hina ataupun di olok, dulu dirinya sangat disanjung keberadaannya.


"Aku bilang hentikan!, kalau enggak ..." sahut Citra yang tengah memegang sebuah garpu ditangannya sambil menunjuk ke arah mereka semua dengan wajah devilnya.


"Apa hah, apa ...!!!. Sini kalau berani." tantang seorang teman sel lainnya, seolah siap menyambut gertakan Citra ia juga menatap sinis wajah cantik Citra.


"Brengsek!, jangan berani-berani sama aku!"


Dengan yakin dan sedikit gemetar, Citra pun melangkahkan kakinya ke depan wanita itu. Sementara tanganya masih saja memegang sebuah garpu, yang kali ini sengaja ia bawa untuk menjadi tameng untuknya.


"Aaaaakh, aaaakkkkh" suara mereka saling bersautan didalam sel saat tengah terjadi keributan.


Klonthaaang ...


Nasi jatah makan Citra pun ikut menjadi sasaran amukan temanya itu, wajahnya yang terluka akibat goresan garpu milik Citra terasa perih karena mengeluarkan darah. Ia yang kerap kali disebut Sely oleh teman satu selnya itu, mengamuk dan memukul kepala Citra dengan box nasi tersebut.

__ADS_1


Kali ini tanpa ampun, berulang kali ia menikam keras wajah perempuan angkuh tersebut. Meskipun Citra merintih kesakitan akibat ulahnya, ia terus melanjutkan pukulannya hingga bertubi-tubi menggasak Citra.


"Sel, hentikan! hentikan aku bilang!!!" tarik Wati yang berusaha menarik tubuh Sely yang sangat bringas disana.


Uhuukk


Citra terlihat sangat payah kali ini, dia yang terlihat begitu berani menantang Sely di awal kini hanya meringkuk kesakitan. Belum juga sembuh luka pada badanya kemarin lusa, kini harus ditambah lagi dengan luka dan beberapa lebam diseluruh wajahnya.


"Kau!, tunggu pembalasanku nanti !!" suara Citra yang kembali menantang Sely ditengah rintihan kesakitannya.


Saly yang kembali terpancing dengan ucapan Citra disana, kembali dihentikan lagi langkah kakinya oleh teman-temannya.


"Dasar wanita bedebah!, cih!!!" si tubuh yang sangat gempal diantara mereka bertiga maju kehadapan wajah Citra. Ia pun meludahi wajah Citra disana.


"Sialan!!!" maki Citra sambil mengusap wajahnya yang terlihat sedikit basah akibat ludah Grista.


Kali ini ia adalah seorang napi wanita yang harus rela terjerat kasus hukum karena ulah suaminya. Dirinya yang selalu disia-siakan oleh suaminya sepanjang hidupnya, tega menghabisi nyawa lelaki tersebut dengan ganas. Namanya adalah Grista, ia rela membakar hidup-hidup suaminya demi melampiaskan segala dendam dihatinya.


"Jangan pernah bermain api denganku wanita jalan*!" gertak Grista lebih agresif lagi karena menyebut Citra dengan panggilan jalan*.


Citra yang terkapar dilantai, masih terlihat mengumpulkan segenap tenaganya. Kali ini ia terlihat begitu lemas dan tak berdaya untuk membalaskan setiap amarahnya pada mereka. Dirinya yang sadar betul dengan keadaan dirinya, hanya bisa terus meringis kesakitan.


Wajahnya yang terlihat cantik dan putih, kali ini dipenuhi dengan sejumlah luka lebam dan darah dibeberapa titik wajahnya. Rambutnya yang terbiasa wangi dengan parfum shampoo dan perawatan setiap bulannya, kini harus rela terlihat kusut tak terawat. Hanya sebuah pita hitam kecil, yang terlihat mengikat rambut miliknya itu.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*

__ADS_1


*


...💐Abis baca komen dong💐...


__ADS_2