
"Dimana dirimu sayang"
"Apakah semua ucapan mama benar adanya!"
Dengan wajah penuh kekalahan, Citra yang diambang keputusasaan berjalan keluar dari pintu gerbang utama rumah mewah itu.
Ia memilih untuk kembali ke tempat vila yang telah dirinya sewa dari keluarga Wili.
*
*
*
Sementara , sepulangnya Renata dari cafe ia terlihat begitu bimbang dan cemas dengan perasaannya sendiri.
Disatu sisi, dirinya sangat ingin membantu Surya untuk dapat kembali lagi pada Novi. tapi tak dapat dipungkiri, perasaan kakaknya juga menjadi prioritas dirinya saat ini.
"Tuhan!, setelah hatiku yang kau patahkan. Aku tak ingin kakak ku pun merasakan hal yang sama sepertiku !" gerutu Renata dalam mobil, dengan menyandarkan kepalanya dengan mengangkat satu tangan menutupi wajahnya.
"Baiknya aku pulang saja!"
"Aku tidak ingin balik kekantor lagi !"
"Kepalaku rasanya ingin pecah saat ini"
Renata terus menggerutu sepanjang jalan, saat ia tiba dirumah rupanya Sando juga tengah berada disana.
Kedua kakak beradik ini sangat terlihat bingung dengan perasaannya masing-masing.
"Dari mana kamu"
"Kenapa pulang"
"Kenapa nggak balik kekantor!"
Renata yang baru saja menginjakkan sebelah kakinya di atas lantai mendapat pertanyaan bertubi-tubi dan tiada henti disana.
"Bisakah aku masuk dulu"
"Aku capek kak!" timpalnya kesal.
Dia buru-buru menghempaskan seluruh tubuhnya ke arah sofa berwarna keabuan diruang tamu.
"Cepat ganti bajumu!"
"Jangan seperti anak kecil" umpat Sando.
Ia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika mendapati Sando yang selalu menganggapnya kecil.
"Jika tidak ada adik kecilmu ini, mungkin dirimu takkan pernah merasakan jatuh cinta bukan?!"
"Kak ..."
"Jujurlah padaku, kalau dirimu sebenarnya mencintai dirinya bukan!"
"Aku bisa membedakan rasa cinta ataupun sekedar rasa kagum, tapi saat ini begitu jelas terpancar diwajahmu jika itu adalah perasaan cinta"
Renata mencoba memberikan respon kepada kakaknya yang tengah bimbang dengan perasaannya sendiri.
Sando lalu berdiri dan melipat ke dua tangannya sambil terlihat berpikir keras. Dia hanya mengusap lembut dagunya berulang kali disana dengan berjalan berputar-putar sepanjang ruangan.
__ADS_1
Entah secara kebetulan atau hanya memang ketidaksengajaan, ketiganya kali ini terlihat kompak untuk pulang ke rumah.
Dari kejauhan, suara Roy melengking memecahkan keheningan diantara kedua anaknya.
"Ada apa ini?!"
"Hari masih siang, tapi kalian berdua sudah berada dirumah seperti ini "
"Bagaimana nasib perusahaan kita nantinya kalau papa tiada!" ujarnya sambil tertawa dan mulai duduk didekat putrinya.
"Pa ..." sela Renata dengan tatapan kesal.
"Hahah iya, maafkan papa. Hanya bercanda!" pungkas Roy dengan cepat memberikan klarifikasi secepatnya atas ucapan yang ia keluarkan.
Renata selalu marah jika Roy dengan entengnya membicarakan kematian dihadapannya, karena bagi dirinya ia sangat ingin menghabiskan sisa hidupnya itu dengan papanya seorang.
"Baiklah, ada apa ini kalian terlihat tegang sekali" ujar Roy .
Lelaki itu tampak penasaran dengan topik yang tengah mereka berdua bahas saat ini, sementara Sando yang sedari tadi berpikir kritis menghentikan laju langkah kakinya setelah mendengar ucapan papanya.
Seperti biasa, Sando hanya menginginkan privasi untuk dirinya sendiri tanpa harus ada gangguan. Ia yang belum sempat melayangkan pernyataan apapun, dengan segera masuk kedalam kamarnya dan mengunci dirinya didalam.
"Lihatlah kakakmu itu!"
"Dia jauh lebih kecil dari pada dirimu" protes Roy dengan sikap Sando yang anti untuk mengutarakan isi hatinya pada dirinya.
"Kakak memang keras kepala!"
"Apa bedanya denganmu!" sela Roy .
"Papa ...!" Renata kembali menggerutu disana.
"Apa papa tau, putra papa itu tengah jatuh cinta pada seorang wanita!"
"Oh yah!"
"Sangat bagus!" seru Roy dengan seringai bahagia.
"Tapi tunggu!, jika kamu mengatakan seorang wanita ..."
"Apa itu berarti kakakmu sedang jatuh cinta pada wanita yang sudah lebih tua darinya ?"
"Atau janda?!" Roy mencoba menerka-nerka semua cerita Renata.
"Bagaimana papa bisa tau semudah itu, bahkan aku belum sempat bercerita tentang mbak Novi padanya!" gumam Renata dengan menatap wajah papanya kebingungan.
"Biarkan kakak saja yang ceritakan hal ini nantinya pada papa, Renata takut salah"
pungkas Renata, ia tak ingin mencampuri persoalan antara bapak dan anak itu.
*
*
*
Lain halnya dengan Juna, sejak kelahiran putranya kali ini dirinya tengah di ujung rasa kebimbangan. Bagaimana tidak, istri yang begitu ia cintai tak kunjung sadarkan diri dari koma.
Bahkan semua alat bantu medis yang tertancap disana takkan pernah memberikan jaminan bagi Pricilia untuk hidup kembali.
Juna yang sementara ini terpaksa menjadi orang tua tunggal bagi putranya, hanya bisa terus menatap wajah sang istri dari arah luar ruangan Pricilia.
__ADS_1
Dari sebuah kaca yang memiliki ukuran sedang, dirinya hanya dapat mengusap wajah istrinya dari kejauhan. Raga mereka tak lagi berdekatan, tapi Juna selalu meyakini jika hati mereka tetaplah satu apapun keadaannya.
"Pak Juna!"
"Permisi"
"Pak!" suara seorang perawat tengah memanggil dirinya berulang kali dengan memekik tepat disampingnya.
"Ah, sus!"
"Yah ada apa?" sahutnya dengan segera mengusap air matanya yang tengah berlinang dipipinya.
"Dokter Frans menunggu anda diruanganya pak" jelas suster.
Tanpa berlama-lama ia pun segera menjumpai dokter Frans didalam ruangan saat itu juga.
"Selamat sore pak Juna !"
"Mari ... mari, silahkan duduk" sapa Frans dengan ramah.
Frans Aliandro adalah dokter yang menangani kondisi Pricilia saat ini. Dia juga termasuk dokter muda spesialis yang memiliki banyak karir cemerlang selama dirinya bergabung dirumah sakit itu.
"Saya ingin menyampaikan tentang perkembangan terbaru istri anda pak" ujarnya.
lelaki yang memiliki usia masih cukup muda dibandingkan dirinya itu kemudian melepas kaca matanya dan mulai terlihat berbicara lebih serius lagi.
"Sejauh ini, tubuh Bu Pricilia tidak merespon apapun pak!"
"Bahkan semua obat yang kami berikan juga tidak menunjukkan perubahan yang signifikan pada kondisinya"
"Kemarin, tubuhnya menolak semua obat-obatan itu disana. Masih dengan kondisi koma, ia membutuhkan seluruh isi yang ada didalam perutnya."
Penjelasannya terhenti beberapa detik saja dengan mengambil nafas panjang dan menghembuskanya dengan kasar.
"Saya harap dengan adanya penjelasan ini, pak Juna tidak memiliki sebuah angan yang tinggi. Ataupun ekspetasi berlebihan pada istri Anda. Saya takut, semua itu akan menyiksa anda lebih jauh lagi" jelasnya dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Baiklah dok, saya akan coba itu!" ucap Juna yang memilih pasrah saat ini.
Dia telah menunjuk beberapa dokter terbaik saat ini untuk menangani Pricilia. Termasuk juga dengan Frans, dia adalah salah satu dokter terbaik dirumah sakit itu.
Dan apapun yang dikatakan oleh dirinya, tak dapat diragukan oleh Juna lagi. karena mungkin hasil yang ia sampaikan pada dirinya malam ini juga, hasil berembuk dengan tim dokter lainnya.
Bersambung ♥️
...----------------...
*
*
*
...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥...
Cinta tak bisa dipaksa dimana dia akan berlabuh. Seperti yang dirasakan gadis manis yang terkadang ikut bekerja bersama ibunya dirumah besar keluarga terpandang.
Hingga suatu hari majikan dari ibunya datang menemuinya dan mengatakan hal yang membuatnya terkejut.
"Menikahlah denganku dan lahirkan anak untukku"
__ADS_1
Sepenggal kalimat yang membuat hidup Ayra tidak sama lagi sejak hari itu.