Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Ku pegang tanganmu


__ADS_3

Sementara saat itu, Surya yang tengah keluar dari kantor polisi telah bersiap untuk pulang. Kedatangannya kali ini, untuk menandatangani beberapa berkas perkara milik adiknya Juna.


"Anak itu!" matanya terperangkap oleh kedatangan Wili di kantor polisi.


Akhirnya Surya pun mengurungkan niatnya untuk melenggangkan mobilnya dari sana, dan berjalan sesegera mungkin untuk mengikuti langkah kaki Wili memasuki kantor polisi.


"Pak, saya mau besuk saudari Citra" pintanya.


"Baik pak, tapi sementara ini Bu Citra tengah berada dalam pengawasan dokter jadi saya harap anda tidak akan memancing emosinya kali ini. Karena itu dapat membahayakan nyawa anda."


Tanpa pikir panjang, Wili pun menyetujui syarat polisi tersebut.


Jarak Surya dengan mereka hanyalah beberapa langkah saja dari balik pintu, ia pun dapat mendengar sempurna pembicaraan Wili.


"Siapa pak yang datang," tanyanya lemah dan kedua tangannya masih terlihat diborgol sempurna melingkar.


"Saudara ibu"


Citra yang sedang dibawah pengaruh obat penenang, suasana hatinya pun dapat terkendali dengan baik saat ini.


"Kamu!" serunya kesal menatap wajah Wili.


Tanpa banyak kata, Wili menyambut Citra dengan senyuman.


"Hai mbak apa kabar!" tegas Wili.


"Kamuuuu," kali ini mulutnya kembali meracau tak jelas dan tangannya terlihat mengepal begitu merah disana.


"Silahkan duduk Bu Citra" tutur seorang polisi perempuan.


Citra yang hanya mengenakan sendal jepit dan setelan baju orange khas seorang napi, berjalan begitu perlahan. Matanya meruncing, seperti tengah mengincar sesuatu yang sudah lama ia tunggu-tunggu kali ini.


Kali ini, ia pun berjalan memutar ke arah belakang punggung Wili dengan pasti. Dia yang tak lagi dihadapan Wili, dengan cepat mengarahkan ke dua tanganya yang tengah diborgol untuk menjerat leher pria muda tersebut.


"Akkkkh, uhuuk!. Tolong lepasin saya mbak, buk tolongin saya buk!!" seru Wili meminta bantuan pada polisi jaga.


"Bu Citra, saya mohon lepaskan saudara ini atau anda akan saya paksa masuk secara kasar!!" polisi wanita itu terlihat sedikit menahan tubuh Citra.


"Hahah, mati kau Wili. Takkan aku biarkan dirimu bisa hidup lagi didunia ini dengan bebas!!" omel Citra sambil tertawa licik.


"Sudah bu, cukup hentikan!!"


Tak berapa lama kemudian, salah seorang polisi datang untuk membantu melepaskan jeratan leher Wili dari tangan Citra. Akhirnya keduanya pun bisa telerai dengan baik.


"Gila benar wanita ini. Entah kapan ia akan bisa berubah lebih baik lagi !" ucap Wili sambil memegangi lehernya yang hampir saja terputus.


Citra hanya tertawa lebar ketika dirinya merasa puas menyiksa Wili disana.


"Jangan senang dulu mbak!, dipersidangan ke dua nanti saya akan berikan kesaksian yang bakal menjeratmu jauh lebih lama dari pada ini. Saya akan pastikan itu, semua orang berhak tau tentang kebusukan mu terhadap mbak Novi kali ini !" tutur Wili.


Sedangkan Citra yang tengah dituntun oleh seorang polisi wanita, hanya melayangkan sebuah tatapan maut ke arah pria tersebut.

__ADS_1


"Citra, rencana busuk dan dia Wili ?!. Ada apa sebenarnya semua ini" ujar Surya dalam kesendirian.


Wili yang sudah puas menjenguk Citra dipenjara akhirnya memutuskan untuk berbelanja ke sebuah minimarket kembali untuk dikirimkan kepada Novi dan Malika.


Tak sampai disitu, kali ini niat Surya untuk menelisik lebih jauh lagi tentang siapa diri Wili sudah semakin dekat.


"Dia mengambil susu ibu hamil?," ucapnya lirih sambil terus mengikuti Wili disana.


Kali ini, masih sama seperti biasa. Wili selalu mengandalkan kurir langganannya untuk mengirimkan semua barang itu ke rumah Novi.


Mobil Surya terlihat mengendap-endap dengan sempurna mengikuti mobil box tersebut.


"Rumah Novi?, sebenarnya ada apa ini. Siapa yang tengah hamil, dan apa sebenarnya hubungan Novi dan pria ini" hatinya semakin rumit dengan segudang pertanyaan yang berkecamuk.


"Pah!" sapa Malika dengan memegang tangannya.


Surya yang hendak menghampiri Novi didalam rumah, langkahnya sekarang terhenti dengan kehadiran Malika.


Tak dapat dipungkiri, perasaan rindu dengan putri kecilnya itupun begitu besar selama ini ia tutup rapat didasar jiwa.


"Papa jemput kita yah!" tanya Malika polos dalam gendongan Surya.


"Enggak sayang," jawab Surya dengan tegas, ia tak ingin memberikan harapan palsu kali ini pada putrinya.


Mata kecil itu berbinar-binar tengah menyeka sebuah air mata yang hendak menetes ke pipi merahnya.


"Maafkan papa ya nak!" ucap Surya lirih sambil menciumi wajah kecilnya.


"Mas" sambut Novi lirih.


Keduanya terlihat cukup canggung kali ini, karena Surya yang sedari tadi sudah sangat penasaran dengan semua hal yang menghantui pikirannya, dengan cepat ia pun menanyakan persoalan itu pada Novi.


"Kamu hamil!" tanyanya sambil terus menatap perut Novi.


Novi yang terkejut mendengar pertanyaan Surya disana. Dengan terbata-bata ia lalu mencoba menjawab dengan segenap keberanian dirinya.


"Yah, aku hamil"


"Anak Wili?"


Sejenak Novi menghela nafasnya dalam-dalam dengan kuat.


"Kamu mengenalnya!"


"Tidak!, cepat jawab aku"


Ditengah pembicaraan dirinya dengan mantan suaminya itupun, terlihat Malika yang seperti kebingungan menatap mereka.


"Sayang, tolong masuk kamar dulu dan ganti bajunya yah" perintah Novi.


"Iyah mah"

__ADS_1


"Tolong jangan berkelit lagi, itu anak pria itu kan?!" kali ini Surya menarik tangan Novi dengan kasar.


"Akh!, kamu tau dari mana mas?" timpal Novi yang sedikit merintih kesakitan.


"Dia yang membeli ini semua buat kamu, jadi wajar saja jika anak itu mungkin juga anaknya!".


"Yah, dia memang ayah dari anak ini" tegas Novi sambil mengusap perutnya.


Kali ini, Surya yang kehilangan kesadaran lalu menampar Novi dengan begitu kuat saat itu. Dia tidak sadar, jika dirinya kali ini sudah tidak memiliki hak apapun atas dirinya.


"Mas!, akh" jerit Novi yang tersungkur ke lantai sambil meremas perutnya yang tengah dilanda rasa sakit begitu hebat.


Tetapi Surya lebih memilih meninggalkanya begitu saja.


"Tolongin aku mas!!" teriaknya sambil terus menahan rasa sakit itu dengan menekan kuat perutnya. Tak terasa, darahpun mengalir deras dibalik rok bewarna dongker tersebut.


Wili yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran mereka dari kejauhan, dengan sigap menghampiri Novi dan melayangkan sebuah pukulan telak ke wajah Surya saat itu.


"Brengsek!"


Bagh ... Bugh ...!!!


"Kau memang bukan lelaki baik untuk Novi," maki Wili dan terung menghajar Surya tanpa ampun.


"Hentikannnn!, tolong aku. Akh!"


"Mamaa ..." Malika menangis sejadi-jadinya ketika melihat Novi berdarah-darah dilantai.


"Papa... tolong bantu mama!" ia masih saja terus menangis.


Disaat Wili mendengar tangisan Malika, ia pun segera ke arah mereka dan membawa wanita tersebut dengan cepat ke rumah sakit.


"Tenang ya sayang, om akan antarkan mama dengan cepat" bujuk Wili pada Malika.


...****************...


Happy reading guys🤗


ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️


✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor


✓Ditunggu like dan fav buat othor ya


✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️


*


*


*

__ADS_1


...💐Abis baca komen dong💐...


__ADS_2