
Langkah kaki seseorang terdengar kian lama kian jelas, zara tahu pasti, itu adalah langkah kaki suaminya yang baru kembali. Zara menghapus jejak air matanya yang membasahi pipi, ia berpura-pura tidur karna tak ingin arroy melihat mata merahnya.
“ udah makan belum ra? Makan dulu yu?”
Suara ajakan arroy terdengar begitu jelas namun zara enggan membuka matanya.
“ra, zara, makan dulu” Ajak arroy tak menyerah, ia tahu istrinya belum makan malam dan hanya pura-pura tudur.
“Mmm.. Aku sangat mengantuk, tolong biarkan aku tidur” Saut zara dengan suara serak dan mata yang terpejam seolah ia benar-benar mengantuk sampai sulit membuka mata.
Arroy duduk diatas tempat tidur, ia membelai rambut zara dengan lembut membuat zara perlahan benar-benar terlelap.
Suara alunan gitar dan tepukan tangan yang seirama terdengar membangunkan zara dipagi hari
“ Kudatang, mencari satu alasan,
Tuk menepis semua keraguan di dalam hatiku ini”
Suara seorang pria terdengar merdu ditelinga, menumbuhkan rasa penasaran yang menuntun zara menuju halaman belakang rumah.
“Benarkah, bahwa cinta mampu mengobati segala rasa sakitku ini
Ingin kupercaya, ingin kupercaya...
Kau bilang cinta slalu mengerti...
__ADS_1
Kau bilang cinta tak salah...
Kau bilang cinta kan saling percaya
Nanana. Oohh.”
Zara berdiri dipintu, dilihatnya arroy yang tengah bermain gitar dan bernyanyi diiringi tepukan tangan anak-anak yang mengikuti irama1.
“Kukira kutakkan mampu sadari,
Ketulusan cinta yang sempurna dibalik semua kekurangan ini...”
Arroy melirikan matanya menatap zara intens membuat zara tersipu.
“Namun denganmu, kutau cinta kan mengobati segala hampa hatiku ini
Kuyakin cinta slalu mengerti...
Kuyakin cinta tak salah...
Kuyakin cinta kan saling percaya
Nanana... oohh...
Yakinlah cinta slalu mengerti
__ADS_1
Yakinlah cinta tak salah
Yakinlah cinta kan saling percaya
Nanana... Oohh.”
Setelah lagunya berakhir anak-anak bertepuk tangan bersorak dengan gembira, mereka memeluk arroy dan berterima kasih untuk nyanyian indah yang telah mereka dengar. Arroy mengembalikan gitar kepada salah seorang anak kemudian mereka berlarian membubarkan diri.
“ maaf jika aku membangunkanmu, tadi itu bianka memintaku untuk bermain gitar dan bernyanyi” Ucap arroy sambil berjalan mendekati zara
“ tak apa, setidaknya suaramu merdu jadi tidak merusak gendang telingaku” ucap zara bercanda
Arroy senang melihat zara tersenyum, ia meminta zara untuk bersiap dan segera menyusulnya keruang makan untuk sarapan.
Ketika zara hendak merias diri ia lebih fokus memperhatikan bekas kecupan dilehernya yang belum hilang.
“ sudah,, tidak usah dilihat lagi, lukanya tidak akan hilang dengan kau terus memperhatikanya seperti itu” ucap arroy yang datang membawa kotak obat.
Zara yang terkejut bergegas menutupi tanda merah itu. Arroy duduk diatas meja rias dengan membelakangi kaca, ia menyingkirkan tangan zara dan mengoleskan salep diatas tanda merah itu.
“ Aku sudah menyingkirkan serangga dirumah kita, jangan hawatir kau tidak akan digigit serangga lagi, lihatlah! sampai merah begitu, tanda merahnya tidak akan hilang dengan cepat jika kau tidak mengoleskan salep ini dengan teratur” ucap arroy
Suaranya yang tegas menggambarkan kekesalannya, namun zara tidak menyadari itu. Rasa cemburu yang membakar hati arroy sudah tak tertahankan lagi, ia meminta maaf pada zara karna tidak bisa menemaninya sarapan kemudian bergegas pergi dari sana.
Arroy pergi dengan membawa motornya, ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia bahkan tidak mengurangi kecepatannya di jalanan yang ramai, ia mengendarai motor tanpa mengindahkan keselamatannya sendiri seperti orang gila.
__ADS_1
Arroy pergi ke tempat favoritnya untuk mengganti suasana hatinya. Ya! Perasaannya sudah terkoyak sejak semalam, rasanya semakin sesak karna ia terus menahannya. Arroy tahu pasti, tanda merah dileher istrinya bukan diakibatkan oleh serangga, ia bahkan berpikir bahwa semalam zara menangis nasibnya yang tak bisa bersama dengan pria yang ia cintai karna sudah menjadi istrinya.