
Setibanya dirumah, Surya yang hendak masuk kedalam rumah tengah menjumpai mamanya tengah berdebat sengit dengan Juna dimeja makan.
"Dia tidak bersalah ma!" ucap Juna.
"Mama bilang cukup Juna. Cukup!"
"Tidak ma, Juna akan membantu Citra kali ini."
"Sebelum kamu pergi membelanya, langkahi dulu mayat mamamu ini !!" ancaman mama Sinta kali ini menyudutkan Juna telak.
"Kali ini, Juna tidak akan gentar dengan ucapan mama. Orang yang tidak bersalah, berhak mendapatkan kesempatan kedua ma!. Mungkin memang kita tidak pernah cocok, tapi dia masih istri sah Juna!"
Juna yang tidak mengetahui segalanya, masih menganggap Citra sebagai istrinya.
"Jangan mimpi kamu!, kalian sudah bercerai semenjak kamu masih koma. Mama sudah mengatur segala sesuatunya dengan cepat. Tak perlu kamu talak ataupun datang ke persidangan perceraian, akta cerai kalian pun sudah telah dibuat!" jelas mama tanpa rasa berdosa.
"Sejak kapan mama berubah seperti ini !, ini bukan diri mama. Mama yang Juna kenal tak seperti ini dulu, mama selalu penuh kehangatan. Bukannya selalu mendukung setiap perbuatan anaknya yang telah salah memilih jalan seperti ini mah!" bentak Juna histeris.
Perdebatan itupun harus berakhir ketika Surya dengan santai melintas dihadapan mereka berdua.
"Berhenti kamu!" sambut mama pada Surya yang ingin menaikkan kakinya ke arah anak tangga.
"Yah ma!" dirinya tak menoleh sedikitpun dan tak bergeming dari arah tangga.
"Kamu sudah setuju dengan permintaan mama kan?!" tanya mama sambil melirik ke arah Juna yang hari ini menentang habis-habisan dirinya.
Juna terlihat bingung sambil memandangi kakaknya yang berdiri membelakanginya.
"Hm" sahut Surya tak jelas.
"Besuk temui Rere, kamu masih ingat gadis itu bukan. Kini Renata sudah pulang setelah menyelesaikan studinya di amerika." jelas mama sambil meneruskan mengupas sebuah apel.
"Bukankah kita sudah sepakat ma, kalau ..." ucapanya harus terhenti karena di cela dengan mama Sinta begitu cepat.
"Tidak ada penolakan kali ini. Mama mohon!" perintah mama.
Tanpa memberikan jawaban yang pasti, ia pun terus berjalan ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.
"Tolong ma, hentikan semua kekacauan ini. Kasihan mas Surya, jangan pernah paksakan kehendak mama pada kamu dengan egois!!" protes Juna keras dan pergi begitu saja.
*
*
*
__ADS_1
Sementara disebuah rumah yang tak begitu luas ukurannya, Pricilia yang baru saja melakukan pemeriksaan rutin kandungannya tengah menatap bahagia kertas hasil usg miliknya.
Hai sayang, tumbuhlah dengan sehat ya nak. Mama akan selalu menjagamu dengan baik disini. gumamnya sambil tersenyum memandangi foto tersebut.
"Mbak Pricil," sapa ibu Santi pemilik rumah yang kini disewa oleh Pricilia.
"Ah ibu, iya bu."
"Saya mau ambil uang sewa untuk bulan ini mbak," mata ibu Santi terus tertuju pada hasil usg yang berada dimeja teras miliknya.
Pricillia lalu masuk kedalam kamarnya dan mengambil sebuah dompet coklat kecil miliknya. Sambil berjalan, ia pun terlihat membuka dompet itu dan tengah menghitung sejumlah uang disana.
Saat itu, Pricilia yang mengenakan sebuah baju tank top yang cukup ketat dan celana pendek bermotif bunga mengundang tanya bagi ibu Santi.
"Maaf mbak Pricil, apa mbak tengah hamil?" ibu Santi terus memandangi perut Pricilia yang kali ini sedikit menjulang ke depan.
Sangat berbeda dengan hari biasanya, perut Pricilia tetap terlihat datar meski memakai baju minimalis sekalipun.
"Akh, bukan bu. Saya mana mungkin hamil" tutup Pricilia mencoba mengelak.
"Syukurlah kalau begitu, karena dikomplek ini paling anti dengan Pelakor mbak!. Diih ngeri saya tuh, jangan sampai mbak Pricilia salah jalan ya. Yang ada nanti saya didemo orang sekomplek mati-matian mbak!" tegas bu Santi yang merasa jijik jika menyebut nama pelakor.
Tak lama kemudian, Santi pun meninggalkan gadis tersebut dengan secepat mungkin.
🖤
Santi yang tengah tergesa-gesa pergi dari rumah Pricilia telah diberhentikan oleh segerombolan ibu-ibu komplek yang tengah asyik berbelanja ditukang sayur.
"Mbak Santi, buru-buru aja mampir sini" sapa mamang sayur langganan komplek tersebut.
"Eh, mas Pri. Bawa jengkol nggak kali ini?" sahutnya cepat.
"Duh, nggak ada tuh mbak. Habis dikomplek sebelah!"
"Jeng, abis nagih uang kontrakan yah!" celetuk Bu Vivi warga sekitar.
"Iya nih, duh saya mah ngeri pisan..." jelas Santi mengundang sejuta pertanyaan dibenak ibu-ibu tukang gosip recehan itu.
"Eh, ada apa ni bu. Kok kayaknya serem begitu sih!" ujar beberapa ibu-ibu lainnya.
Akhirnya tanpa ragu, Santi pun menceritakan apa yang tengah ia lihat ketika menagih uang sewa pada Pricilia dengan gamblang dan tanpa sumber yang jelas.
"Astaga ... perempuan kayak begitu si jangan dikasih hati dong jeng!. usir gih, gimana coba kalau laki kita juga diembat dengan dia" ujar Vivi dengan wajah najisnya.
"Iya betul tuh, usir aja gih buuu. Meresahkan tau nggak!" prostes keras dari warga lain.
__ADS_1
"Sudah tenang, tenang ibu-ibu. Selama belum ada bukti yang kuat, kita tidak boleh loh sembarangan menuduh orang begitu. Kalau soal usir mengusir, kan kasihan itu anak bu. Mending kalau iya salah, kalau ternyata nggak salah dan nggak sesuai dengan tuduhan ibu-ibu gimana. Yang ada nanti kita ganti dilaporin balik sama neng Pricil." jelas mang Pri.
"Nah begini ni, laki yang kudu diwaspadai ibu-ibu. Bukanya takut ada pelakor, dia mah ayo-ayo saja. Saya si nggak sudi kan kalau laki sampai kecantol sama pelakor!" Vivi terlihat memantik sebuah api pertikaian.
"Duh, saya salah lagi. Maksud saya kan baik bu-ibuu ..."
Tidak berselang lama, Pricilia yang tengah mendapati suara mang Pri dengan cepat menghampiri dan ikut berbelanja disana. Diluar dugaannya, semua ibu-ibu yang tadinya tengah asyik berbelanja pergi berhamburan meninggalkan barang belanjaannya.
"Loh, loh ... ibu-ibu!!, gimana ini belanjaannya belum dibayar semua. Aduh Gusti saya rugi ini." tutur Pri dengan melas.
"Mang Pri, kenapa?" tanya Pricilia dengan nada lemah.
"Eh mbak Pricil, itu ibu-ibu pada belum bayar ini semua!" terang mang Pri kikuk.
Pricillia yang menyadari tatapan sinis para ibu-ibu yang sedang berbelanja tadi, hatinya tersayat bagai sembilu. Tadinya, dia selalu berbaur dengan warga komplek sekitar saat tengah memilih sayuran dilapak mang Pri. Tapi kali ini, mereka semua pergi ketika melihat kehadirannya disana.
"Pricil beli ini ya mang!"
"Totalnya 120 ribu ya mbak," ucap mang Pri yang tengah mengemas belanjaan Pricilia disana.
"Loh mbak, uangnya kelebihan banyak nih!" tegasnya.
"Enggak kok mang, ambil aja sisanya. Pricil minta maaf ya mang!" ujarnya sambil meninggalkan pedagang sayur itu.
"Baik sekali mbak Pricil itu, saya tidak percaya jika dia sampai menjadi pelakor. Duh Gusti, hidup itu juga berat meskipun berhamburan uang yah!" ucap mang Pri sambil mengibaskan topinya ke atas dagangannya.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️
*
*
*
...💐Abis baca komen dong💐...
__ADS_1