
Prak pyarrr ...
"Cukup sampai disni saja hubungan kita!" Citra berulah semakin ganas tanpa berpikir.
Dan terdengar suara pecahan kaca dari botol parfum miliknya dan beberapa skincare yang tengah disapu habis oleh ke dua tanganya dengan membabi buta.
Juna menunggu Citra sampai bisa mengendalikan sedikit saja amarahnya itu. Tanganya tampak terlihat dilipat ke duanya, sambil memasang wajah yang sedikit tegang menatap semua ulah Citra.
"Kenapa kamu diam!. Apa memang kamu lebih memilih rumah tangga kita hancur berantakan oleh wanita itu?" cecar Citra bertubi-tubi, sementara Juna yang sudah hafal betul sikap Citra hanya memilih diam dan bersabar untuk menahan amarahnya.
Kali ini dirinya menunggu Citra untuk terdiam sejenak baru ia akan mengungkapkan semua isi hatinya.
Tidak berapa lama kemudian, dirinya yang sudah lelah terduduk di ujung sofa rias miliknya. Tubuhnya seketika melemah, dan sikapnya mulai terhenti dengan teratur. Ia merasa kalah dengan kenyataan ini, semua begitu pelik dan membuatnya merasa lelah.
"Apa sudah cukup kemarahan kamu hari ini?" tanya Juna lirih mencoba untuk lebih dekat dengan Citra.
Dirinya yang begitu menyayangi istrinya tersebut, selalu memilih mengalah dalam setiap pertengkaran diantara mereka. Dan beberapa hari ini, hampir saja Juna kehilangan kendalinya dalam mengendalikan hawa nafsunya sendiri.
Citra yang mendengar perkataan Juna memalingkan wajahnya dengan segera.
"Baiklah, aku rasa kamu sudah mampu untuk berpikir dengan baik saat ini. Dengarkan aku sayang, aku begitu mencintaimu disetiap hariku. Apa kamu ingat setiap janji yang pernah terucap diantara kita, sebelum memutuskan untuk mengikat janji suci pernikahan." jelas Juna mencoba mengajak pikiran Citra jauh membayangkan masa itu.
Aku berjanji akan selalu setia mendampingi dirimu dalam keadaan suka dan duka. Dan diri ini akan selalu siap untuk menua bersamamu hingga akhir waktu. janji yang mereka ucapkan beberapa tahun lalu saat memadu kasih.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan semua masalah ini," dirinya mencoba mencari penjelasan dari Juna.
"Apa hubungannya, tentu semua masalah yang sedang kita hadapi ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Pernakah aku bertanya saat kamu meninggalkan rumah begitu saja, pernakah aku bertanya saat dirimu baru pulang menjelang malam, pernakah aku menanyakan dimana dirimu dan dengan siapa kamu sekarang. Aku lebih memilih diam, dan tak bertingkah seperti dirimu. Saat semua orang mulai meragu akan semua sikapmu, aku disini masih ditempat yang sama berharap kamu kembali berubah seperti sediakala meski tak pernah aku berucap untuk meminta. Apakah semua sikapku itu masih membuatmu meragu dan bertanya?, aku tidak pernah berlari pada wanita lain untuk menumpahkan segala hasratku selama ini. Aku masih tetap menunggumu." jelas Juna ingin menyudahi semua kesalah pahaman yang sudah terjadi berlarut-larut ini.
Citra tetap saja dengan segala kekerasan hatinya, sudah tak mau memperdulikan semua hal bodoh itu. Dirinya kini semakin nyaman dengan sosok lelaki baru dihidupnya, rasa cinta dan sayangnya kepada Juna tak lagi sama. Sedikit demi sedikit memudar dengan seiringnya waktu berjalan, entah apa dia sadar dengan hal konyol ini atau tidak ia tetap saja berkeras hati pada pendiriannya.
"Sudahlah, berapa banyak alasan lagi yang harus aku dengar darimu. Sekarang aku tak mau lagi percaya begitu saja dengan dirimu. Sekarang semua terasa berbeda" ujar Citra sambil berdiri dari duduknya seketika.
Juna benar-benar pasrah kali ini dengan semua sikap Citra yang begitu berbeda. Tak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan rumah tangganya dari badai cobaan ini, hanya bisa berharap ada secerca harapan yang begitu kuat untuk mengubah semua takdir ini.
Ia pun hanya mampu menatap Citra yang lebih memilih untuk menjauhkan dirinya dari Juna saat ini, Raga Juna masih mengharapkan untuk merengkuh tubuh Citra disana, tanpa terhalang oleh rasa keraguan atau apapun itu. Tapi kini ia sadar, ada tembok besar penghalang antara dirinya dan Citra yang tak dapat lagi ia runtuhkan dengan mudah.
Malam ini, Citra pun kembali memutuskan untuk keluar rumah dan mencari tempat persinggahan untuk dirinya yang tengah kalut menghadapi konflik rumah tangganya.
Dirinya tak lagi menjumpai keluarga suaminya disana, tak ada rasa cemburu atau pun dendam lagi yang saat itu begitu menguasai dirinya. Semua terasa nyaman.
"Mbak, sudah saya siapkan semua keperluan yang tadi mbak pesan ke saya ya" Ujar anak pemilik rumah tersebut.
Dia akrab disapa dengan Wili oleh warga sekitar, dirinya memiliki postur tubuh yang ideal dan cukup tinggi serta sedikit berotot. Dia sangat menyukai olahraga bola basket, dalam sepekan dia selalu mengupayakan untuk mengatur waktu untuk melakukan olah raga tersebut.
Citra yang baru saja mengenalnya, tak sedikitpun berminat untuk menyapa ataupun memperkenalkan dirinya pada Wili.
Hah, cewek kota mah gini. Belagunya kelas dewa!. ucapnya tengil dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah saya tinggal dulu mbak, jika memang saya diperlukan kembali. Di setiap kamar tertera no telepon rumah saya yang satunya. Silahkan hubungi saya di nomor itu saja terimakasih" pungkas Wili yang segera meninggalkan Citra.
Bocah ini terlihat sedikit tengil, tapi dirinya memiliki hati yang begitu baik. Tidak semua orang dapat merasakan kebaikan Wili, karena sebagian besar penduduk sana sudah terlanjur memberikan stigma negatif kepadanya.
Sementara ditempat yang berbeda, Juna yang berada dirumah terlihat sedang gusar didalam kamar. Ia hanya berjalan mondar-mandir didalam ruangan itu tanpa alasan yang jelas. Hatinya ingin berbuat sesuatu tapi pikiranya bertolak belakang dengan hatinya. Ia membutuhkan seorang teman saat ini untuk bertukar pendapat, tapi ia tak ingin jika orang rumah mengetahui hal ini.
Ia takut tak mendapatkan sebuah bentuk dukungan, yang ada dirinya hanya akan menerima segala caci maki atas kegagalannya dalam memimpin Citra. Matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur, entah apa yang mendorong dirinya saat itu ia lebih memilih untuk menghubungi Pricilia sebagai tempat terakhir dirinya mencurahkan hatinya.
"Pricil tolong temui saya di cafe harmoni hari ini sekarang juga" perintah Juna dalam sebuah pesan singkatnya terhadap Pricil.
Pricil yang tengah dikantor mendapati pesan itu sedikit bingung, pasalnya hari ini ia tidak mendapati Juna beserta istrinya masuk kantor. Tetapi sebagai seorang bawahan yang baik, ia harus menjalankan perintah tersebut dengan segera.
Lalu Pricilia dengan cepat mengemas semua tumpukan map di atas mejanya untuk ia simpan didalam laci. Dan segera menuju lokasi yang sudah ditentukan oleh Juna.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
__ADS_1
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️