
"Oh, oke. Bakalan aku koreksi lagi resepnya, terimakasih buat kritik dan sarannya ya." ujar Novi yang selalu memandang segala hal dengan positif.
Tapi tidak dapat dipungkiri oleh Novi saat itu, perasaannya mengatakan ada yang berbeda pada diri Citra saat itu. Tak seperti biasanya, dia selalu suka dengan semua kue buatan dirinya. Untuk kali ini, dia sangat terlihat berbeda, kecurigaan Novi semakin menguat akan sikap Citra kepadanya. Mungkin saja memang benar adanya, jika dirumah keadaan sedang tak baik-baik saja.
"Baiklah, karena emang semua sudah selesai menikmati hidangan kali ini. Aku dan Novi pamit pulang dulu ya ma." ucap Surya memecah keheningan.
"Eh, tunggu dulu mas. Aku rapikan semua ini dulu, baru kita pulang ya." tegas Novi yang sedang berada didapur untuk mencuci semua peralatan makan saat itu.
"Mbak, sudah biar mbok aja nanti yang akan cuci dan rapikan semua ini. kata si mbok yang sedang membantu Novi merapikan piring yang berada diatas rak.
"Udah mbok, cuma beginian aja. Biarin saya aja yang beresin ya." pinta Novi.
Merasa kesal karena semua orang lebih mementingkan Novi dari pada dirinya, Citra lebih memilih meninggalkan meja makan dengan muka masam tanpa satu kata apapun. Juna hanya memandang istrinya penuh dengan kesal, seakan dirinya tidak menghargai kedatangan ke dua kakaknya itu.
"Juna, permisi ke atas dulu ya ma, mas." ucap Juna sambil segera berlalu mengejar Citra.
Cekreekkk braakkk
Suara pintu kamar Juna yang dibuka lalu dibanting saat menutupnya.
Surya yang tengah berada dimeja makan bersama mamanya saat itu, hanya terdiam sambil meminum teh bikinan Novi. Terdengar suara pertengkaran samar-samar dari arah kamar Juna dan Citra saat itu.
"Ketraluan kamu yah, kenapa si nggak bisa sedikit aja kamu bersikap baik dengan keluargaku. Hanya karena masalah sepele seperti ini, lalu kamu bebas memperlakukan mereka seperti yang kamu mau!," umpat Juna.
"Lalu, mau kamu apa!. Aku harus bersandiwara selamanya didepan mereka, aku harus berpura-pura baik kepada mereka meskipun hati aku sama sekali gak menginginkannya?," cecar Citra.
"Setidaknya sedikit saja kamu bisa berpikir secara jernih, kesalahan fatal apa yang diperbuat mama dan ke dua kakakku sampai kamu harus bertingkah seperti ini. Apa sih kurangnya mereka?, kurang baik apa mereka sama kamu dan apakah selama ini mereka selalu mojokin kamu terus menerus?, come on semua ini demi kebaikan kamu semata. Mama sama sekali tidak pernah memaksa sedikitpun. Kapan kamu bisa menyadari semua ini dengan baik." jelas Surya sambil menyadarkan bahu Citra di tembok kamar.
__ADS_1
"Cukup!, aku bukan boneka mama yang bisa diatur kapanpun sesuka hati mama!. Seperti halnya kamu dan ke dua kakakmu, yang selalu mau di atur dengan segala perintah mama. Tapi tidak denganku, diriku punya hak penuh atas semua kehendaku. Jadi jangan coba-coba merubah aku ataupun mengatur aku seperti orang lain. Kalau memang nggak suka dengan apa adanya aku, kenapa nggak bilang dari dulu. Mama sudah tau kurangku apa, dan dulu mama juga nggak pernah permasalahkan semua ini. Bahkan aku disambut manis saat datang pertama kali ke rumah ini, lantas apa bedanya dengan sekarang?. Lagian aku juga nggak punya pikiran untuk cepat-cepat punya anak sama kamu." cecar Citra penuh kekesalan.
"Tutup mulut kamu!," ucap Juna yang sudah bersiap untuk menampar Citra saat itu.
"Kenapa?, ayo tampar aku. Bukanya sekarang sudah hobi kamu buat main kasar denganku," tantang Citra sambil menyodorkan pipinya kepada Juna.
"Cukup, aku muak sama semua perkataan kamu yang menyudutkan keluargaku!." Juna keluar dari kamar dan mengambil kunci mobil miliknya.
Brakkk ...
Suara pintu yang dibanting oleh Juna.
Dia pun memutuskan untuk keluar saat itu, tanpa mengingat mama dan kakaknya yang tengah duduk dimeja ia pun berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Dia pun meminta pak Ujang untuk membukakan gerbang saat itu.
"Pak tolong buka gerbangnya, saya mau keluar." ucap Juna singkat pada pak Ujang dan segera memasuki mobilnya.
"Baik den," pak Ujang lalu berlari membuka gerbang.
Sementara, Novi dan Surya yang tengah berada dirumah saat itu lebih memilih untuk menenangkan mama Sinta. Mereka yang saat itu hendak berpamitan pada mama, mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk menemani mama. Dengan penuh perhatian, Novi yang berada didekat mama memberikan kekuatan melalui genggaman tangan yang begitu erat.
"Kita bakal disini dulu, sampai keadaan membaik ma." tegas Surya pada mama.
"Nggak perlu, kalian pulang saja. Mama nggak papa kok, lagian mama yakin Juna kali ini bisa selesaikan masalahnya dengan baik." ujar mama.
Tak lama kemudian, Citra yang keluar dari dalam kamar saat itu tengah berjalan menuruni anak tangga. Dengan mengenakan piyama merah maroon bermotif bunga putih, ia juga terlihat memacu mobilnya yang tengah terparkir diluar garasi dengan kecepatan tinggi.
Pak Ujang yang saat itu tengah menyaksikan ke dua pasangan suami istri tersebut hanya menggelengkan kepala penuh kebingungan. Entah apa yang sudah terjadi lagi, tapi pak Ujang dan si mbok selalu menyaksikan ulah mereka berdua membuat hati majikanya sedih.
__ADS_1
"Semoga kali ini baik-baik saja." harap pak Ujang.
Hatinya yang pilu saat itu, membuat Juna sedikit kebingungan untuk berpikir jernih. Dirinya yang dulu sudah meninggalkan gemerlap dunia malam, memutuskan untuk pergi menghubungi teman-temannya saat itu untuk segera meluncur bergabung dengan dirinya.
Setibanya Juna di salah satu klub malam saat itu, dengan kaki yang sedikit meragu ia berjalan masuk. Ia sadar dengan apa yang dilakukannya adalah salah, janji yang dulu pernah diucapkan pada mamanya dilanggar dirinya hari ini. Dia tak mampu menjadi anak seperti yang mamanya inginkan.
"Maafkan Juna untuk kali ini ma," sesal Juna saat menginjakkan kaki ditempat penuh kelam masa lalunya ini.
Suara musik khas klub malam saat itu sudah terdengar keras ditelinganya ketika masih berada diambang dipintu. Tubuhnya sedikit berkeringat saat mendapati tempat itu sedikit ramai, karena dia sudah sangat lama tidak lagi menginjakkan kaki ditempat itu. Sambil menundukkan kepala, ia lalu menuju ke sofa hitam panjang yang terlihat kosong. Dan salah satu pelayan, menghampiri dirinya untuk menawarkan sebuah minuman.
Dirinya yang saat itu, masih menunggu teman-temannya datang menolak untuk memesan terlebih dahulu.
"Woii, lama nggak jumpa sama anak satu ini kan?, sapa Milen dan beberapa temannya dari kejauhan.
"Apa kabar bro," sapa Antonio.
"Baik," ucap Juna sedikit canggung.
Lalu beberapa temannya itu memesankan minuman untuk Juna. Mereka semua terlihat memesan bir dan vodka saat itu.
...----------------...
Happy reading guys🤗
ini adalah karya ke dua aku yah, mampir kesini dan nantikan kelanjutan kisahnya ❤️❤️
✓Ditunggu saran dan kritik yang membangun buat othor
__ADS_1
✓Ditunggu like dan fav buat othor ya
✓Ditunggu hadiah bunga sekebonya juga❤️❤️❤️