Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Gelisah


__ADS_3

"Hallo pak, apa betul dengan bapak Juna?. Kamu dari rumah sakit keluarga bahagia ingin mengabarkan kepada bapak, bahwa salah satu keluarga bapak yang bernama ibu Pricilia tengah dirawat disini" suara salah satu seorang perawat.


Juna yang mendapati telepon dan mendengarkan kabar tersebut dengan sigap menyambar jaket hitam kulit miliknya. Dan segera menuju ke rumah sakit dimana Pricilia berada.


Ketika dirinya sampai disana, ia melihat salah seorang perawat tengah berlari membawa sebuah kantong yang berisi darah. Perawat itu terlihat panik.


"Maaf sus, saya mencari pasien yang bernama Pricilia." ucapnya.


"Oh, bapak keluarga dari ibu Pricil ya. Ini kami lagi tangani pak. Mohon ditunggu ya" jelas perawat bertubuh mungil itu.


Setelah setengah jam berlalu, Juna yang masih duduk disebuah bangku kursi panjang tengah diliputi perasaan cemas yang begitu hebat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Pricil hari ini, yang ia inginkan sekarang hanyalah keselamatan Pricilia.


Kedua tangannya mengepal dan sesekali di benturkan ke dahinya, tak selang berapa lama beberapa dokter keluar dari ruangan dan menghampiri Juna disana.


"Anda suaminya?" tanya dokter.


"Iya dok betul, bagaimana kondisi istri saya didalam" tanyanya begitu khawatir.


"Masih baik, dia di bawa kemari tepat waktu. Kalau tidak, kami semua tidak bisa lagi menolong nyawa keduanya." ujar dokter tersebut.


Juna yang mendapati penjelasan dokter, seketika terdiam dan tengah berpikir keras. Sebenarnya apa yang sudah menimpa Pricilia hari ini, karena saat keduanya berpisah Pricil masih dalam keadaan baik-baik saja. Juna pun menghampiri gadis malang tersebut.


Ia masih terlihat tertidur diatas ranjang putih itu, diam dan tak bergerak sedikitpun.


"Hai sayang, ada apa dengan kamu?. Apa semua baik-baik saja, terimakasih karena kamu sudah menjadi wanita kuat untuknya." ucap Juna sambil mengusap lembut perut Pricil.


Betapa bersyukurnya Juna ketika ia melihat Pricilia dan calon anak mereka berdua lolos dari maut. Sepanjang malam dia menemani gadis itu disana, sambil memegang erat tangan Pricilia.


Saat menjelang pagi, tepat pada jam 3 pagi Pricilia mulai sadar dari tidurnya. Jari-jari lentiknya mulai merespon tangan Juna yang menggenggam erat disana, Dengan perlahan ia pun membuka kedua bola matanya dan melihat dengan benar siapa orang yang tengah menunggui dirinya itu.


Pak Juna, kamu disini. gumam Pricilia yang enggan membangunkan lelaki tersebut dari tidurnya.


Sampai seketika seorang perawat jaga pagi hari itu tengah masuk ke dalam ruangan Pricil dan mengecek keadaannya.

__ADS_1


"Selamat pagi, wah ibu sudah sadar. Gimana rasanya bu, apa sudah baikan?" sapa seorang perawat.


Suara perawat tersebut membangunkan Juna dalam tidurnya, ia yang baru saja terbangun segera mengusap ke dua matanya dan melihat ke arah Pricil yang sudah dalam posisi setengah terduduk dan melayangkan senyum manis pada dirinya.


"Kamu," ujar Juna yang seketika berhenti.


"Wah suami siaga ya memang harus begini bu, dari kemarin bapaknya dengan setia jagain ibu sepanjang hari loh" jelasnya.


Pricillia terlihat tersipu malu dengan perkataan perawat tersebut, meskipun keduanya tak memiliki ikatan pernikahan kali ini Pricilia sangat merasa beruntung karena Juna mau bersusah payang begadang demi dirinya disini.


Tak dipungkiri oleh dirinya, terkadang rasa ingin bersama Juna setiap saat sering melanda hatinya. Mungkin semua itu juga karena ikatan batin antara bapak dan anak ini begitu kuat.


"Yah sudah selesai, semua terlihat baik-baik saja bu. Saya salut dengan ibu Pricilia ini, mampu bertahan dan melewati masa kritis kemarin. Tak banyak ibu yang bisa berjuang untuk menolong dirinya sendiri ataupun calon anaknya dalam keadaan itu." tutur perawat itu tengah memuji Pricilia.


Sementara perawat tersebut meninggalkan ruangan Pricil, sekarang gantian Juna yang berjalan mendekat ke arah Pricilia. Dia menatap lekat mata wanita itu dan mengusap lembut rambut hitamnya.


"Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian?" tanya Juna dengan sorot mata sedih.


Belum sampai mulut Pricilia menjelaskan lebih detail lagi, Juna yang sudah tak tahan lagi mendengar nama itu segera membalikkan badanya dan ingin berjalan keluar.


"Tunggu pak, tolong biarkan saya jelaskan lebih detai lagi" pinta Pricilia mengiba.


Ia pun lantas berbalik ke arah Pricil dan mendengarkan lagi semua penjelasan wanita itu, saat Pricilia sudah menceritakan semua hal tentang Citra hari itu ia pun terlihat berpikir ulang tentang pertengkaran yang terjadi dengan Citra yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya.


"Apa benar, bapak dan bu Citra habis bertengkar hebat?," tanyanya.


"Yah," jawab Juna tegas.


"Apa semua karena saya pak?" timpal Pricilia.


"Bukan, semua itu terjadi karena akibat ulahnya sendiri. Kehadiran kamu ditengah-tengah perinikahan kami bukanlah sebuah kesalahan. Mungkin Tuhan memang sudah takdirkan seperti ini jalanya, kita berdua begitu sulit untuk menyatukan kepala kami saat pertengkaran itu datang melanda kami berdua. Akhirnya sebuah jarak pun harus memisahkan kami, tak ada yang mau mengalah saat kondisi itu terjadi. Kami berdua tetap memilih dalam keegoisan, dan tak mempedulikan lagi satu dengan yang lain. Cukup lama saya terdiam dengan semua ulah Citra, yah mungkin juga ini termasuk sebuah akhir batas sabar saya untuk dirinya. Dan pada akhirnya saya harus dipertemukan dengan kamu dengan cara yang salah. Maafkan saya, tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak hati saya melukai kamu ataupun menghancurkan masa depan kamu" tutur Juna menceritakan semua permasalahan pelik rumah tangganya bersama Citra.


Dia, sebenarnya juga tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Hanya saja, mungkin memang skenario jalan hidupnya dengan Bu Citra harus berakhir seperti ini. gumam Pricilia.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu?" Juna mengayun tanganya didepan wajah Pricilia.


"Ah, nggak papa kok pak. Saya juga minta maaf, karena kehadiran saya juga termasuk merusak rumah tangga kalian berdua." jelas Pricilia.


"Tentu tidak," pungkas Juna.


"Tapi, saya tetap pada pendirian saya pak. Saya tidak mau jika sampai orang memandang saya sebagai perebut suami orang, bahkan jika anak ini nantinya terlahir saya juga tidak akan tinggal diam dan membiarkan begitu saja stigma negatif orang menghampirinya" tegas Pricilia.


Pendapat ini memang sudah sering dilontarkan Pricilia berulang kali pada Juna, bahkan termasuk sudah sering kali ia mengingatkan pada Juna. Tapi Juna, dengan segala keyakinan dirinya masih tetap setia menunggu hingga semua pendirian Pricilia itu akan berubah.


"Yah, saya tidak akan pernah memaksakan hal itu pada kamu. Saya cuma berharap kedepannya yang terbaik untuk kalian berdua, dan saya berjanji tidak akan pernah meninggalkan kalian" tutur Juna.


Sementara Citra yang kembali ke penginapan, meluluh lantakkan semua benda yang berada di meja riasnya, ia yang dihantui rasa bersalah pada Pricilia sangat begitu terguncang batinya.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*


*


...💐Abis baca komen dong💐...

__ADS_1


__ADS_2