Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Tubuhku


__ADS_3

Di dalam kamar yang gelap tanpa cahaya lampu sedikitpun, Pricilia hanya terkulai lemah. Ia menatap tubuh gempal Juna yang sudah terbaring tepat disisinya. Seakan tak percaya hal kotor ini bisa terjadi pada dirinya dengan cepat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Juna di kegelapan.


Bagaimana mungkin semua baik-baik saja pak, baru saja berlangsung dengan cepat semua kesucian saya terenggut. Bayangan masa depan yang hancur pun sudah menghantui saya didalam pikiran saya. gumam Pricilia didalam hatinya dengan menahan tangis.


Karena memang Juna tak bisa melihat dengan benar wajah Pricil disana, ia lalu mencoba mendekati gadis tersebut sambil merengkuh tubuhnya. Ia mencoba memeluk erat tubuh Pricilia saat itu, seolah ingin memberikan ketenangan pada Pricil.


"Kamu tidak perlu khawatirkan keadaan ini, aku janji akan mempertanggung jawabkan semuanya dengan baik" ucapnya lirih sambil mengusap air mata yang membasahi ke dua pipi Pricilia.


Bukan! , aku tidak mau disebut sebagai wanita perebut suami orang. Apalagi sebagai pelakor, aku bukan wanita seperti itu. gumamnya.


Sementara Juna masih sibuk mendekap dirinya disana, akhirnya mereka berdua melalui malam itu dikamar hotel tersebut. Sepanjang malam, Juna yang terjaga dari tidurnya terus memandangi wajah gadis polos yang tak berdosa itu. Semua ini salah dirinya yang tak mampu mengendalikan semua dengan baik, jauh di dasar hatinya ia masih mencintai istrinya Citra. Tetapi Juna juga tidak bisa menepis gelora asmara yang muncul dalam dirinya kepada Pricilia.


Tepat pukul enam pagi saati itu, Pricilia tengah membersihkan tubuhnya dikamar mandi. Sesudahnya ia mandi dan keluar dari kamar mandi, terlihat handuk masih terlilit menutup sebagian tubuhnya. Dan rambutnya yang basah masih terlilit dengan handuk kecil. Ia tidak sadar bahwa dirinya yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, mengundang perhatian Juna yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Hei, kamu cantik sekali pagi ini" Juna mencoba membuka ke dua matanya dan mencoba beranjak dari atas ranjang.


Pricilla yang malu mendapati sikap Juna, dengan segera membalikkan tubuhnya saat itu. Ia lebih membelakangi Juna tanpa berkata apapun.


"Kenapa?, apa masih malu dengan saya saat semua kejadian kemarin malam" pertanyaan Juna membuat sedih hari Pricilia.


Pasalnya, dengan susah payah ia sudah menata hatinya pagi ini dengan baik. Dirinya berusaha terlihat baik-baik saja dan seolah tak pernah terjadi apapun antar ia dan Juna. Tapi kembali lagi, Juna pun mengulang kejadian malam itu dipagi ini.


Ia dengan tiba-tiba membopong semua badan Pricilia ke atas ranjang putih itu, dengan lembut ia menidurkannya disana. Hanya butuh satu kali tarikan saja, maka tubuh Pricilia terlihat sempurna tanpa terhalang oleh sehelai kain sedikitpun.


Tubuh itu mengundang hasratnya kembali untuk bercum*u mesra dengan Pricil, sementara Pricilia disana yang sudah sedikit terlihat enggan mencoba mengikuti permainan Juna.

__ADS_1


Mereka pun menyatu kembali, mengulang pagi ini sama dengan kejadian malam kemarin. Juna terlihat sangat puas sekali pagi ini, karena Pricil memberikan dengan baik kebutuhannya sebagai seorang lelaki.


"Apa hari ini cukup pak?" tanya Pricilia dengan nafas yang masih tidak teratur.


Juna yang mendapati gadis impianya tersebut memanggil dirinya dengan sebutan pak, segera menarik ucapan Pricil.


"Panggil saya Juna, jagan bapak" tukasnya.


"Saya panggil bapak saja, karena saya kan hanya karyawan bapak sampai dengan hari ini" ujar Pricilia yang tidak sengaja menyindir Juna disana.


"Kamu mau apa sayang, apa perlu kamu saya nikahi hari ini juga. Saya siap!" jelas Juna dengan penuh penekanan.


Pricilla hanya menggeleng lemah dihadapannya.


"Tidak, saya tidak butuh pengakuan sesaat pak. Saya juga tidak pernah berniat untuk merebut bapak dari bu Citra. Saya perempuan, jadi saya sangat paham hati bu Citra pasti akan hancur jika mendapati suaminya memiliki simpanan" ucap Pricilia.


"Bukan, saya pastikan kamu tidak akan menjadi istri simpanan saya. Kamu akan menjadi istri ke dua saya" rayu Juna penuh kesungguhan hati.


🖤*


Ditempat yang berbeda, Citra justru terlihat tengah menikmati kesendiriannya kali ini. Ia sedang berada di sebuah kolam renang rumah itu, ini adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh tuan rumah kepada Citra.


Ia membenamkan kakinya sampai lutut kedalam permukaan air, dan Citra sesekali mencipratkan air ke ujung kolam renang lainnya. Citra yang kali ini, terlihat sangat tenang pembawaannya. Ia tak lagi gusar ataupun sekadar biasanya. Semua ini terlepas dari usahanya sendiri.


Sedangkan dirumah, Novi mengalami pendarahan begitu hebat. Sampai pada akhirnya Surya harus meninggalkan kantor untuk mengantarkan istrinya tersebut dengan segera. Mereka berdua mengunjungi salah satu rumah sakit cukup besar dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap disana.


Novi pun dibawah ke sebuah ruangan dengan mengenakan sebuah kursi roda. Ia tampak merintih kesakitan, dan terlihat darah mengalir disela celana Novi.

__ADS_1


Surya yang tengah panik, sedikit membentak kepada perawat disana yang sedikit lambat menangani Novi. Setelah protes Surya, Novi pun dengan cepat di tangani dengan baik. Sampai pada akhirnya proses penanganan Novi berakhir.


Seorang dokter perempuan yang masih seumuran dengan mamanya terlihat menghampiri dirinya yang begitu gusar disana.


"Maaf apa benar anda pak Surya?" tanya dokter Evelyn, Surya mengangguk dan mendekat.


"Betul dok, bagaimana kondisi istri dan anak saya" tanyanya cepat.


"Maafkan kami pak, dengan berat hati harus saya sampaikan bahwa anda mengalami keguguran saat ini. Kami tidak dapat menyelamatkan calon anak anda dan istri anda, karena pendarahan yang begitu hebat anak anda tidak bisa bertahan lebih lama lagi didalam perut ibunya. Maafkan saya" ujar dokter Evelyn dengan sedih.


Tubuhnya lemas dan bersandar pada dinding rumah sakit sambil menutup ke dua wajahnya dengan ke dua tanganya saat itu. Betapa terpukulnya ia mendapati kabar duka tersebut, dirinya sudah begitu mendambakan bayi kecil itu hadir ditengah-tengah pernikahan dirinya dengan Novi selama ini.


Tapi kali ini Tuhan berkata lain untuk ke duanya, Novi harus kehilangan kesempatan ini dengan begitu cepat. Semua usahanya dalam menjaga kehamilan dirinya selama ini terasa begitu sia-sia.


Tak berapa lama kemudian, mama Sinta yang menyusul mereka ke rumah sakit pun tiba. Dengan langkah yang cepat, ia menghampiri putranya yang tengah menangis terisak itu.


"Ada apa ini, kenapa kamu menangis?" ujar mama.


"Citra keguguran ma" Surya sedikit memekik saat menyampaikan hal pilu itu.


Bukanya sedih, mama Sinta malah bersikap berbanding jauh saat mendapati kenyataan itu. Ia terlihat begitu marah, mukanya merah padam saat mendengar keadaan Novi.


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor

__ADS_1


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


__ADS_2