Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku

Dia Benalu Dalam Rumah Tanggaku
Kehilangan lagi


__ADS_3

"Maaf kami sudah mengerahkan yang terbaik untuk istri anda, tapi Tuhan berkehendak lain!"


Suara dokter Frans.


Dipagi hari yang masih berselimut kabut tipis dan udara pagi yang begitu sejuk, Juna harus menerima sebuah kenyataan pahit yang tak pernah terlintas dibenaknya sedikitpun.


"Terimakasih dok, untuk semua usahanya" ucapnya dengan nada yang berusaha tegar sekuat mungkin.


Langkah kakinya membawa masuk kedalam ruangan Pricilia, disana dengan kain putih wajah Pricilia sudah tertutup sempurna. Dengan lirih ia pun membuka wajah cantik istrinya itu.


Dia menatap penuh dengan lekat setiap wajah Pricillia saat itu, wajahnya putih pasih dan begitu bersih. Dalam tidur terakhirnya, wanita itu menyunggingkan sebuah senyuman untuk siapapun yang melihatnya.


"Sayang, aku sudah merelakanmu pergi"


"Jika memang ini membuatmu merasa bahagia tanpa kesakitan, aku juga bahagia!"


"Pergilah ..."


Sebuah kata perpisahan terucap dari bibir Juna yang telah menyiapkan mentalnya begitu kuat. Meski hatinya begitu remuk, tapi ia sadar betul jika sang putra masih membutuhkan seluruh kekuatannya saat ini.


Karena kepergian istrinya begitu mendadak, dan mereka berdua pun belum mempersiapkan sebuah nama secara bersama. kali ini dengan menggendong putranya dihadapan jenazah sang istri , Juna menyematkan sebuah nama untuk sang putra.


Abimanyu, yah itu adalah nama yang telah diputuskan oleh Juna untuk sang putra.


*


*


*


"Pergi dari rumah ini !"


"Saya tidak pernah sudi melihat wajah anda!"


beberapa koper milik Citra tengah melayang di hadapannya. wanita pemilik vila yang telah ia sewa disana, mengamuk dengan gahar. Bagaimana tidak, ibu dari Willi itu sangat tidak terima setelah ia harus kehilangan sang anak yang kini telah mendekam dipenjara akibat perbuatan Citra.


"Pergi jauh dari sini !" ujarnya sekali lagi dengan menunjuk ke wajah Citra.


Akibat keributan itu, beberapa orang warga setempat terpancing untuk melihat aksi ibu Wili tersebut. Dan tak dapat dipungkiri lagi, jika Citra menjadi bahan tontonan mereka semua.


Citra yang sudah tak kuasa menahan rasa malunya, menyeret koper miliknya masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobil itu dengan segera.


"Sialan!, beraninya dia mengusirku!" umpat Citra.


Sampai saat ini, dirinya begitu labil dalam menyikapi semua persoalan hidup. Dan tak pernah terbayangkan juga olehnya, jika hidupnya akan berantakan seperti ini setelah bebas dari penjara.


Setelah cukup lama berputar-putar dijalan dan tak tau hendak kemana, Citra memutuskan untuk menepi sebentar dan menjernihkan pikirannya.


Baru beberapa saat dirinya disana, dia melihat keberadaan Juna yang tengah menggendong anaknya menuju ke dalam sebuah taxi pesanannya.


"Juna!" pekiknya dalam mobil.


"Aku akan mengikutinya"


Citra lalu memutuskan untuk mengikuti mobil itu dari belakang. Mobil itu berhenti tepat didepan rumah yang telah disewa Juna dan Pricilia.


"Rumah?"

__ADS_1


"Lalu anak siapa yang sedang berada digendongnya!"


Citra masih saja bingung dengan sejuta tanya, karena disana tak terlihat seorang wanita mendampingi Juna. Ia yang masih penasaran, segera turun dari dalam mobil dan berteriak ke arah Juna .


"Juna!"


"Juna ...!"


Setelah ke dua kalinya, suara Citra didengar oleh Juna.


"kamu!" ucap Juna.


Betapa terkejutnya ia ketika melihat sang mantan istri telah menemukan dirinya disana.


"Siapa anak ini?"


"Dan rumah ini?"


Citra melontarkan semua pertanyaannya dengan cepat tanpa jeda.


"Dia adalah putraku!"


"Yah, dan ini rumah kami" jelas Juna.


"Putra!, rumah kamu?!" tanyanya.


Karena mereka tengah mengobrol diteras rumah, matahari yang telah menyingsing tinggi sangat cukup terik waktu itu. Dan Abimanyu menangis karena terkena teriknya panas disana.


"Oek ... oek ... oek" tangisnya begitu kencang.


"Mungkin dia lapar" sahut Citra.


"Buatkanlah dia susu, aku akan membantumu menggendongnya"


Dirinya yang telah bertemu dengan Juna, tak ingin jika sampai menyiakan kesempatan ini untuk mendapatkan sebuah informasi yang sangat begitu ia inginkan.


Ketika Juna telah masuk kedalam, Citra pun mengikuti dirinya dari belakang dan kali ini telah terlihat duduk disana tanpa harus dipersilahkan terlebih dahulu.


"Serius?"


"Dia bisa hidup dirumah sekecil dan sesempit ini?!"


Matanya mulai berkeliling ke setiap penjuru rumah itu.


"Baguslah jika kamu sudah masuk"


"Aku akan ambilkan minum untukmu"


"Tidak perlu, santai saja."


"Berikan susunya!"


Botol susu yang telah dipegang oleh Juna, di ambil cepat dengan Citra. Kali ini, dia ingin terlihat sempurna dihadapan Juna kembali.


"Dia baru saja kehilangan ibunya" tutur Juna pelan.


"Oh, apa kamu mengangkat dia sebagai anak?" sahut Citra tanpa berpikir.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakannya jika ia adalah anakku bukan?!" timpal Juna dengan nada kesal.


Sontak ucapan Juna membuat Citra terdiam beberapa saat. Wanita yang tengah berpura-pura dihadapannya itu mencoba memutar otaknya untuk merayu Juna kembali.


"Dia punya mama, maafkan tante ya sayang" ucapnya merayu ke arah Abimanyu.


"Abimanyu adalah putraku bersama Pricilia" ujar Juna tegas.


Saat dirinya terkejut mendengar sebuah pengakuan Juna, Citra refleks melepaskan botol susu Abimanyu dari tangannya dan botol itu menimpa wajah kecil Abimanyu.


"Berhati-hatilah"


"Jangan ceroboh seperti itu!"


Juna mengambil putranya dari dalam gendongan Citra. sementara Citra masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, dia mencoba mengingat kembali dimana terakhir kali peristiwa yang dulu ia alami bersama Juna dan Pricilia. Setelah semua gambaran peristiwa itu tergambar dengan jelas, barulah ia menyadari semuanya.


"Jadi, memang benar selama ini dirimu telah berselingkuh di belakangku!"


"Hingga kalian berdua sudah memiliki anak dari hubungan gelap kalian?!"


"Tega sekali dirimu!" ujar Citra meluapkan segala isi hatinya.


Juna hanya menatap wanita itu dengan pandangan sendu dan terus menimang Abimanyu, setelah dirinya tertidur Juna lalu meletakkan sang putra di dalam kamar.


"Coba katakan padaku, lalu apa tujuanmu datang kemari?"


"Apa hanya ingin membahas yang telah lalu?"


"Jika ia, pergilah. bukankah semua sudah cukup jelas bagimu"


"Dan aku rasa, semua itu tidak perlu di ulang kembali"


Lelaki itu sudah kehilangan kesabarannya saat ini, dengan sebuah dorongan ia memaksa tubuh Citra keluar dari dalam rumah itu. Ia ingin hanya menghabiskan waktu ini berdua dengan anaknya saja, karena hatinya tengah berduka.


"Juna, buka pintunya. buka ...!" teriak Citra yang tak terima dengan perlakuan dirinya.


Tapi sekencang apapun teriakannya, semua itu hanya angin lalu bagi Juna saat ini.


...----------------...


Bersambung ♥️


*


*


*


...Jangan lupa buat mampir ke karya bestie cantik ini ya guys, rekomendasi cerita yang sangat menarik untuk dibaca ♥...



Daily adalah gadis pendiam yang tidak banyak ulah bahkan jarang sekali keluar rumah. Berbeda dengan saudara kembarnya yang bernama Daisy, gadis itu adalah gadis liar yang kerap kali keluar malam dan pulang begitu larut.


Lalu bagaimana jadinya? Jika Daily harus menderita karena hukuman atas apa yang dilakukan oleh saudara kembarnya?


Gadis malang itu berakhir di lecehkan oleh seorang Casanova yang tidak dikenalnya. tak hanya itu, gadis malang itu harus terima nasib di asingkan dan juga di siksa di tempat yang jauh dari keramaian oleh Frans Nicolas sang Casanova gila yang memiliki dendam pada kakak kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2