
"Tapi mbak, aku tetap ayah dari anak itu" protes Wili.
Novi yang mendapati protes keras dari Wili, dirinya mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam disana, ia berharap tetap bisa menahan semua luapan emosinya kali ini.
"Apa kamu sudah menikah?" tanya Novi.
"Belum," jawabnya tegas.
"Kalau begitu, kamu belum mampu untuk mengerti tentang perempuan. Lalu bagaimana kamu akan mengerti tentang seorang anak?" tanyanya sambil menatap tajam mata Wili.
Beberapa detik Wili terdiam mendengar ucapan Novi.
"Mungkin dimata mbak Novi saya terlihat tak becus dalam hal percintaan, tapi yakinlah jauh didalam hati saya besar adanya untuk menerima anak itu. Saya juga adalah ayah kandung anak tersebut mbak, jadi saya mempunyai hak yang sama seperti mbak Novi saat ini" protes Wili berulang kali.
Karena Novi memang sudah merasa lelah untuk meladeni semua ucapan Wili, ia pun dengan hati yang begitu besar dan lapang akhirnya memberikan Wili ijin untuk bertemu ataupun menjumpai anak ini ketika dirinya terlahir kelak. Novi pun tak dapat memungkiri takdir tersebut, ia memang adalah ayah kandung dari benih yang sedang ia kandung.
"Aku akan memberikan kesempatan itu pada kamu, sekarang pulanglah aku tidak ingin jika sampai ada orang yang melihat kita akan memiliki opini yang tidak baik tentang kita ke depannya," tutur Novi.
Karena Wili juga melihat wajah Novi begitu pucat dan nada bicaranya mulai melemah, ia pun akhirnya memilih untuk segera pergi meninggalkan wanita tersebut agar bisa beristirahat dengan baik.
Setelah kepergian dirinya dari rumah Novi, ia yang masih berada tak jauh dari tempat tinggal Novi tengah duduk ditepi jalan dan membuka ponselnya. Ia yang saat itu masih minim pengetahuan tentang ibu hamil, segera mencari tahu semuanya melalui internet.
Kali ini ia pun mempelajari semua tentang kebutuhan wanita hamil, semua ini semata-mata ia lakukan karena dirinya begitu perduli dengan Novi dan anaknya. Wili yang saat itu tengah mengetahui beberapa kebutuhan untuk Novi, ia bergegas ke sebuah minimarket untuk membelanjakan keperluan itu.
Ia pun dengan sabar, menunggu sampai hari petang tiba. Menunggu suasana disekitar rumah Novi sepi sampai tak terlihat oleh orang satupu. Dengan jalan yang mengendap-endap, penuh kehati-hatian ia meletakkan sebuah kotak coklat berukurang sedang tepat didepan pintu rumah Novi.
"Tok,tok" Wili mengetuk pintu tersebut tanpa bersuara dan pergi dari tempat itu.
Tepat pukul setengah 12 malam, Novi yang sudah tertidur pulas bersama Malika terbangun karena mendengar suara ketukan pintu tersebut. Ia pun lalu menuju pintu utama rumahnya, dan membuka pintu dengan cepat.
__ADS_1
Masih dengan mata yang sudah tak kuat lagi menahan kantuk, dalam gelapnya malam mata Novi yang masih mencoba terbuka lebar tengah mencari-cari keberadaan siapa gerangan seseorang yang mengetuk pintunya tadi. Karena dirinya tak kunjung menemui orang tersebut, ia memutuskan untuk berlalu kedalam rumah. Ketika ia mau menutup pintu rumah tersebut, dirinya baru tersadar dengan keberadaan sebuah kotak coklat tepat dihadapannya.
Novi dengan cepat mengangkat kotak itu dan membawanya masuk kedalam rumah. Dirinya yang penasaran dengan isi kotak tersebut, segera membukanya.
Isi kotak tersebut adalah beberapa kotak susu ibu hamil, dan juga minuman yang mengandung kacang kedelai beberapa kaleng. Tak ketinggalan juga, ada beberapa susu untuk Malika dan beberapa roti dan juga snack didalamnya.
Novi yang saat itu masih berpikir keras tentang siapa orang yang mengirim ini, akhirnya tertuju pada Juna dan Pricilia. Hanya mereka berdualah yang mengetahui kondisinya saat ini, tanpa terpikirkan olehnya bahwa Wili juga mengetahui tentang dirinya.
Dirinya pun lalu mengambil ponsel miliknya dan mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Juna saat itu.
🖤
Keesokan harinya, entah sebuah kebetulan ataupun memang sudah garis Tuhan yang telah dirancang sedemikian rupa Citra telah menangkap basah Juna dengan Pricilia dirumah sakit. Ia yang saat itu tengah ingin memeriksakan kondisi badanya yang tak kunjung membaik dari demam, memutuskan untuk berobat ke rumah sakit itu juga.
"Sialan, nggak ada kapoknya kamu ya gangguin sumai orang!" maki Citra sambil menarik tangan Pricilia agar terbangun dari duduknya.
Pricillia yang kaget mendapati kehadirannya, hanya terdiam mengikuti langkah Citra yang sudah membara disana. Pertengkaran mereka berdua saat itu disaksikan begitu banyak mata disana.
Sampai pada akhirnya tas Pricilia terjatuh, dan beberapa foto yang tersimpan rapi didalam tas harus keluar tercecer dilantai. Citra yang melihat foto-foto itu,menatapnya penuh kesetanan.
"Dasar jala*g, apa maksud dari semua ini?" tegur Citra.
Namun Pricilia hanya mengambil sikap diam dan memilih untuk mengunci rapat-rapat mulutnya. Juna yang sudah tak tahan lagi melihat Pricilia harus mendapatkan ketidakadilan ini, dengan segera menarik tubuh gadis tersebut kedalam pelukannya.
Dengan terang-terangan dan penuh keberanian kali ini Juna membela Pricilia disana.
"Lepaskan dia!, kali ini jangan pernah lagi berani menyentuh dirinya seujung kuku pun" gertak Juna.
Citra malah tersulut api emosi saat mendengar kenyataan itu.
__ADS_1
"Jadi ini yang kamu lakukan setelah aku pergi dari rumah, sakit kamu yah!. Bukanya nyariin keberadaan aku, kamu malah asyik berduaan dengan perempuan jala*g ini, sampai-sampai kalian berdua menghasilkan seorang anak dari kelakuan bejat kalian." Luapan emosi Citra tak terbendung.
"Cukup, jangan pernah lagi sebut dirinya sebagai wanita jala*g. Dia adalah perempuan dari anakku kelak, ia sedang mengandung anak itu sekarang. Lagi pula semua ini terjadi akibat kesalahan kamu sendiri, kamu yang tak pernah menginginkan kehadiran seorang anak ditengah pernikahan kita membuat aku harus menahan semua perasaan untuk segera menimang seorang anak. Jadi jangan lagi egois menyalahkan orang lain dengan mudahnya sesuka hati kamu" jelas Juna panjang lebar.
Juna yang sudah meluapkan segala kegundahan hatinya selama ini pada Citra, pergi begitu saja tanpa memberikan sebuah kepastian hubungan diantara mereka saat itu.
"Masss, berhenti kataku!" teriak Citra seperti orang gila.
Tapi Citra hanyalah mendapatkan malu saat itu, semua keinginan dirinya untuk bisa merajut kasih kembali dan memperbaiki rumah tangganya bersama Juna hilang seketika. Begitu sakit ia mendapati semua ini didepan matanya sendiri, bahkan ia harus merelakan suaminya lebih memeluk dan membela wanita asing ditengah kemelut biduk rumah tangga mereka ketimbang harus menyelamatkan pernikahan dirinya bersama Citra.
"Tidak, aku tidak mungkin kalah dengan perempuan itu. Ia yang mengenal Juna hanya dalam waktu hitungan bulan, dapat merenggut hati Juna dengan begitu mudahnya. Sementara aku yang sudah menemani dirinya bertahun-tahun selama ini, dia campakkan begitu saja" protes Citra terhadap dirinya sendiri.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
*
__ADS_1
...💐Abis baca komen dong💐...