
Saat si mbok menuruni tangga tidak sengaja berpapasan dengan Citra disana, dirinya pun hanya melemparkan senyuman pada wanita tersebut sambil tersirat tanya pada ulah Citra hari ini.
Sementara Citra tak menggubris keberadaan si mbok dan hanya berlalu menaiki tangga dengan angkuhnya.
"Tante, dimana om Juna" ucap Malika dari kamar mama Sinta yang tengah mencari keberadaan Juna.
Citra pun menoleh ke arah Malika yang sudah berdiri sejak tadi di ujung kamar itu, tapi bukanya ia menyauti ucapan Malika dirinya lebih memilih pergi dan membuang muka pada gadis kecil itu.
Dirinya pun terus melangkahkan kakinya sampai memasuki pintu kamar. Ia mendapati Juna tengah asyik menatap layar laptop miliknya, dan seakan berpura-pura tak tau dengan kehadiran Citra disana. Citra pun membalas perbuatan Juna saat itu, dengan menghentakkan tubuhnya diatas ranjang ia mengambil ponsel miliknya.
Rupanya sudah ada beberapa pesan yang sudah menunggunya sejak tadi pagi. Terlihat beberapa pesan dari beberapa temanya begitu juga Ariel. Tanpa menghiraukan pesan lainnya, jarinya pun bergulir untuk membuka pesan Ariel terlebih dahulu.
^^^"Hai mbak, apa kabar. Semoga mbak Citra selalu dalam keadaan baik-baik saja saat ini." isi pesan singkat Ariel .^^^
Ia hanya tersenyum kecil saat mendapati pesan terebut, pasalnya ia mulai tertarik pada lelaki tersebut saat ini. Bagaimana tidak, semenjak pertengkaran dirinya dengan Juna sudah lama mereka berdua tidak bercengkrama dengan baik. Ke duanya terlihat saling kekeh dalam mempertahankan egonya masing-masing.
Perempuan mana yang tak butuh sebuah perhatian dari pasangannya, begitu pun dengan Citra ia lebih memilih untuk mencari kenyamanan diluar sana. Tanpa memperdulikan perasaan Juna lagi, dirinya pun membalas pesan Ariel dengan cepat.
" Baik. Kamu besuk ada waktu nggak?, ketemu dicafe kamu ya." ujar Citra membalas pesan Ariel.
❤️
Jam pun begitu cepat berlalu dari malam ke pagi hari, masih tetap dengan suasana yang sama dan tak beranjak untuk membaik. Sekarang Citra semakin menonjol dengan semua sikap yang dia ambil, tak lagi memusingkan dengan keberadaan orang rumah. Ia lebih melakukan hal apa yang menurutnya benar dan tidak mau menerima kritikan dari siapapun.
Kali ini sebelum meninggalkan rumah, ia pun tengah sibuk mempersiapkan susu kedelai yang harus rutin ia berikan kepada Novi setiap harinya. Dengan senyum kepalsuan ia berjalan ke arah Novi yang tengah menata makanan dimeja makan.
"Mbak, sudah aku siapin ini untuk kamu. Dihabiskan yah" ia bicara sambil mengerlingkan matanya.
__ADS_1
"Makasih ya Cit, repot-repot kamu siapkan ini" ujar Novi menyauti ucapan Citra.
Sementara mama Sinta dan Juna hanya memandangi gelas tersebut sambil bertanya-tanya pada sikap lembut Citra pagi ini. Mereka yang baru mengetahui perubahan sikap Citra ini hanya memilih untuk diam tanpa berkomentar.
"Hai sayang, kemarin cari om Juna kan. Nah ini orangnya" Citra melanjutkan sandiwaranya dengan begitu baik dihadapan semua orang.
Malika yang menyadari sikap Citra yang begitu jauh berbeda hanya bersembunyi dibalik badan Surya saat itu. Anak kecil memang tak mudah untuk ia kelabuhi, hatinya masih begitu peka dengan semua sikap asing yang meraka terima disekelilingnya.
Juna yang mendengar ucapan Citra dengan segera memanggil Malika yang sedikit ketakutan akan hadirnya Citra disisi Juna. Dengan membentangkan ke dua tanganya ia mencoba untuk memanggil Malika.
"Sini sayang, duduk sama om" ucap Juna mengajak Malika.
"Malika duduk sama papa aja disini om" sahut Malika yang mau menyahuti suara Juna dari pada Citra.
Kali ini semua terlihat duduk dikursinya masing-masing sambil menikmati sarapan pagi itu. Sementara Novi memutuskan untuk lebih meminum susu kedelai buatan Citra dari pada memakan nasi. Ditengah perjalanan ia meminum susu tersebut, dengan tidak sengaja Malika menyenggol tangan Novi dan menumpahkan seluruh isi gelas tersebut sampai kosong tak tersisa. Pecahan gelas pun berserakan dilantai, Novi yang cemas akan pecahan kaca tersebut segera bangkit dari tempat duduknya untuk membersihkannya.
Citra yang mengetahui hal itu tiba-tiba tersedak dengan mulut yang penuh berisi makanan. Ia lalu meraih gelas berisikan air putih dan cepat-cepat meminumnya.
Sialan!, gara-gara anak kecil ini rencanaku jadi berantakan hari ini. Mbak Novi gagal meminum racun itu. gumam Citra kesal pada Malika.
"Duh sayang, lain kali kalau makan duduk yang manis ya. Kasihan kan mama Novi, nggak papa mbak nanti aku belikan lagi susunya buat kamu." cecar Citra tapi bernada halus pada Malika, dan ia juga merayu Novi dengan perhatian penuh palsu.
"Iya Cit, maaf ya jadi nggak sempat mbak minum susu kamu" ucap Novi dengan nada bersalah.
Ketika Citra menghabiskan seluruh sarapannya pagi itu, ia pun dengan segera meninggalkan meja itu dan berlalu pergi. Karena hari ini Juna akan pergi ke kantor, mama Sinta pun melemparkan sebuah pertanyaan kepada putranya tersebut.
"Pagi ini Citra nggak berangkat sama kamu?" tanya mama yang masih memegang gelas susu dan meminumnya secara perlahan.
__ADS_1
"Ehm enggak ma, kami bawa mobil masing-masing" sahut Juna yang terkaget mendengar ucapan mamanya, ia tak berani menatap mata mama saat itu. Dan lebih memilih untuk melanjutkan menghabiskan gigitan roti terakhir dimulutnya.
Mama hanya menarik nafas dalam-dalam saat mendengar penjelasan Juna. Mama sudah sangat memahami isi dari perkataan Juna itu, sementara Juna juga memutuskan untuk segera pergi dan berangkat ke kantor saat itu juga.
"Mas titip kantor hari ini sama kamu ya" ujar Surya yang pagi hari ini masih belum bisa untuk masuk kantor.
"Iya mas" Juna menimpali singkat pemintaan Surya.
Karena hari ini Surya fokus mencarikan sekolah untuk putri kecilnya itu, ia berharap bisa memilihkan sekolah yang tak begitu jauh dari rumah mama Sinta. Supaya saat Novi menjemput Malika tidak terlalu jauh untuk menempuh jarak ke sekolahnya. Apalagi ditengah kondisinya yang masih hamil di usia kandungan yang masih rentan.
Mereka berdua sudah memutuskan untuk kembali ke rumah mama Sinta saat ini, mengingat kondisi Novi yang sudah berbadan dua ia tidak ingin meninggalkan istrinya sendiri dirumah saat ia bekerja. Dirinya jauh lebih tenang jika Novi berada dirumah bersama mamanya beserta anggota keluarga yang lainnya.
Keputusannya ini pun disambut baik oleh Novi tanpa bantahan sedikitpun. Ia selalu menuruti perkataan Surya jika memang itu terbaik bagi dirinya.
Sementara itu dikantor, Juna yang tengah berada diruanganya sibuk membubuhkan tanda tangan ke beberapa berkas yang dibawa oleh salah satu sekretarisnya. Posisi Juna dikantor sama pentingnya dengan Surya, mereka saling menggantikan dan mengisi saat salah satunya tak berada dikantor.
"Semuanya sudah ya pak" ucap Pricilia Ekawati wanita yang berusia 26 tahun yang menjabat sebagai sekretaris pribadi Juna dikantor.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
__ADS_1
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️