Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Gelap mata


__ADS_3

Deru nafasnya begitu sengal, dan detak jantungnya tak lagi beraturan. Tatap matanya yang kosong membuat ia lupa dengan apa yang akan ia lakukan saat ini. Dia pun berjalan ke arah dapur dan juga melakukan hal yang sama seperti dikamar, hampir seluruh isi dapur tersebut Citra luluh lantakkan seketika.


Sorot matanya yang tajam terlihat tengah mencari-cari sesuatu, dan tangannya bergerak cepat dari tempat satu dan ke tempat lainnya. Sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah benda yang memantulkan silau disana. Terlihat begitu tajam benda itu dan memiliki ukuran agak panjang.


Dengan tangis serta keputusasaan dan kecewa yang berkecamuk jadi satu didalam benaknya ia mencoba untuk membenamkan benda itu ke arah perutnya dengan cepat.


"Aaaaarrgggghh" teriaknya yang sudah putus asa.


Plakkk klontang ...


Juna menepis aksi Citra yang sudah kelewat batas itu.


Kali ini, dirinya datang disaat yang tepat. Ia menghentikan arah pisau tajam itu dengan sempurna. Juna memang sudah memutuskan untuk segera menemui dirinya sesaat setelah kepulangan dirinya menemani Pricilia dirumah sakit.


"Apa kamu sudah tidak waras!" ujar Juna.


"Yah, aku memang sudah gila!" ucap Citra sambil mengais pisau itu kembali.


Kali ini, ia sudah memegang kembali pisau tersebut dengan sempurna. Sambil menangis meraung-raung disana, ia mencoba melancarkan aksinya kembali untuk melukai dirinya sendiri.


"Citra!, aku bilang hentikan." ujarnya sambil berteriak.


Juna yang mendapati pisau itu sudah semakin dekat ke arah perut Citra disana, wajahnya terlihat begitu cemas dan resah. Tubuhnya sedikit berkeringat menyaksikan semua ini harus terjadi didepan matanya. Tadinya Juna ingin melampiaskan semua amarahnya pada istrinya tersebut, tapi semua niat itu harus diurungkan akibat sikap Citra yang membabi buta seperti ini.


"Aku bilang, keluar dari sini. Cepat keluar Junaaa!" teriak Citra sambil menunjuk arah pintu.


Rambut hitamnya sudah terlihat acak-acakan dan sebagian menutupi wajah cantiknya.


Dan disaat pisau itu sudah menyentuh permukaan baju Citra, dengan segenap keberanian yang ia miliki Juna merangsak dengan cepat ke arah Citra untuk mengambil pisau itu disana.


Jleebbb


Pisau itu terlihat menembus perut salah satu diantara mereka berdua. Niat hati Juna ingin menolong Citra dari aksi konyolnya, benda tajam itu malah melukai dirinya.


Benda tajam tersebut tepat melukai perut Juna hingga dalam, sorot mata Juna seketika melemah dan tersungkur ke lantai tubuhnya. Ia kehilangan kesadaran sepenuhnya disana, darah itu mengucur deras melalui sela-sela pisau tersebut.

__ADS_1


"Tidak, tidak. Ini tidak mungkin, bangun Junaa!" dirinya menangis sejadi-jadinya disana sambil menyeret tubuh Juna ke pangkuannya.


Tapi Tuhan masih memberikan Citra sebuah kesempatan untuk menyelamatkan dirinya kali ini. Wili yang saat itu tengah mengantarkan makan siang untuknya, tidak sengaja melihat Juna sudah bersimpah dara disana.


"Wil, ayo tolong bantu dia. Tolong dia Wil" tangisnya tak bisa terbendung lagi.


Tanganya penuh dengan darah Juna saat itu, ia berusaha menekan dengan baik bagian perut Juna yang tertusuk oleh pisau tadi. Supaya darah itu tak mengalir begitu cepat disana.


Sebuah ambulance yang ditelepon oleh Wili akhirnya sampai juga, terlihat beberapa orang perawat menandu badan Juna yang sudah terkulai tak berdaya. Dan memasukkan kedalam mobil ambulance dengan cepat.


Sementara Wili mencoba menolong Citra untuk mengantarkan dirinya untuk menemani Juna dirumah sakit. Ia terus menyesali kejadian itu sepanjang perjalanannya menuju ke rumah sakit.


Kali ini Juna dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Pricilia. Entah ini hanya sebuah kebetulan atau sebuah ikatan batin yang cukup kuat. Ketika tubuh Juna baru saja ditandu keluar dari mobil ambulance, Pricillia dengan tidak sengaja menjatuhkan sebuah gelas kaca yang tepat berada di dekatnya, dengan tiba-tiba tubuhnya pun serasa dingin seketika. Dan detak jantungnya berpacu begitu lebih cepat, perasaannya pun gelisah dan gusar.


"Mas," bibir kecilnya tiba-tiba memanggil Juna dengan panggilan yang berbeda.


Di ruangan lain, terdengar suara Citra yang terbata-bata sedang menelpon Surya dengan cepat.


"M-mmas, tolong secepatnya ke rumah sakit. Juna mas ..." tutup Citra mengakhiri panggilan suara tersebut.


"Mas," ucapnya sambil memeluk Surya penuh ketakutan.


Sambil menarik tubuh Citra disana, ia mencoba untuk memperoleh informasi yang sebenarnya tentang kejadian yang menimpa Juna adiknya.


Dengan suara yang bergetar dan tubuh gemetar ia mencoba menceritakan kejadian sebenarnya kepada Surya disana. Kali ini, Citra berkata sejujurnya pada kakak iparnya itu. Ia tak lagi memikirkan tentang sandiwara ataupun drama lagi kali ini, yang hanya ada dipikirannya adalah tentang keselamatan Juna didalam sana.


Surya yang mendengar semua cerita itu hanya menatap kesal ke arah Citra sambil terduduk lemas dan menunggu hasilnya. Sementara Wili yang saat itu tengah menemani Citra disana, menyadari betul bahwa lelaki yang sedang bersama dirinya dan Citra adalah mantan suami Novi.


Ada rasa ingin marah dan kecewa pada diri Wili saat bertemu dengan Surya saat itu, tapi ia hanya memilih tetap diam dan membisu.


"Keluarga pasien?" seru seorang perawat.


Ketiganya tampak berdiri dan menghampiri perawat itu dengan segera.


"Saya kakaknya sus" tegas Surya seakan menekankan bahwa dirinya paling berhak atas adiknya yang tengah terkulai lemas didalam.

__ADS_1


"Baiklah pak, kami membutuhkan tanda tangan bapak secepatnya. Karena kami harus melakukan tindakan operasi untuk saudara Juna yang saat ini tengah kritis didalam." jelas perawat.


Surya dengan cepat membubuhkan tanda tangannya di secarik kertas tersebut. "Tolong berikan yang terbaik untuk adik saya didalam sus" pintanya.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin pak" ujar perawat tersebut dan kembali masuk kedalam ruangan.


Kali ini, Surya terlihat begitu tegang karena harus menyimpan rasa kesal kepada Citra. Ia yang tak bisa sepenuhnya meluapkan semua rasa itu, hanya bisa memukul dengan keras ke arah dinding putih rumah sakit.


Menit demi menit pun berlalu dengan cepat, dan ruangan operasi itu masih terlihat melakukan tindakan yang terbaik untuk Juna didalam sana. Citra yang sedari tadi tak bisa menghentikan tangisannya, terlihat duduk menyendiri di ujung kursi.


"Hentikan tangisanmu kali ini, karena itu takkan membantu Juna yang sedang terkapar didalam sana!" tegas Surya mencoba menghentikan tangisan Citra yang membuat pusing dirinya.


Memang seharusnya sudah pantas kamu meninggalkan Novi saat ini, lihat dirimu yang tidak dapat mengendalikan keadaan dengan baik dalam situasi seperti ini. Apalagi kamu harus mendampingi wanita sebaik Novi, sungguh bagaikan langit dan bumi. gumam Wili memandang negatif Surya.


Memang semenjak perpisahan dirinya dengan Novi, membuat sebuah perubahan yang begitu mencolok pada dirinya. Ia seringkali mudah terlihat marah dan arogan membuat ia tampak berbeda saat dulu masih bersama Novi.


...----------------...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*


*


...💐Abis baca komen dong💐...

__ADS_1


__ADS_2