
Malam demi malam Citra lalui didalam sel yang dingin tanpa beralaskan kemewahan bagi tubuhnya.
Hingga pada esok harinya, ketika ia tengah menikmati sarapan paginya. Matanya sejenak tertuju pada Wili yang tengah berjalan dihadapannya dengan wajah sendu dan tertunduk.
"Hei !"
"Apa harimu menyenangkan Wil ?!"
Suara Citra meneriaki Wili jari balik jeruji dengan wajah mengesalkan.
Pria itu terus berjalan tanpa menghiraukan dirinya.
"Ingat baik-baik WILI !!"
"Setelah aku bebas, aku akan pastikan hidupmu lebih menderita dariku!" sumpah serapah Citra pada pemuda malang itu.
Ia yang telah puas memaki, kembali duduk dan mengangkat piring besi miliknya disana.
"Rumit sekali hidupmu!" ejek Grista dari sisi lain.
"Perduli apa kau dengan hidupku!" sahut Citra datar sambil terus memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Aku tidak perduli, aku hanya kasihan denganmu!"
"Ck!" mulutnya berdecak tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku tidak perlu belas kasihmu!" sahutnya malas.
"Suatu hari kau pasti butuh bantuanku untuk menghabisi lelaki tadi !" ujar Grista dengan seringai senyum licik diwajahnya .
Dirinya tampak berfikir dan menghentikan rahangnya dengan seketika.
"Boleh juga!, tawaranmu sangat bagus!" timpal Citra dengan senyuman sinis.
"Kita akan bebas bersama, masa kurungan kita disini tak jauh berbeda bukan?!"
"Hm, yah!"
"Tapi aku akan lebih dulu bebas dari pada dirimu!" jelas Citra dengan mengangkat alisnya.
Wanita ini selalu berharap sepanjang waktu, jika Juna akan menghapuskan hukuman ini secepatnya.
*
*
*
Ditempat yang berbeda, Juna justru terlihat begitu panik mendampingi istrinya Pricilia yang telah mengalami pendarahan hebat di usia kehamilannya yang sudah tua.
"Tolong m-mass ... sakit!!"
perempuan itu sudah merintih sepanjang waktu disana.
"Tahan sebentar yah, tidak lama lagi taxi itu akan segera datang!" tegas Juna sambil memeriksa keadaan sekitar.
Sekian lama menahan kesakitan, akhirnya Pricilia dapat dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil tumpangan milik tetangga baru mereka disana.
Ke dua pasangan itu memberikan tumpangan secara cuma-cuma kepada mereka berdua, karena sangat mengasihani Pricilia yang sedari tadi merintih kesakitan. Mereka berempat pun tiba di rumah sakit dan segera melarikan Pricilia ke ruangan IGD .
__ADS_1
"Terimakasih banyak, mas mbak!" seru Juna kepada kedua pasangan yang telah menolongnya.
Tanpa banyak berkata, kedua pasangan itu lalu meninggalkan Juna disana.
Hatinya begitu bergetar ketika didalam ruangan sudah terdengar jelas suara tangisan seorang bayi disana.
"Bapak Juna, bisa minta tolong kedalam untuk menemani istrinya!" ucap seorang suster.
"Baik sus!"
Juna yang begitu siaga, dengan cepat mengiyakan permintaan seorang suster yang menghampiri dirinya.
"Mas, aku sudah nggak kuat !" suara Pricilia.
"Tidak, jangan katakan itu. Lihat dia disana, dia terlahir sehat bukan?!" ucapnya.
"Ibu Pricilia sudah kehilangan banyak darah selama proses persalinan pak, kami akan usahakan yang terbaik" jelas dokter yang telah membantu proses persalinan.
"Kerahkan yang terbaik untuknya dok, saya mohon!" ujar Juna.
Tangannya terus menggenggam tangan Pricilia disana, sementara istrinya itu sudah dalam keadaan lemah dan perlahan menutup matanya akibat kehilangan darah begitu banyak.
"Pak, tolong potongkan tali pusat ini untuk anak bapak!" ucap seorang suster yang tengah membersihkan tubuh putranya.
Dengan tangan yang gemetar, dan yakin ia memotong itu dengan sempurna meski harus tertutup kedua matanya. Momen ini adalah, kali pertama bagi dirinya. Sementara di atas ranjang putih, Pricilia yang samar-samar mendengar pembicaraan mereka tengah menatap Juna dan anaknya dari kejauhan.
Tubuhnya yang lemah hanya bisa tersenyum kita dirinya mendapati putra kecilnya tengah digendong oleh papanya disana.
"Tugasku sudah selesai mas!" ucapnya lirih.
Bahkan ucapnya itu tak dapat terdengar oleh beberapa orang dokter yang tengah bekerja untuk menjahit bekas persalinannya itu.
*
*
*
Seperti biasanya, Novi hanya tersenyum manis menyambut ucapannya itu.
"Nanti makan siang bareng yah!" ajak Renata yang kali ini terlihat lebih akrab dari pada sebelumnya.
"Iya" ucap Novi singkat.
ini adalah hari kedua Novi untuk bekerja di perusahaan milik orang tua Renata, dirinya sangat nyaman dengan aktifitas barunya ini. Semenjak kepergian Malika, ia memang memilih untuk menyibukkan dirinya diluar dari pada harus berlama-lama didalam rumah.
Karena itu akan membuatnya sangat merindukan putrinya itu.
Setelah pukul 12 siang, sesuai janjinya Renata pun menjemput ia untuk mengajaknya makan siang ditempat favoritnya. Mereka berdua yang hendak masuk kedalam mobil, tiba-tiba terhenti dengan teriakan Sando yang memanggil adiknya Renata.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Makan kak, ngapain sih!"
"Boleh gabung?!" Sando terlihat menawarkan diri kepada dua wanita tersebut.
Tentu hal itu akan memancing sebuah tanda tanya pada sang adik, Renata yang tak pernah menjumpai kakaknya seperti ini lantas memberikan sebuah ejekan ketika mereka bertiga telah masuk kedalam mobil Sando .
"Tumben si ikut , biasanya aku tawarin nggak pernah mau!"
__ADS_1
"Diem ah!".
"Karena ada mbak Novi yah!"
"Bilangin papa loh, genit-genit begini!"
Bagi Novi, percakapan kedua kakak beradik ini hanyalah sebuah hal yang biasa terjadi di kehidupannya.
"Mbak Novi tau, dia itu paling anti dengan wanita. Apalagi kalau wanita itu ganjen, setengah mati pun kakak nggak akan perduli sedikitpun!" ujar Renata yang kali ini berceloteh.
"Re!!"
Novi hanya mengembangkan senyum tipis diwajahnya tanpa memberikan respon lebih banyak lagi. Ia tidak mengira, jika Renata akan sangat manja dengan kakaknya.
"Bagaimana Surya?," ucap Novi yang memecah kegaduhan diantara mereka.
"Baik!" sahut Renata dengan menghentikan aksinya meledek Sando.
"Anda mengenalnya?" tanya Sando penasaran.
Sempat bibir tipisnya terdiam beberapa saat ketika pertanyaan itu terlontar disana.
"Dia mantan istri Surya kak" ucap Renata dengan nada canggung dan terasa berat ditenggorokanya.
Sando membuka kedua matanya dengan lebar kearah adiknya seakan tak percaya jika lelaki itu memiliki mantan istri seperti Novi.
"Apakah dia waras!, sampai menceraikan anda seperti ini?!" timpalnya dengan kata-kata kasar.
Ia yang tak bisa lagi menahan kemarahannya jika mendengar nama Surya disebut, karena lelaki itupun telah membuat patah hati sang adik Renata.
"Dia sangat tidak pantas mendapatkan cinta seorang perempuan!"
tangannya mengencang pada kemudi mobilnya, dan raut wajahnya pun sudah terlihat seram disana.
Novi yang menyadari bahasa tubuh Sando, lebih memilih diam dari pada meneruskan pertanyaannya saat itu. Ia tak ingin suasana akan menjadi lebih runyam lagi, akibat mantan suaminya itu.
"Sudahlah kak!, lagi pula kita juga nggak akan pernah berurusan dengannya lagi !" ucap Renata.
Adiknya pun mencoba memberikan sebuah udara segar bagi dirinya yang akan kehilangan akal sehatnya jika tak dihentikan secepat mungkin.
"Yah!, aku sangat bersyukur atas hal itu!."
"Kamu pantas mendapatkan yang terbaik dan sekali dalam hidupmu!" ujar Sando .
Sementara Novi yang sejak tadi menyimak perkataan mereka berdua, telah bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada hubungan keduanya, hingga bisa membuat Sando semarah itu.
...----------------...
Bersambung ♥️
*
*
*
...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥️...
__ADS_1
Elin selama ini dituduh oleh Lucas anak dari pelakor. Lucas yang terbawa dendam meminta temannya Lexi menghancurkan masa depan gadis itu. Elin diculik dan dijadikan pelampiasan duniawi oleh Lexi , dengan tujuan menghancurkan masa depannya, sehingga gadis itu menginginkan kematian menjemputnya. Tujuannya tentu membuat Elin depresi, sama seperti ibunya. Lalu ayahnya menderita dengan melihat anak kesayangannya bernasib na'as.
Namun, siapa sangka Elin yang telah Lucas buat hidupnya hina, menderita dan bahkan mengalami cacat fisik, karena percobaan pembunuhan dari dirinya. Ternyata ia adalah sodara kembarnya. Bagaimana bisa Lucas tidak tahu bahwa Elin adalah saudara kembarnya? Adakah maaf dari Elin untuk Lucas yang sudah menghancurkan masa depannya? Ada rahasia apa sehingga Lucas bisa termakan fitnah yang mengerikan itu?