
"Apa ini dok!, kenapa bisa begitu!. Dia tadi sudah berbicara cukup lama dengan kami disana!. ujar Surya tak percaya.
"Anda pasti salah mendiagnosa putriku, cepat kembalilah dan lakukan lagi. Tidak ...!" protesnya berkelanjutan.
Dokter hanya terdiam lemas mentap mereka dengan pandangan sendu.
"Tidak sayang, tidak ... jangan tinggalkan mama sendiri kali ini !" tangis Novi .
"Malika ...!" pekik Novi lirih.
Tubuhnya lemah terkulai dan bersandar di dinding rumah sakit. Hal yang serupa juga diperlihatkan oleh Surya, dia meratapi kepergian Malika dengan duka yang mendalam.
*
*
*
Kali ini, mereka pun menghantarkan putri kecilnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Masih dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti, Novi terus mengusap nisan putih yang bertuliskan nama putrinya disana.
Seakan, masih tak percaya dengan kenyataan pahit ini dirinya masih belum percaya bahwa Malika akan tidur selamanya.
"Yang kuat ya mbak!" ucap Pricillia yang tengah mendampingi Novi.
Baik Juna ataupun Novi, keduanya terlihat datang ke pemakaman Malika hari itu.
"Mas!" sapa Juna.
"Ada apa!"
Surya yang tengah berdiri dibawah pohon dan memakai kemeja hitam serta kacamata hitam miliknya tengah terpaku memandangi Novi dari kejauhan.
"Kembalilah dengan mbak Novi !" seru Juna .
"Punya hak apa kau mengatur hidupku!, lihat dirimu rumah tanggamu saja kau biarkan berantakan begitu saja saat ini." umpat Surya .
"Tidak mas, semua ini terjadi diluar kendaliku !.
"Jadi kau ingin menyalahkan mama lagi kali ini !" dengan nada tegas, Surya menatap sinis wajah Juna.
Juna hanya menghela nafas panjang tanpa bersuara.
"Urus saja dirimu, jangan pernah perdulikan kami lagi saat ini !" ucap Surya sambil membuka kacamata miliknya dan meninggalkan mereka semua dipemakaman.
Lima menit setelah kepergian Surya, kali ini terlihat mobil Renata tengah berhenti diparkiran yang tak jauh dari makam. Ia kemari karena mendapatkan perintah oleh mama Sinta, untuk menjemput Surya dan membawanya segera kembali.
Dengan mengenakan kacamata coklat dan pashmina panjang bewarna hitam, dirinya begitu terlihat anggun disana.
"Mbak, saya turut berduka cita ya"
Renata menyampaikan rasa belasungkawanya dengan meletakkan sebuah bucket bunga mawar putih yang cukup besar diatas pusara Malika.
"Terimakasih" sahut Novi lirih sambil menahan isak.
"Kak Re!, kak Renata bukan?!" tegas Juna.
Dia yang mengenali wajah Renata dari balik kerudungnya itu, segera menghampiri perempuan tersebut.
__ADS_1
"Eh, ya ampun kamu. Sudah sebesar ini, tapi ... kamu?!"
Mata Renata tengah berputar mencari sosok Citra disana, tapi ia tak dapat menemukan istri dari calon adik iparnya itu .
"Perkenalkan dia istriku" timpal Juna dengan merengkuh tubuh Pricillia.
Dahinya berkerut tipis, sambil mengangkat dua jarinya ke hadapan Juna .
"Hm"
"Bukan mbak, hanya satu. Sejak Citra ditahan, kami sudah resmi bercerai." jawab Juna sopan.
"Hah!, apa ini. Citra ditahan dalam penjara dan dia lebih memilih dengan wanita lain, dan wanita ini hamil juga!." gumam Renata yang tengah terpaku dengan perut buncit Pricillia.
"Ehm, ok. Kenalkan saya Renata." sahut Renata tenang.
Cukup lama Novi terdiam dimakam putrinya saat itu, hingga ia tersadar masih harus ada tamu yang harus dirinya sambut dan diajak untuk ke rumahnya.
Jarak makam Malika dengan rumah Novi hanya memakan waktu belasan menit saja untuk sampai dikediamannya.
"Maaf ya, seadanya saja" ujar Novi membawa nampan berisikan teh hangat untuk mereka semua.
Mereka bertiga hanya mengangguk sambil menyeruput teh hangat tersebut.
"Anda datang kemari tahu dari siapa jika putri saya meninggal?"
"Uhukkk .."
"Tadi Tante Sinta meminta saya untuk datang kemari juga!" ucap Renata kikuk dengan gesture tubuh sangat tegang.
Flashback Renata.
Sebuah isi pesan singkat mama Sinta kepada Renata.
"Oh" sahut Novi datar.
Sementara Renata yang masih saja tegang, dengan memegang gelas miliknya ia meniup lirih air tersebut dengan pelan dan menatap keadaan sekitar.
"Kamu sudah berapa bulan usia kandungannya?" tanya Renata mencoba mengalihkan topik.
"Sudah 5 bulan mbak" sahut Pricilia dengan tenang.
"Wah, selamat ya sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua baru" seru Renata.
Dirinya harus melakukan situasi seperti ini meskipun hatinya sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada dihadapannya.
Sebagai seorang wanita yang wajar, ia pasti juga memahami perasaan Citra yang sangat menyakitkan kelak jika dirinya terbebas dari penjara. dan harus menjumpai ketidakadilan ini bagi dirinya.
"Mbak, apa kamu tidak kembali saja dengan mas Surya !" pinta Juna .
"Uhuuk, brush!" Renata terkejut .
Ia pun harus tersedak begitu dalam, akibat perkataan Juna disana.
"Tidak!" lirik Novi ke arah Renata .
"Kenapa mbak!"
__ADS_1
"Kakak kamu sudah memiliki calon istri baru baginya!"
Juna masih tampak heran dan kebingungan disana.
"Yah dia ..."
"Dia adalah calon kakak ipar kalian yang baru nantinya !" tunjuk Novi ke arah Renata dengan senyuman.
Tapi Renata justru berekspresi tegang ketika keduanya menatap lekat dirinya.
"Apa!, tidak mungkin. Aku begitu mengenal mas Surya mbak, dia tidak mungkin semudah itu berpindah hati" protes Juna.
"Tuhan bisa membolak-balikkan hatinya!"
"Tapi mbak ..." Juna masih saja mencoba berdebat
"Sudah hentikan, kamu hargai perasaan Renata disini !" pinta Novi .
Dia ingin Juna tidak memaksakan lagi kehendaknya itu dihadapan Renata.
"Santai saja mbak, saya nggak papa kok!" tegas Renata dengan tersenyum pucat.
"Saya sudah katakan dengan jelas ke anda bahwa tidak akan ada penyatuan lagi diantara kami kan?" tutur Novi mencoba mengingatkan kembali Renata.
"Yah, saya paham itu"
*
*
*
Sementara ditempat berbeda, Surya tengah terlihat berdebat sengit dengan mama Sinta dirumah.
"Mama bilang hentikan permintaan konyolmu itu!"
"Tidak ma, kali ini mama tidak akan pernah bisa memaksakan lagi kebendaku!" serunya tegas.
"Omong kosong apa ini, apa hatimu telah berubah semenjak bertemu dengannya lagi?!"
"Apa yang akan mama katakan pada Roy nanti !"
Roh adalah panggilan akrab dari orang tua Surya untuk papa Renata. Keduanya juga seorang sahabat lama dan tengah menjalin hubungan bisnis semenjak puluhan tahun.
Tanpa sepengetahuan Surya, mama Sinta rupanya sudah menyusun rapi dengan Roy untuk menggelar pertunangan kedua anak mereka. Mama Sinta yang mengira semua akan berjalan lancar sesuai kehendaknya, kini harus terkejut ketika mendengar keputusan Surya yang sangat bertolak belakang.
"Terserah mama!, Surya hanya ingin mama tidak lagi mencampuri urusan pribadi Surya lagi"
"Ck, apa-apaan ini !" dengan kesal mama Sinta menghentakkan kakinya dengan menatap kepergian Surya dari hadapannya.
"Tidak ... tidak ... tidak!. kenapa Renata mengingkari janjinya untuk menolak perjodohan ini. Sampai dengan saat ini, kenapa mama terus merengek untuk membujukku!."
"Arrrfgh!"
Rintih Surya dalam kamar.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung ❤️
⚜️Hai, jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar yah. Kirim hadiah juga ke aku ya🤗😘🙏