
Wajahnya sangat tak bergairah disebrang bangku coklat paling ujung, ia hanya terus tertunduk dengan keadaan dua tangan yang masih diborgol. Sebagian rambutnya menutupi wajahnya disana.
"Sidang hari ini dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum" suara majelis hakim.
Tok tok tok
Sidangpun dimulai, dan Citra selaku terdakwa ia pun dipersilahkan duduk didepan majelis hakim dengan keadaan bebas. Terlihat seorang petugas melepaskan borgol dari kedua tangannya segera.
Mama Sinta dan surya pun turut hadir dalam persidangan kali ini, mereka harus meninggalkan Juna yang masih koma dirumah sakit sendiri.
"Saudari Citra Kinanti, apa benar saudari telah melakukan penusukan secara sengaja kepada saudara AA atau Arjuna?" pertanyaan tersebut membuat Citra termenung seketika. Ia hanya terus diam saat perjalanan sidang.
"Tidak yang mulia hakim" ucapnya pilu.
Setelah dirinya diberondong oleh beberapa pertanyaan, kali ini akan dihadirkan sebuah saksi dalam kasus yang menjeratnya.
"Dipersilahkan masuk untuk saksi dari keluarga korban" tuturnya.
Dengan langkah kaki yang pasti, lelaki yang berpakaian rapi itu menuju ke sebuah kursi yang ada dihadapan majelis hakim.
"Yang mulia, terimakasih karena memberikan saya kesempatan untuk menjadi saksi hari ini" sambut lelaki yang mengenakan setelan kemeja rapi itu.
"Dipersilahkan," ujar hakim.
Citra yang mengenal betul suara itu dengan cepat mengangkat kepalanya.
"Pada hari itu, tepat pukul setengah 12 siang saya sedang mengantarkan sebuah makanan ke rumah saudari Citra, dan secara tidak sengaja dari kejauhan saya menyaksikan dengan kepala mata saya sendiri bahwa posisi pisau saat itu tengah berada dalam penguasaan saudari Citra. Sementara korban selaku suaminya, tepat berdiri dihadapan saudari Citra dan tiba-tiba tubuhnya lalu ambruk begitu saja ke lantai bersimpah darah. Karena saudari Citra sangat panik dengan kehadiran saya disana, ia berpura-pura menangis histeris untuk menolong korban dan ..." kesaksian dari Wili pun terhenti ketika Citra berteriak disebrang meja.
"Bohong!!!, dia bohong yang mulia!!!. Bukan seperti itu ceritanya... tutup mulut jahatmu itu Will tutup ...!!" teriaknya sambil meronta-ronta, dan beberapa petugas mencoba untuk menghentikan aksinya disana. Karena Citra terus memaksa merangsak masuk untuk menghampiri Wili.
Wajahnya begitu merah padam mendengar kesaksian palsu Wili saat itu.
"Dipersilahkan untuk saudara meneruskan kesaksiannya" tutur hakim.
"Terimakasih yang mulia, karena saudari Citra mendapati kehadiran saya disana ia pun sontak terlihat resah memandangi wajah korban dan berupaya memberikan bantuan. Sementara saya yang saat itu disana, dengan cepat memberikan bantuan pertolongan pada saudara Juna. Cukup sekian kesaksian dari saya yang mulia hakim terimakasih" pungkas Wili.
Setelah saksi dihadirkan dalam persidangan tersebut, dan sidang sudah bergulir cukup lama tibalah pembacaan putusan hakim untuk Citra.
__ADS_1
"Dengan ini, saya nyatakan saudari Citra Kinanti telah terbukti bersalah dan melakukan tindak pidana pada saudara Arjuna. Maka dengan itu, saya putuskan bahwa saudari Citra Kinanti akan dijatuhi hukuman selama 7 tahun penjara" jelas hakim.
Tok tok tok
Sidangpun resmi ditutup dengan pembacaan putusan terakhir untuk Citra, ia yang masih saja histeris menangis diujung bangku hanya menatap sinis ke arah Wili.
Sementara mama Sinta beserta Surya sudah lega mendapati semua keputusan hakim saat itu.
"Mah, mah ... tolong dengerin Citra kali ini. Citra mohon mah!. semua kesaksian Wili didalam sana cuma rekayasa palsu Wili, Citra mohon mama jangan percaya begitu aja!!. Tolong bantu Citra untuk keluar dari sini ma, Citra mau sama Juna !!" rengek Citra sepanjang jalan.
"Rekayasa!, masih bisa kau mengelak untuk semua kejadian ini. Apa kamu pikir saya akan percaya begitu saja dengan semua ucapan manismu!, tidak!. Cukup bagi saya yang terlalu bodoh menerima kehadiranmu ditengah-tengah keluarga kami !!!"
"Citra mohon mah, jangan bicara seperti itu ...Citra sangat mencintai Juna maaah. Maaah, mama ... tolong bebasin Citra!!" teriak Citra yang ditinggal begitu saja dengan mama Sinta beserta Surya.
"Mbak, selamat menuai atas semua kejahatanmu selama ini !!. Semua ini belum seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan Novi diluar sana!. ujar Wili sambil menatap lekat mata Citra.
Dengan berderai air mata, Citra memberikan tatapan menakutkan pada Wili.
"Hei anak kecil, jangan pikir saya akan menyerah begitu saja!. Kamu boleh menang sekarang, tapi setelah saya bebas dari sini, sampai ke ujung dunia pun akan ku cari kamu sampai dapat!!" tutur Citra dengan nada sedikit membentak.
"Mari ikut saya buk" ucap seorang petugas kepolisian.
Dirinya pun kali ini digelandang kembali memasuki sel yang semula ia tempati. Tatap matanya yang kosong dan wajah yang begitu sembab mengundang tanya bagi teman satu selnya.
"Hukuman mati loe!" ujar seorang napi perempuan yang bernama Wati, ia dijatuhi hukuman selama 15 tahun penjara karena telah tega menghabisi nyawa suaminya yang sudah berselingkuh darinya.
"Sialan!!!, gue nggak seburuk loe ..." maki Citra yang sudah kesetanan dan mencoba memukuli serta menjambak rambut Wati disana.
Sayang nasib buruk malah harus menimpa dirinya, para napi wanita lain yang sigap membela Wati disana mencegah aksinya. Citra pun akhirnya mendapatkan sebuah pukulan bertubi-tubi yang menghantam tubuhnya.
Mereka yang tak segan memukuli Citra bahkan menendang tubuhnya terus gencar melakukan aksi itu.
"Uhukk!" Citra terbatuk dan terkulai lemas tak berdaya disana, wajahnya biru lebam dan diujung bibir merahnya terdapat darah segar mengalir.
"Hentikan!, kalau tidak dia bisa mati disana!!" ujar Wati.
"Ada apa ini ribut-ribut didalam!" tanya seorang polisi jaga disana.
__ADS_1
"Tidak pak, kami tadi hanya mengusir beberapa kecoa yang berkeliaran disini" ucap Wati.
Citra yang bernasib malang itu, disembunyikan dibalik tubuh mereka agar tidak sampai ketauan oleh polisi tersebut. Ia tak terdengar merintih ataupun meminta pertolongan kali ini, ia masih tak sadarkan diri.
"Woi,bangun loe bangun!" Wati memberikan aroma minyak ke sepanjang hidung Citra agar cepat sadar.
Dirinya pun dengan cepat memukul halus pipi Citra disana.
"Emmbhh, apaan ini !!" tutur Citra yang sudah mulai sadar dan bangun seketika.
"Jangan kurang ajar lagi lu ya!!" seorang napi wanita bertubuh lebih gempal berdiri dan menyingsingkan bajunya ke atas sambil meloto penuh ke arah Citra.
"Sudah, hentikan. Atau tidak, kita akan ketahuan dengan polisi jaga diluar sana. Biarkan wanita sombong ini sendiri, ia perlu waktu yang banyak untuk mengosongkan semua pikirannya dan membuatnya sadar akan posisi dirinya saat ini" tutur Wati.
Citra hanya melihat mereka dengan tatapan penuh kebencian dan mulai merintih kesakitan ketika memegangi memar pipinya.
Ditempat lain, mama Sinta dan Surya yang hendak ingin menuju rumah sakit saat itu. Tiba-tiba saja laju mobilnya harus terhenti akibat ulah Wili yang mendadak memotong jalan mereka menggunakan motor trailnya.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
*
...💐Abis baca komen dong💐...
__ADS_1