
"Hari ini aku akan meninggalkan kalian semua disini !" ujar Citra seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Sangat beruntung dirimu!" ucap Grista.
"Jangan pernah lupakan kami disini yah" sahut Tiwi.
Tenanglah, jika semua fasilitaku kudapatkan kembali akan aku keluarkan kalian semua dari sini secepatnya.
"Berjanjilah!!" teriak Tiwi pada dirinya dari balik jeruji, tetapi Citra memilih untuk melenggang pergi dari sana dengan angkuhnya.
Akhirnya setelah sekian lama penantian yang ia tunggu, udara kebebasan itu dapat ia hirup lebih dalam lagi.
*
*
*
"Re, cepat kemari !" ujar Sando memanggil namanya dari balik pintu ruangan kerjanya.
Renata hanya mengerutkan dahinya dengan halus dan berjalan ke arahnya sambil berpamitan pada Novi.
"Hm!" sahut Renata malas.
"Aku ingin tanya sesuatu padamu!"
"Apa benar jika Novi adalah mantan istri lelaki itu?!" selidik Sando lebih jauh.
Dia sudah sangat kesal terhadap Surya tidak ingin menyebutkan inisial namanya disana.
"Hm, yah!"
"Kakak sudah sangat jelas mendengarnya dari Novi !" timpal Renata dengan wajah datar dan melipat kedua tangannya diatas perutnya.
Sembari melihat kakaknya terus gelisah dan mondar-mandir dihadapannya, Renata lalu memutar otaknya untuk menelisik sikap apa yang sebenarnya kali ini dimiliki oleh kakaknya Sando terhadap Novi.
"Apa kakak mencintainya!"
"Jujurlah padaku!. PLEASE" seru Renata yang kali ini menatap kedua bola mata yang tengah kebingungan harus apa disana.
"Dih, menjauhlah dariku!"
"Dirimu masih terlalu kecil untuk mencampuri urusanku!"
"Kakak ...!"
Tat kala ucapan Sando mengundang kemarahan pada diri Renata.
"Baiklah, aku bersumpah tidak akan pernah membantumu sedikitpun!"
wanita tersebut melayangkan ancaman jika kakaknya terus memilih bungkam darinya.
"Yah, aku menyukainya"
"Hanya sekedar suka!"
"Ini bukan cinta!" tegas Sando dengan nada sedikit sumbang.
Mengetahui hal itu, adik perempuannya itu hanya bisa terperangah dalam beberapa saat dengan memandang wajahnya. Ia tak percaya, jika hati kakaknya yang seperti batu itu akan bisa luluh juga oleh wanita.
"Tapi kenapa harus Novi si kak!" gerutu Renata kesal.
Kali ini, dia benar-benar berada di persimpangan jalan yang sulit . tekadnya yang sudah bulat ingin membantu Surya mendapatkan mantan istrinya kembali, kini harus gugur karena pernyataan kakak kandungnya sendiri.
Wanita itu hanya memejamkan matanya, dan bersandar di atas kursi hitam sambil terus mengatur nafasnya.
__ADS_1
Ketika dirinya tengah menenangkan pikirannya yang kalut, tiba-tiba saja ponselnya bergetar didalam saku blazer hitamnya.
Ponsel itu menyala dengan nama Surya yang tertera jelas disana.
"Tolong temui aku sekarang, secepatnya ditempat biasa." isi pesan singkat Surya yang padat dan jelas.
Sebenarnya, Renata sudah tak ingin bertemu dengannya lagi saat ini. Karena itu sama aja akan membuat sebuah luka baru untuknya saat ini. Semakin dirinya sering bertemu dengannya, maka rasa itu akan sulit hilang dari dasar hatinya.
Sementara Surya yang sudah tiba lebih dulu dari Renata, ia memutuskan untuk menunggu kedatangannya dilantai paling atas cafe itu. Surya menginginkan suasana yang cukup tenang saat tengah menyampaikan seluruh isi hatinya pada teman semasa kecilnya itu.
Setelah dua buah minuman datang dimeja itu, dari pantulan gelas kaca miliknya terlihat disana dengan jelas tubuh Renata tergambar di gelas itu.
"Hai, maaf ya sudah menunggu lama" sapa Renata yang berusaha tegar kali ini.
"Duduklah, nggak papa kok" sahut Surya.
Keduanya yang telah duduk berhadapan, terlihat sibuk meminum minuman miliknya masing-masing.
"Makasih ya Re!" ucap Surya sambil mengaduk minumannya.
Ia masih terlihat begitu kaku kali ini, segudang perasaan yang sangat membuat hatinya gembira tak dapat ia luapkan begitu saja dihadapan Renata dengan gamblang.
Sepanjang waktu, ia terlihat begitu berhati-hati menjaga setiap ucapan yang hendak dirinya lontarkan.
"Yah, kamu pasti sudah mendengarnya kan?!"
"Aku tahu itu!" ucap Renata sambil terus mengangguk anggukkan kepalanya.
"Semua itu berkat dirimu ..." timpal Surya dengan nada dan wajah yang begitu riang.
Sebenarnya, pemandangan itu telah lama dirindukan oleh Renata. Seorang Surya yang begitu antusias jika saat menatap dirinya, sama persis ketika dulu mereka masih tengah duduk di bangku sekolah.
"Aku bahagia menatap senyummu kali ini, tapi entah kenapa hati ini juga terasa perih dan teramat nyilu didasar sana. Semua itu bercampur menjadi satu, bahkan aku sendiri tak mampu untuk memisahkannya dengan baik" gumam Renata sedih sambil terus menatap senyuman dari wajah Surya .
"Sudahlah, hal itu tidak terlalu penting bagiku saat ini" sahut Renata getir.
Seolah tak ingin mengerti keadaan apa yang tengah di alami oleh Renata, Surya terus menyunggingkan senyumannya disana. Sambil terus mengingat wajah Novi .
"Jika Novi ada yang mendekati, apa kau akan marah?" tanya Renata dengan penuh kehati-hatian.
"Hah!"
"Maksudmu apa!"
Dengan sedikit membentak Surya tak dapat menyembunyikan rasa tidak nyamannya disana.
"Tidak, itu hanya berandai saja" jelas Renata mengakhiri pancingannya.
*
*
*
Sementara dirumah mama Sinta, Citra yang baru saja tiba disana dengan senyum sumringah miliknya melangkah dengan penuh keyakinan ke dalam.
"Sayang, dimana dirimu keluarlah!" teriaknya.
"Nona Citra!" ucap si mbok dengan terkejut.
Mengetahui salah satu mantan menantu rumah itu datang dengan begitu mengejutkan, membuat si mbok cukup tercengang disana.
"Ada apa kau menatapku seperti itu!!"
"Panggilkan Juna, cepat!"
__ADS_1
Sikap arogannya tak pernah hilang sedikitpun, meski otaknya pernah mengalami sedikit gangguan.
"Menyingkirlah mbok, masuklah!" ujar mama Sinta mencoba membela si mbok dengan cepat.
"Ada apa dirimu disini?!"
"Masih berani menginjakkan kakimu itu disini!"
"Jika kau mencari Juna, dia sudah tidak lagi menjadi bagian anggota keluarga ini?!"
Seringai sinis dari wajah mama Sinta begitu menantang dirinya.
"Mama pasti bohong!"
"Cukup, hentikan omong kosong mu itu!"
"Bahkan termasuk dirimu, sudah kehilangan hak menyebutku dengan panggilan mama!"
Citra tampaknya tak dapat mengingat peristiwa itu dengan baik. Ia masih belum menyadari saati ini, hal apa yang dapat menyeret dirinya hingga masuk ke dalam bui waktu itu.
"Rupanya, otakmu makin bertambah parah!"
"Bahkan dirimu saja sudah berpisah dengan Juna secara hukum, apa kau tidak mengingatnya?" ujar mama Sinta dengan begitu santainya sambil melipat kedua tangannya disana.
Citra masih memandangi wanita tua yang ia anggap sangat menjengkelkan kali ini.
"Tapi Juna sudah membebaskan diriku kali ini !"
"Jadi aku yakin mama tengah berbohong kali ini padaku!"
"Hahahaha!" ucapan demi ucapan Citra memancing tawa mama Sinta dengan begitu renyah.
"Bermimpi lah sepuas hatimu!"
"Dan aku ingatkan, segeralah bangun dari tidurmu itu!"
Orang tua itu menutup dengan kasar pintu yang memiliki nuansa putih dengan ukiran kayu yang sangat padat disana.
...----------------...
Bersambung ♥️
*
*
*
...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥...
Saat di dunia nyata mereka saling membenci, tetapi di dunia maya mereka saling menyukai. Mungkinkah cinta akan bersemi dengan subur di hati keduanya?
Shelomita Praditya harus merasakan ditalak setelah akad karena fitnah dari laki-laki yang menyebalkan dalam hidupnya. Sampai akhirnya dia dipaksa menikah dengan laki-laki itu.
Sementara Jupiter Kiandra tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menggagalkan pernikahan gadis yang paling dibencinya. Di menyetujui usulan para orang tua untuk menikahi Shelo karena sudah banyak rencana di otaknya untuk mengerjai gadis itu.
Bagaimana pernikahan mereka akan berjalan, sementara hanya ada kebencian dihati keduanya?
Mungkinkah cinta akan hadir seiring berjalannya waktu kebersamaan mereka?
jangan lewatkan kekonyolan mereka dengan mengikuti terus kisahnya!
Follow ig @Thatya0316
__ADS_1