
"Aku akan membesuknya hari ini juga!" seru Novi.
"Kalau tidak keberatan, sekalian bareng sama saya saja bagaimana. Kebetulan satu arah juga mbak" pungkas Renata memberikan tebengan gratis.
Tanpa berlama-lama, ia pun mengajak sang putri untuk segera ikut dengan Renata saat itu juga. Jarak yang mereka tempuh waktu itu cukup lumayan lama, sekitar satu jam lamanya mereka baru bisa tiba ditempat Citra.
Sepanjang perjalanan, keduanya masih terlihat kaku dan enggan berbicara terlebih dahulu.
"Kita sampai" ujar Renata pada Novi dan Malika.
"Kantor polisi ?" Malika mengeja tempat itu dengan baik.
"Kita masuk yuk sayang, kita jenguk tante Citra didalam" ajak Novi .
"Saya ikut ya mbak" pinta Renata dengan wajah memelas dan Novi mengiyakan permintaan itu dengan anggukan lirih.
Novi tidak mungkin menolak permintaan Renata yang sebentar lagi juga akan menjadi kakak ipar dari Juna itu. Setidaknya, Novi dapat membantunya untuk mengenalkan lebih jauh lagi keluarga Surya padanya.
Setelah mereka semua didalam, Citra pun dikeluarkan untuk menjumpai mereka semua. Dengan baju orange, bertuliskan nomor 301 dirinya biasa disebut dengan tahanan 301 oleh semua penjaga rutan disana.
"Citra ..." Novi berdiri sambil menatapi wajah suram Citra.
Respon Novi yang sangat terkejut tetap saja tidak dihiraukan oleh dirinya. Dengan wajah kaku dan datarnya, ia perlahan duduk di bangku panjang coklat disana.
"Hei, ini mbak ..." ujar Novi kembali sambil memegang tangan Citra.
Sejenak, wajah Citra yang lesu memandangi wajah Novi dengan mendetail.
"Apa dia baik?" tanya Renata.
"Saat pertemuan kami yang terakhir kali kemarin, dia masih baik-baik saja. Entah kenapa dia menjadi seperti ini" jelas Novi yang tak melepaskan pandangannya.
"Tante, ini Malika ..." celetuk Malika dengan senyum lebar.
Citra tetap saja menatapnya dengan pandangan kosong.
"Ini mbak Novi Citra ... apa kamu ingat?!" tegas Novi lirih dan lembut.
"Novi"
"Novi ..."
"Mbak Novi, hahahaha" ujar Citra histeris sambil mengusap kepalanya berulang kali.
Novi dan Renata saling bertatapan penuh dengan tanya. Sementara Renata hanya menaikkan ke dua pundaknya dengan ekspresi bingung.
__ADS_1
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Novi kembali.
"Wili, Wili ... ini semua karena kamu dan diaa !!!" jelas Citra lebih beringas lagi, urat wajahnya terlihat sangat jelas kala itu.
Karena hampir semua tenaganya dikeluarkan oleh dirinya saat bertemu dengan Novi .
"Tenang bu Citra tenang ... " seru seorang penjaga.
"Ibu, saya mohon maaf jam kunjungan besuk kali ini sementara disudahi dulu karena kondisi ibu Citra tidak memungkinkan saat ini untuk dibesuk." jelas penjaga itu kembali.
"Baiklah, terimakasih" pungkasnya.
Sedangkan di sisi bangku coklat lainnya, wajah Malika tengah ketakutan memeluk erat tubuh Renata disana akibat ulah Citra yang sulit dikendalikan.
"Mama ..." panggilannya lirih.
"Sini saynag, mama nggak papa. Jangan khawatir" tegas Novi menerangkan padanya.
Dengan perasaan yang pilu, Novi melangkahkan kakinya dari sana untuk meninggalkan Citra ditempat itu. Ia yang sangat sedih melihat kondisi adik iparnya tersebut tak mampu berbuat apapun disana.
"Mari saya antar pulang mbak" pinta Renata kembali.
"Tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan anda lebih jauh lagi" tegas Novi menolaknya.
Aku tidak mungkin bisa menyaingi wanita sepertinya dihati Surya, terlalu sempurna untuk ku tandingi dirinya. gumam Renata yang tengah melamun sambil memperhatikan langkah Novi dan Malika.
Mereka berdua pun memutuskan untuk kembali pulang dengan menggunakan angkutan umum, Novi memanglah wanita yang sangat tangguh dan tidak manja sedikitpun.
Meski dulu hidupnya bergelimang harta dan kemewahan, dan tak jarang juga dia dimanjakan dengan berbagai fasilitas tak membuat ia untuk merasa enggan ataupun tak segan menaiki kendaraan umum seperti angkot.
"Terimakasih pak!" seru Novi yang kali ini turun di ujung gang rumahnya.
Dia pun mengajak putrinya untuk berjalan menuju rumah, ketika ia berjalan dari kejauhan matanya menjumpai mobil Surya sudah terparkir tepat didepan rumahnya kali ini.
"Ma, papa mah papa ..." suara Malika begitu bahagia.
Gadis kecil itu lalu berlarian menghampiri Surya yang sudah menunggu kedatangan mereka diteras.
"Hai sayang," ucap Surya dengan binar mata dan perasaan yang sama ketika awal bertemu dengan Malika dulu.
Ia tengah menggendong sebuah boneka beruang besar berwarna pink yang akan diberikan untuk Malika .
"Ini buat anak cantiknya papa" jelas Surya bahagia.
"Terimakasih pa , boneka ini akan Malika peluk terus dikamar. Saat Malika rindu papa, Malika akan ciumi boneka cantik ini" ujar Malika .
__ADS_1
"Boleh sayang" Surya menundukkan tubuhnya dan sejajar oleh Malika sambil mengusap rambut lebat Malika .
Novi yang menyaksikan rasa sayang anaknya begitu besar kepada Surya sangat tak sanggup melihatnya lebih lama lagi. Malika pun berlalu membawa boneka itu masuk kedalam kamarnya.
"Apa masih ada hal lain, yang membuat kamu berdiri disini lebih lama lagi?" tanya Novi sambil menahan rasa sedih di dadanya.
"Iya, aku ingin sampaikan sesuatu sama kamu" jelas Surya memohon.
"Apa kamu masih ingin membahas hal yang sama seperti kemarin . Jika iya, aku tetap menjawabnya tidak!. Lagi pula, mama telah menyiapkan seorang wanita karir yang cantik dan pintar seperti Renata bukan?. Dia terlihat cocok denganmu." pungkas Novi sambil berlalu meninggalkan Surya.
"Tunggu, aku mohon" tangan Surya meraih tangan Novi sambil menatap sedih ke wajah Novi .
"Apa lagi mas," suaranya sudah gemetar dan tak ingin memandang wajah Surya disana lagi.
"Jika aku menyetujui perjodohan itu, maka hari ini aku tidak akan pernah kesini lagi kamu paham itu. Aku masih tetap menyayangi kalian berdua" jelas Surya sambil menitihkan air mata.
"Semua penyesalan itu sudah terlambat mas!" seru Novi kesal.
"Belum, semua belum terlambat kan. Aku masih sendiri, dan sampai saat ini kamu juga tengah sendiri. Kita masih bisa kembali" seru Surya memohon berulang kali.
"Lepaskan tanganmu , dan berbahagialah dengan Renata sekarang. Aku tidak lebih baik darinya mas. Cukup!" ucap Novi .
Wanita itu, kali ini sudah tidak bisa membendung lagi semua air matanya yang telah tersimpan sejak lama untuk Surya. Baginya, bukan tidak mungkin dirinya akan rapuh kembali ketika harus berjumpa setiap saat lagi dengan Surya disana.
Sementara Surya , tidak melepaskan sedikit pun genggaman tangannya disana. Ia berharap usahanya kali ini akan berhasil membawa pergi Novi dari rumah itu dan kembali bersamanya.
"Pergilah mas!" Novi menghentakkan tangannya dan terlepas dari tangan Surya .
Pintu rumahnya pun ditutup dengan tiba-tiba olehnya.
"Ma, kenapa papa dibiarin sendiri didepan ma!" tanya Malika dengan berderai air mata.
"Ma ...!!"
"Papa ... ayo masuk sini pa!"
"Papa ...!" teriak Malika dibalik pintu rumah dengan menggedor-gedor pintu kayu tersebut dengan kecang.
Sementara Novi, terus menarik tubuh gadis kecil yang tengah memberontak untuk bertemu dengan papanya disana .
...----------------...
Bersambung ❤️
⚜️Happy reading yah, jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar yah😘.
__ADS_1