
Hari ini, tepat 3 hari sudah Juna pergi dari rumah dan tanpa mengabari mama Sinta sedikitpun. Begitu juga Surya yang sudah semalaman tak kunjung pulang ke rumah, rumah terasa sangat sunyi sekali.
Dirumah hanya tinggal mama Sinta dan Malika yang menemani omahnya tersebut.
Klontang ...
Malika menjatuhkan sebuah mainan miliknya yang ia bawah ke meja makan.
Bukanya menolong cucunya tersebut, mama Sinta malah melayangkan sebuah nada kasar dan tinggi kepada Malika. "Kamu nakal sekali" pekik mama Sinta.
Mata kecil itu terlihat dipenuhi oleh air mata yang ingin menerobos keluar dengan cepat, ia hanya memandangi omahnya yang sudah jauh berbeda dengan dirinya.
Si mbok yang mengetahui hal ini lalu berlari dari dapur untuk mengambil Malika dan membawanya untuk masuk ke kamar, ia tahu betul bagaimana kondisi mama Sinta yang sangat sensitif belakangan ini. Ia membawa Malika karena tidak ingin gadis kecil tersebut terkena getahnya.
"Sudah, Malika nggak boleh menangis ya. Biar mbok ambilkan makananya kesini yah" ujar si mbok yang begitu kasihan dengan gadis kecil tersebut.
Si mbok pun segera turun untuk mengambilkan piring makanan dan segelas susu hangat milik Malika. Dan bergegas naik untuk menyuapi dan menemani Malika.
Sementara hari ini adalah kepulangan Novi dari rumah sakit. Dirinya yang sudah jauh lebih baik, terlihat merapikan pakaian miliknya dan berkemas untuk pulang. Rasa rindunya begitu dalam untuk ke dua orang yang begitu ia sayangi. Yah Malika dan Surya adalah permata hati Novi sampai kapanpun.
"Pagi bu, hari ini sudah siap untuk pulang yah. Semoga segera mendapatkan momongan kembali ya, yang paling penting jangan terlalu stres" sapa suster yang masuk kedalam kamarnya untuk memberikan obat-obatan yang akan dibawanya pulang.
Novi hanya tersenyum saat mendengar ucapan prawat tersebut. Hampir satu jam ia menunggu Surya disana untuk menjemput dirinya, tapi ia tak kunjung datang. Ponsel milik suaminya itu pun tak dapat dihubunginya. Dan akhirnya, ia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah dengan menaiki taxi online.
Saat perjalanan dirinya pulang menuju rumah, awan pun tiba-tiba terlihat hitam mendung dan beberapa kilat saling bersambut di atas langit. Hujan deras pun turun membasahi jalanan disana, ia yang menatap kaca mobil taxi tersebut hanya bisa terdiam sambil mengusap kaca tersebut.
__ADS_1
Ia tak ingin kepulangan dirinya kali di iringi dengan tangisan. Rasanya sudah cukup pilu ia menangis selama berhari-hari dirumah sakit. Ia harus menyiapkan dirinya untuk bertemu Malika dirumah, dirinya sangat yakin bahwa malaikat kecilnya itu pasti sudah menunggu dirinya disana.
Tak berapa lama kemudian, taxi tersebut berhenti tepat dihalaman rumah mama Sinta. Saat dirinya membuka pintu taxi tersebut, mang Ujang yang sudah mengenali dirinya dari kejauhan berlarian ke arah Novi dan membawakan sebuah payung untuk dirinya.
Begitu sedih dirinya mendapati hal ini, kepulangannya seakan tak ditunggu oleh orang yang ia rindukan selama ini. Tapi ia menutup rapat sedih itu dan memilih untuk berdamai dengan keadaan saja. Sambil di dampingi oleh pak Ujang, ia berjalan menuju rumah degan pakaian yang sedikit basah.
Rumah itu terlihat sunyi saat ia memasuki diruang utama. Matanya terlihat mencari-cari keberadaan Malika dan Surya disana, tapi tak ia temukan. Dirinya pun memutuskan untuk segera membuka pintu kamar Malika saat itu.
Pintu itu belum terbuka sepenuhnya, tapi gadis kecil itu berlari menuju dirinya. Air mata Malika yang sempat tertahan, akhirnya tumpah seketika disana.
"Mama ... Malika rindu" ia mengangis sejadi-jadinya.
Novi pun mengusap lembut wajah anak malang itu, dan memeluk erat tubuhnya. Ia kenal betul anaknya, ia takkan sehisteris ini jika hanya meluapkan rasa rindu. Dirinya lalu berjalan menghampiri si mbok yang juga menatapnya lesu disana.
"Mbok, apa kabar. Ada apa ini?" tanya Novi yang duduk tepat disebelah si mbok dengan baju setengah basah.
Novi pun terlihat cukup tercengang dengan semua cerita si mbok saat itu, ia pun mulai menata hati dan pikirannya untuk memikirkan keberadaan suaminya. Pasalnya jika ia urutkan cerita si mbok, berarti suaminya itu tidak pulang ke rumah semenjak kepergian dirinya dari rumah sakit.
Ia masih mencoba untuk berpikir positif terhadap suaminya. Dirinya meyakini jika Surya berada dirumah mereka yang satunya saat ini. Sambil membelai rambut putri kecilnya itu, dengan nada penuh keyakinan ia mengucapkan pada Malika.
"Sekarang tidur dulu ya, besuk kita akan temui papa" ucap Novi,gadis kecil tersebut patuh terhadap perintahnya.
Sampai pagi harinya, ia yang sudah terlihat bangun lebih awal dan beraktifitas seperti biasanya tengah sibuk menata makanan dimeja. Bersamaan dengan itu, ibu mertuanya pun turun dari kamarnya dan duduk dimeja makan. Tangan Novi terlihat terulur ke arah wanita setengah baya tersebut, tapi Novi malah diacuhkan disana.
Ia melihat diri mama Sinta seperti boneka tanpa nyawa, dirinya menyadari bahwa hal ini juga akibat kepergian ke dua anaknya yang secara bersamaan sekarang ini.
__ADS_1
Novi yang selalu memandang baik segala hal, tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan dirumah sekarang. Ia lalu mencoba menyajikan sebuah nasi diatas piring dengan beberapa lauk untuk mama Sinta, sayangnya niat tulusnya itu malah tak dihiraukan juga.
Mama Sinta lebih mengambil piring baru dan mengambil semuanya dengan tangannya sendiri saat itu, Novi yang menjumpai perilaku mama Sinta hanya tersenyum manis ke arah mama. Sementara nasi yang terlanjur ia ambil, ia suapkan keada Malika yang juga duduk disampingnya.
Saat dirinya sudah menyuapi Malika, ia pun berpamitan kepada mama Sinta untuk pergi ke salah satu rumah mereka.
"Novi mau keluar sebentar ya ma, mau ..." ujar Novi, belum sempat ia menyelesaikan ucapannya mama Sinta justru memilih berdiri dan berlalu meninggalkan Novi dan Malika disana.
Hatinya yang sudah rapuh itu, menjadi semakin ketir mendapati perlakuan seperti ini. Ia sungguh tidak menginginkan hal ini, tapi kenapa keadaan masih saja memaksa dirinya untuk bersedih terlalu lama.
"Ma," ucap Malika membuyarkan semua lamunannya disana, ia pun tersadar bahwa masih ada putri kecilnya yang selalu memberikan semangat lebih untuk dirinya menghadapi kenyataan pahit ini.
"Sudah siap, waktunya kita pergi jemput papa. Yuk" seru Novi yang memasang wajah bahagia disana demi putrinya agar terlihat senang.
Ia sudah lihai dalam menyimpan semua segala kengundahan hatinya sendiri sejak lama. Sampai tak seorang pun mengetahui semua hal sedih yang sering ia rasakan selama ini.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
__ADS_1
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️