
Meraka bertiga yang telah sampai disebuah tempat makan yang terletak tak cukup jauh dari kantor, memutuskan untuk memesan beberapa menu untuk dirinya masing-masing.
"Hanya kentang?!" ucap Renata bingung.
"Iya" sahut Novi lirih.
Wanita itu terpaksa harus menghemat semua biaya pengeluaran dirinya kali ini, karena uang tabungan miliknya semakin menipis Novi tak ingin jika menghabiskan seluruhnya hanya untuk sekedar membelikan makanan enak baginya.
"Apa perlu saya pesankan yang lain untuk anda?" tanya Sando dengan tegas tapi masih dalam raut wajah yang kusut.
"Tidak pak, cukup itu saja!" tolak Novi sopan.
Kakak beradik itupun saling bertatapan satu sama lain, sedangkan Renata sungguh tidak enak hati jika sampai salah memilihkan tempat makan untuk Novi.
Setelah makanan mereka tiba, Sando nampak menikmati makanan yang telah dipesan. sementara Renata sengaja memesan dua piring untuk dirinya dan Novi .
"Nah, seperti ini !"
"Sekarang aku jadi punya teman untuk makan !"
"Bukan teman ngemil. hehehe"
Renata sengaja membagi dua makanan miliknya agar Novi tetap ikut makan disana. Ia tidak mau jika sahabat barunya itu sampai tidak ikut makan kali ini.
"Tapi ..."
"Sudah makan saja mbak Novi, nggak baik menolak makanan bukan?" sahut Sando .
"Apa mau punya saya juga?, akan saya pesankan!"
"Tidak pak, tidak perlu" tolak Novi .
Sando yang sudah terlanjur mengangkat sebelah tangannya hanya melayang di udara.
Kini ketiganya telah usai menyantap seluruh makanan itu hingga habis tak tersisa. mereka pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kantor secepat mungkin, itu memang sudah menjadi ciri khas Sando . jika ia tengah berada diluar, dirinya tak ingin berlama-lama disana dan ingin segera tiba ditempat tujuan dengan cepat.
"Re!" panggil Novi kepada Renata yang kali ini keduanya sudah cukup saling dekat.
"Iya mbak" Renata berbalik dengan mata berbinar.
"Boleh saya bertanya?"
"Tentu!" timpalnya sangat senang.
"Kenapa kamu menyudahi perjodohan itu?, apa karena saya?" ujar Novi mencoba menelisik lebih jauh tanpa adanya Sando.
Renata yang tadinya hanya berdiri, lantas mendekat pada Novi dan mengajaknya untuk duduk disebuah sofa yang ada didepan meja kerja Novi.
"Saya akan ceritakan semuanya kepada mbak Novi dengan detail"
"tentang hubungan ini"
Novi terus menyimak dengan baik setiap ucapan Renata disana.
__ADS_1
"Sampai dengan saat ini dia masih menginginkan mbak Novi kembali"
"Jujur saya tidak bisa memaksakan kehendak itu, saya hanya bisa mendukung apa yang telah menjadi keinginannya mbak"
"jika memang mbak Novi juga memiliki perasaan yang sama seperti dia, kembalilah saya tidak akan pernah merasa tersakiti oleh hal itu!"
Suara Renata terbata-bata menyampaikan hal itu pada Novi. Tapi, Renata lupa karena keduanya juga sama-sama wanita dan kali ini Novi juga mengetahui bagaimana perihnya perasaan Renata sekarang.
"Hentikan Re!, saya juga wanita!"
"Saya tahu betul bagaimana perasaan mu saat ini"
"Dan perlu kamu ingat, tak pernah terbesit keinginan didalam hati saya untuk kembali bersamanya."
"Kesadaran dia akan kesalahannya, bagi saya sudah cukup terlambat sejauh ini"
"Kita takkan mungkin pernah bersatu kembali"
Novi pun mengutarakan keinginannya dihadapan Renata, ia tidak mau jika wanita itu sampai merasa tersakiti dan tidak nyaman jika salah menilai tentang dirinya.
*
*
*
Sementara dirumah sakit, Juna tengah menunggui Pricilia untuk terbangun dari tidurnya akibat koma yang dialaminya pasca melahirkan putranya.
"Sayang, aku yakin kamu kuat!" rintih Juna dengan menggendong putranya.
"Kamu jagoan papa, cepatlah tumbuh besar sayang."
Dirinya hanya mampu memberikan kebahagiaan kecil bagi sang anak, karena Juna menyadari kebahagiaan yang begitu besar baginya adalah dekapan hangat pertama seorang ibu.
Ketika Juna tengah menggendong sang putra, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar disaku celananya. Kemudian dengan cepat ia pun menurunkan sang putra dari tangannya untuk diletakkan kembali kedalam tempat tidurnya.
"Yah Sam, ada apa!" suara Juna terdengar lirih diujung ponselnya.
"Aku sudah menemukan jalan untuk membebaskan mantan istrimu!" suara Sami Tambolon.
Dia adalah teman lama Juna yang berprofesi sebagai seorang pengacara cukup handal.
"Kau cukup memberikan keterangan pada pihak berwajib jika laporan mamamu itu tidak benar, dan atas kuasanya dirimu ditunjuk untuk mencabut semua laporan itu!"
"Akan aku buatkan surat pencabutan laporan itu untukmu hari ini juga!"
Juna yang sudah lama melimpahkan kasus ini pada Sami, mempercayai dirinya dengan baik untuk melepaskan jerat hukum sang mantan istri. Temannya itupun tak memungut biaya sedikitpun darinya untuk kasus ini, dia membantu dengan sukarela dan hati tulus.
Selang beberapa menit, seorang kurir khusus telah dikirimkan Sami untuk Juna. Kurir tersebut terlihat tengah menenteng sebuah map yang berisi surat pencabutan laporan.
"Terimakasih yah, ambil ini untukmu" ujar Juna dengan sedikit memberikan tips pada kurir tersebut.
Beruntungnya Juna, sampai saat ini dirinya masih memiliki beberapa teman baik untuk menolong dirinya dari berbagai macam persoalan kelit hidupnya.
__ADS_1
"Selamat siang pak, saya kemari ingin menyampaikan berkas ini untuk pencabutan laporan terhadap kasus saudari Citra" jelas Juna yang kali ini sudah tiba di kantor polisi.
Polisi yang memiliki kumis cukup tebal itupun, menerima map tersebut dan segera memproses permintaan Juna dengan segera. Sementara Juna yang telah menepati janjinya kepada Citra meninggalkan kantor polisi saat itu juga.
"Saudara Citra , silahkan keluar!" suara seorang penjaga lapas yang telah diutus untuk menjemput dirinya.
"Ada yang menjenguk diriku!" sahutnya malas.
"Cepatlah keluar?, dia sudah menunggumu sejak tadi !" ujar Grista dengan santainya di ujung ruangan.
Citra yang masih malas-malasan, segera berdiri dan mengikuti langkah laki-laki yang tengah berada dihadapannya itu.
"Tunggu disini, dan duduklah!" perintahnya sambil menjaga Citra dibalik punggungnya dengan posisi berdiri tegap.
"Saudari Citra," suara polisi yang memiliki kumis cukup tebal itu terdengar cukup nyaring disana.
Citra yang tengah duduk, hanya memainkan jarinya dengan malas tanpa memperdulikan dirinya.
"Hm, beruntung sekali nasibmu!"
"Masih kurang 7,5 tahun lagi masa kurungan rupanya!" gerutu polisi bintang 2 itu.
"Anda bebas tak bersyarat!"
Sepanjang perkataan lelaki itu, ia hanya terus terdiam dan mendengar kata bebas dirinya pun tersentak terkejut mendengarnya.
"Aku bebas?, benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Kamu bebas hari ini juga!, selamat" ujar polisi tersebut dan meninggalkan ruangan itu dengan cepat.
Seorang penjaga lapas yang tadi menghantarkan dirinya disana, menghampiri Citra dan mengantarkannya untuk kembali dalam sel mengambil peralatan dan perlengkapan milik Citra disana.
"Hei, ada apa ini !"
"Cepat sekali dirimu kembali?" tanya Grista penasaran.
Bersambung ♥️
...----------------...
*
*
*
...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥️...
Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan tuan muda Abelano putra tunggal tuan Basten dan nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi keluarga besar Basten. Setelah pernikahan putranya Abelano gagal karena sang kekasih lebih memilih pria lain.
Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?
__ADS_1
"apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? Simak ceritanya di
"contrac wedding 30 day's with CEO"